Berita

Dr. Muhammad Aras Prabowo. (Foto: Istimewa)

Politik

Pergantian Menteri Keuangan Bukan Soal Figur, tapi Tantangan Fiskal

RABU, 16 SEPTEMBER 2026 | 22:05 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Pergantian Menteri Keuangan Republik Indonesia semestinya tidak berhenti pada pergantian figur di dalam kabinet. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali bagaimana kebijakan fiskal dan APBN dibangun, terutama dalam menjawab agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto sekaligus menjaga kesinambungan dan akuntabilitas keuangan negara.

Menurut pengamat akuntabilitas Dr. Muhammad Aras Prabowo, persoalan fiskal Indonesia tidak semata-mata terletak pada siapa yang memegang kendali Kementerian Keuangan. 

Katanya, tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menyelaraskan besarnya agenda pembangunan dengan kapasitas fiskal negara.


“Problem fiskal kita jauh lebih struktural, ketika ambisi program bergerak lebih cepat daripada kapasitas APBN, maka ruang fiskal akan tertekan dan kesinambungan kebijakan menjadi sulit dibangun,”ujar Aras kepada wartawan, Rabu 16 September 2026.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia melihat bahwa APBN pada dasarnya merupakan instrumen utama negara untuk menerjemahkan visi pembangunan ke dalam program yang konkret. 

"Karena itu, APBN tidak dapat diperlakukan sekadar sebagai instrumen pembiayaan atas seluruh agenda pemerintah," katanya.

Menurutnya, setiap kebijakan fiskal harus mempertimbangkan kemampuan penerimaan negara, ruang belanja, risiko pembiayaan, manfaat publik, serta konsekuensi jangka panjangnya.

Di titik inilah konsep asitinajang dalam nilai budaya Bugis menjadi relevan. Asitinajang dapat dimaknai sebagai kepatutan, kewajaran, kepantasan, dan penempatan sesuatu secara proporsional. 

Dalam konstruksi nilai lempu, konsep tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan kejujuran, keteguhan, kecakapan, keberanian, dan tanggung jawab moral.

Dalam perspektif Aras, prinsip tersebut dapat ditransformasikan menjadi etika dalam pengelolaan keuangan negara.

Dia menekankan, dalam perspektif akuntabilitas, APBN bukan sekadar soal dari mana uang diperoleh dan ke mana uang dibelanjakan. 

"Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap kebijakan masih berada dalam batas kewajaran dalam nilai Bugis disebut asitinajang yakni patut, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan,”katanya.

Karena itu, sambungnya, ekspansi fiskal tidak selalu berarti sesuatu yang keliru. Negara tetap membutuhkan keberanian untuk membiayai program strategis, membangun infrastruktur, memperkuat ketahanan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menjalankan agenda prioritas nasional.

Menurut Aras, perubahan kebijakan yang terlalu cepat, radikal, dan reaktif berpotensi membuat APBN kehilangan konsistensi sebagai instrumen perencanaan pembangunan. Kebijakan fiskal membutuhkan kesinambungan karena dampaknya tidak selalu berhenti dalam satu tahun anggaran.

“Kalau perubahan kebijakan fiskal terlalu radikal dan reaktif, siapapun Menteri Keuangannya akan sulit membangun kebijakan yang sustainable. Jangan sampai menteri baru diberi tugas menagih akuntabilitas atas keputusan yang sejak awal tidak dibangun dengan prinsip asitinajang,” demikian Aras.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya