Berita

Ilustrasi Hotel Bali. (Foto: Accor)

Bisnis

Bongkar Praktik Shadow Economy WNA di Bali, Hotel Lokal Terancam Kalah Saing

SABTU, 19 SEPTEMBER 2026 | 20:31 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Maraknya ratusan hotel dan villa di Bali yang  dijual diduga berkaitan dengan praktik shadow economy yang melibatkan jaringan usaha warga negara asing (WNA).

Pengamat pariwisata sekaligus Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari mengatakan shadow economy merupakan aktivitas ekonomi yang tidak sepenuhnya tercatat dalam sistem resmi. 

Ia menduga praktik tersebut telah berlangsung di Bali sebelum 2025, tetapi belum mendapat perhatian memadai dari pemerintah.


"Karena adanya fenomena shadow economy ini meletus. Tapi banyak orang tidak paham. Kenapa tidak paham? Nah inilah termasuk Menteri Pariwisata ya tidak paham The shadow economy sudah terjadi," kata Azril kepada RMOL pada Sabtu, 19 September 2026.

Menurutnya, ada praktik usaha akomodasi yang didanai dan dikelola WNA, tetapi menggunakan nama warga lokal.

Salah satu indikasinya adalah ketidakseimbangan antara ramainya aktivitas wisatawan asing di Bali dengan tingkat keterisian kamar hotel.

Ia mencontohkan, kemacetan dan persoalan sampah di sejumlah kawasan wisata yang tidak selalu sejalan dengan tingkat keterisian kamar atau bed occupancy rate (BOR) yang disebutnya hanya sekitar 70 persen, bahkan belum mencapai 80 persen.

"Jadi (okupansi) hanya sekitar 70 persen. Jadi tidak sampai 80 persen. Padahal Bali bahkan penuh, banyak orang dan macet. Itu suatu paradoks," ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan riset lapangan yang dilakukannya, terdapat villa, homestay, hingga resort yang melibatkan WNA dalam pendanaan maupun pengelolaannya.

Sebagian usaha tersebut, kata Azril tidak sebatas menyediakan tempat menginap. Sejumlah layanan lain, mulai dari transportasi, konsumsi, hingga penukaran uang, diduga turut ditawarkan dalam satu paket kepada wisatawan.

"Jadi bukan hanya akomodasi saja, tapi juga transportasi, termasuk usaha-usaha lain, termasuk konsumsi. Nah itu mereka siapkan juga sampai makanannya, jadi all in," tuturnya.

Azril menilai, apabila kegiatan usaha tersebut tidak terdata dan diawasi dengan baik, pemerintah berpotensi kehilangan penerimaan pajak dari aktivitas ekonomi pariwisata.

Karena itu, ia mendorong pendataan dan pengawasan menyeluruh terhadap pelaku usaha akomodasi, termasuk menelusuri kepemilikan, sumber pendanaan, serta kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan.

Ia juga menyoroti pengawasan terhadap WNA yang diduga menjalankan kegiatan usaha menggunakan izin kunjungan.

"Kalau visa turis atau visa kunjungan kan tidak boleh berusaha. Tapi siapa yang mengawasi? Kita? Ini lah permasalahannya,"katanya.

"Jadi artinya bahwa terjadinya ini sudah fenomena ini sudah terjadi lama sekali sebenarnya di jalan lampu kuning itu tapi warning kita tidak berbunyi. Jadi kalau dibilang tadi alarmnya bagaimana? Alarmnya tidak berbunyi," tandasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

SOFA Siapkan Rp131 Miliar untuk Proyek Sampah Jadi Energi

Sabtu, 19 September 2026 | 14:14

Menimbang Kembali POD South Andaman

Sabtu, 19 September 2026 | 13:46

Prabowo Teriak “Free Palestine” Tiga Kali, Singgung Indonesia Tak Berdaya Bantu Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 13:45

HUT ke-81 TNI di Monas, Prabowo Dijadwalkan Jadi Irup

Sabtu, 19 September 2026 | 13:27

Kejagung Turun Tangan Kawal Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,986 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 13:24

Saham BMW Anjlok 4,46 Persen

Sabtu, 19 September 2026 | 12:59

Ratusan Hotel di Bali Bangkrut Lalu Dilego

Sabtu, 19 September 2026 | 12:36

Penanaman Pohon Bukti Nyata Kontribusi Alumni Unpad

Sabtu, 19 September 2026 | 12:17

Pasar Minggu Bakal Disulap Jadi Kawasan Terintegrasi, Investasinya Rp1 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 12:13

Jarnas Prabowo-Gibran Minta Kebun Sawit Rakyat di Kawasan Hutan Tak Digusur

Sabtu, 19 September 2026 | 11:45

Selengkapnya