Berita

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. (Foto: Setpres RI)

Politik

Video Seskab Teddy Jadi Pelajaran Jangan Pahami Peristiwa Cuma dari Potongan

JUMAT, 18 SEPTEMBER 2026 | 19:15 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Masyarakat diingatkan untuk tidak terburu-buru memahami sebuah peristiwa hanya dari potongan video atau clipper yang beredar di media sosial.

Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio alias Hensa  mengatakan, perkembangan teknologi komunikasi membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga perlu dibarengi kehati-hatian karena informasi yang diterima belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita.

“Di era teknologi komunikasi saat ini, di era media sosial, di era homeless media, memang harus berhati-hati dalam mencerna sebuah cerita. Cerita harus dilihat secara utuh dan jelas,” kata Hensa, Jumat, 18 September 2026.


Ia mengatakan, masyarakat saat ini kerap menemukan suatu peristiwa melalui video-video pendek. Persoalannya, potongan tersebut tidak selalu menyertakan konteks secara keseluruhan.

“Terkadang cerita yang kita dapat hanya setengah-setengah karena hanya melihat clipper-clipper yang dibuat untuk menarik perhatian,” ujarnya.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai fenomena tersebut tidak lepas dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten di media sosial.

Menurut dia, cerita atau komunikasi dengan durasi panjang cenderung lebih jarang ditampilkan karena dianggap dapat membuat pengguna media sosial bosan hingga menghabiskan lebih banyak kuota internet. Akibatnya, pembuat konten lebih memilih membuat potongan-potongan video singkat yang dinilai lebih mudah mendapatkan perhatian.

“Jadi biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain. Sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP,” kata Hensa.

Namun, menurut dia, ada hal penting yang berpotensi hilang ketika sebuah peristiwa hanya disajikan dalam bentuk potongan-potongan singkat tersebut. Kondisi semacam itu dapat membuat masyarakat mendapatkan cerita setengah-setengah dan akhirnya memahami sebuah kejadian secara berbeda apabila tidak mencari konteks lengkapnya.

Salah satu contoh terbaru, menurut dia, dapat dilihat dari ramainya video Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai.

Dalam potongan video yang beredar, Teddy terlihat meminta sejumlah pihak, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait, untuk berpindah tempat. Cara Teddy memberikan arahan tersebut kemudian menjadi perhatian sebagian masyarakat.

“Nah, salah satu yang terbaru contohnya adalah cerita Seskab Teddy yang ramai diperbincangkan saat peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai. Ia ramai disebut meminta Direktur LRT pindah tempat, namun caranya mungkin tidak enak bagi sebagian masyarakat jika dilihat videonya,” ujar Hensa.

Namun, Hensa mengatakan terdapat cerita lain yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Menurut penjelasan yang disampaikan Seskab Teddy, pengaturan posisi di dalam gerbong dilakukan untuk memberikan ruang agar para penyandang disabilitas dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Dengan demikian, para penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Presiden serta Gubernur Jakarta.

“Nah, kan ternyata cerita sesungguhnya ada di balik itu, bahwa ada keinginan dari aparat atau pemerintah untuk mendekatkan saudara-saudara kita penyandang disabilitas ke Presiden Prabowo dan Gubernur Pramono Anung supaya para saudara kita yang menyandang disabilitas ini bisa berkomunikasi, berdialog dengan Presiden dan Gubernur,” kata Hensa.

Menurut dia, konteks tersebut tidak terlihat apabila masyarakat hanya menyaksikan potongan video yang lebih dahulu beredar.

“Tapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Kereta Api dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya,” ujarnya.

Hensa menegaskan fenomena semacam itu tidak hanya terjadi dalam kasus Teddy. Menurut dia, berbagai peristiwa lain juga dapat dipahami secara tidak lengkap apabila masyarakat hanya mengandalkan potongan video.

“Hal ini juga sering terjadi di beberapa case clipper-clipper tidak lengkap yang ada di masyarakat,” kata dia.

Karena itu, Hensa mengajak masyarakat membiasakan diri mencari dan menyaksikan informasi secara lengkap sebelum menarik kesimpulan terhadap sebuah peristiwa.

“Maka mari kita biasakan mendengarkan, melihat, menyaksikan cerita lengkap dibandingkan hanya melihat clipper-clipper saja,” pungkasnya.




Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

UPDATE

Kapolri Resmi Larang Seluruh Polisi Pakai Vape

Minggu, 01 November 2026 | 21:51

Ketidakpuasan terhadap Kinerja Pemerintah

Minggu, 01 November 2026 | 21:33

Gaduh Penggeledahan Pesantren, Polri Libatkan Propam

Minggu, 01 November 2026 | 20:41

Dua Nasabah Gugat AIA Financial ke PN Jaksel

Minggu, 01 November 2026 | 20:18

Mantra Mahasiswa dan Mengapa Rakyat Sering Kali Dikalahkan?

Minggu, 01 November 2026 | 19:36

KB Bank Syariah Digugat ke Pengadilan

Minggu, 01 November 2026 | 18:39

Pakar Tata Negara Bongkar Efek Putusan MA Terhadap Nasib Gibran

Minggu, 01 November 2026 | 18:15

Cancel Culture RANS-Willie Salim Contoh Kemarahan Publik

Minggu, 01 November 2026 | 17:41

Lulusan Trisakti Didorong Jadi Generasi Inovatif dan Berjiwa Wirausaha

Minggu, 01 November 2026 | 17:23

Elemen Umat Islam Harus Bersatu Perkuat Ekonomi melalui Koperasi

Minggu, 01 November 2026 | 17:00

Selengkapnya