Berita

Komunitas Republik Kandang Babi. (Foto: Dok. Pribadi)

Nusantara

Republik Kandang Babi Tegaskan Tidak Berpolitik Praktis

SABTU, 19 SEPTEMBER 2026 | 15:44 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Republik Kandang Babi (RK13) menegaskan tidak ingin terlibat politik praktis. Komunitas yang lahir dari sebuah rumah di Sragen, Jawa Tengah ini memilih fokus membangun ruang kreatif, kultur, kegiatan sosial, dan kolaborasi publik.

Pendiri RK13, Ares, mengatakan istilah Republik dalam nama RK13 tidak berkaitan dengan aktivitas politik. Kata tersebut merujuk pada res publica yang dimaknai sebagai sesuatu berkaitan dengan kepentingan atau ruang publik.

"RK13 tidak akan dan tidak ada keinginan sama sekali untuk terikat, terjun, atau menyentuh politik praktis. Itu bukan bagian dari ide RK13," tegas Ares dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 19 September 2026.


Ares menegaskan, RK13 memosisikan diri sebagai ruang terbuka bagi berbagai individu, kelompok, klub, komunitas, hingga entitas yang memiliki semangat kebersamaan dan kreativitas.

"Republik itu dari res publica, sesuatu untuk publik. Jadi bagi kami ini adalah ruang publik. RK13 tidak ingin dibatasi hanya sebagai gerakan, kelompok, organisasi masyarakat, atau kategori tertentu," jelasnya.

Nama Republik Kandang Babi sendiri berawal dari rumah Ares di Sragen yang kala itu dalam kondisi berantakan. Tempat tersebut kemudian menjadi ruang berkumpul sejumlah kawan yang bekerja di dunia internet, mulai dari programmer, pentester, bug hunter hingga trader Bitcoin.

Aktivitas mereka sempat memunculkan beragam anggapan dari masyarakat sekitar. Bahkan, sebagian warga sempat mengira rumah tersebut berkaitan dengan praktik "babi ngepet".

"Awalnya dari rumah saya di Sragen yang benar-benar tampak seperti kandang babi, berantakan, kumuh, dan jelek pada saat itu. Tapi di sana terlahir banyak gagasan tentang kebersamaan," ujar Ares.

Alih-alih menghindari stigma tersebut, nama Kandang Babi kemudian diambil dan dikembangkan menjadi identitas bersama. Seiring waktu, RK13 berkembang melalui berbagai aktivitas, mulai dari touring, kegiatan sosial, kreativitas, produksi konten hingga kolaborasi.

Ares mengatakan RK13 tidak mengenal istilah anggota. Orang-orang yang terlibat disebut "kawan-kewan" dan keberadaan mereka tidak ditentukan oleh kartu anggota ataupun struktur organisasi.

"Yang menarik adalah mereka tidak risih menjadi bagian dari sesuatu yang secara eksplisit menyebut BABI. Ada yang berkarya, ada yang berpikir, ada yang menyuarakan keresahan, bahkan ada yang hanya menempel stiker. Semua itu punya makna," katanya.

Dalam perkembangannya, motor kustom dan motor klasik juga menjadi salah satu medium ekspresi kawan-kewan RK13. Kendaraan tersebut banyak dibangun dengan pendekatan Do It Yourself (DIY) dan dipandang sebagai bagian dari kultur serta kreativitas.

RK13 juga menegaskan karakter kritisnya tidak secara khusus diarahkan kepada pemerintah. Kritik ditujukan terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan publik.

"RK13 tidak hanya mengkritisi pemerintah. RK13 kritis terhadap apa saja yang bersifat publik," tegas Ares.

RK13 tidak berkepentingan meluruskan seluruh tafsir publik terhadap identitas mereka. Menurutnya, komunitas tersebut lebih memilih menunjukkan identitas melalui karya dan aktivitas yang dilakukan.

"RK13 jarang mengklarifikasi karena memang bukan tugas RK13 untuk memperbaiki kesalahpahaman dari multitafsir," ujarnya.

Meski kritis, RK13 juga tidak ingin berhenti sebagai kelompok yang hanya menyampaikan kritik. Ares menekankan pentingnya gagasan dan tindakan untuk memberikan manfaat bagi publik.

"RK13 tegas tidak ingin menjadi pengkritik tanpa menyalakan ide-ide dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk publik," katanya.

Karena itu, kegiatan sosial, perjalanan, kreativitas, produksi konten, kolaborasi, hingga berbagai eksperimen menjadi bagian dari aktivitas RK13. RK13 juga ingin membangun skenanya sendiri dan meninggalkan jejak melalui pendekatan berbeda dari pola-pola lama.

"RK13 lebih ingin membangun skena semestanya sendiri dan dikenang sebagai legenda dengan hal-hal yang tidak bisa dijalankan dengan cara-cara lama," pungkas Ares, yang juga pemilik akun Instagram @DevilData.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

SOFA Siapkan Rp131 Miliar untuk Proyek Sampah Jadi Energi

Sabtu, 19 September 2026 | 14:14

Menimbang Kembali POD South Andaman

Sabtu, 19 September 2026 | 13:46

Prabowo Teriak “Free Palestine” Tiga Kali, Singgung Indonesia Tak Berdaya Bantu Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 13:45

HUT ke-81 TNI di Monas, Prabowo Dijadwalkan Jadi Irup

Sabtu, 19 September 2026 | 13:27

Kejagung Turun Tangan Kawal Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,986 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 13:24

Saham BMW Anjlok 4,46 Persen

Sabtu, 19 September 2026 | 12:59

Ratusan Hotel di Bali Bangkrut Lalu Dilego

Sabtu, 19 September 2026 | 12:36

Penanaman Pohon Bukti Nyata Kontribusi Alumni Unpad

Sabtu, 19 September 2026 | 12:17

Pasar Minggu Bakal Disulap Jadi Kawasan Terintegrasi, Investasinya Rp1 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 12:13

Jarnas Prabowo-Gibran Minta Kebun Sawit Rakyat di Kawasan Hutan Tak Digusur

Sabtu, 19 September 2026 | 11:45

Selengkapnya