Berita

Ilustrasi

Bisnis

Kenaikan Harga Minyak Dunia Bikin Rupiah Semakin Tertekan

SENIN, 14 SEPTEMBER 2026 | 11:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ekonom Ferry Latuhihin mewanti-wanti tekanan dahsyat terhadap nilai tukar rupiah menyusul lonjakan harga minyak dunia yang menembus 100 dolar AS per barel.

Ferry mengatakan, kenaikan harga minyak dari sebelumnya di bawah 100 dolar AS menuju 108 dolar AS per barel telah membuat pasar keuangan global panik. 

"Ada sesuatu yang mengejutkan dunia sejak kemarin, yaitu terbangnya harga minyak dunia dari bawah 100 menuju ke 108. Ini membuat pasar panik. Dolar sudah loncat lagi ke atas 17.600," kata Ferry lewat kanal Youtube Forum Keadilan TV, Senin, 14 September 2026.


Menurutnya, kondisi tersebut semakin berbahaya ketika dikombinasikan dengan tingginya imbal hasil US Treasury yang berada di kisaran 5 persen. Kombinasi antara kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dan harga minyak mentah yang berada di atas 100 dolar AS menciptakan skenario terburuk bagi pasar keuangan.

"Ini akan menciptakan suatu skenario yang saya sebut worst case scenario," ujarnya.

Ferry menyebut situasi tersebut sebagai double squeeze bagi pasar keuangan. Lonjakan yield obligasi AS berpotensi mendorong terjadinya arus modal keluar dari negara-negara berkembang, sementara kenaikan harga energi memicu tekanan inflasi.

Menurut Ferry, tekanan terhadap rupiah akan semakin berat apabila harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar AS. Kondisi tersebut berpotensi membuat investor asing mengurangi minat menempatkan dananya di Indonesia.

"Rupiah akan mengalami tekanan pelemahan yang sangat dahsyat bila harga minyak tetap di atas 100 dolar AS," tegasnya.

Ia menjelaskan, investor asing cenderung melakukan flight to quality dengan melepas aset-aset di pasar negara berkembang dan mengalihkan dana ke dolar AS serta obligasi pemerintah Amerika Serikat yang dianggap lebih aman.

Dalam kondisi tersebut, Ferry menilai ruang Bank Indonesia untuk merespons tekanan rupiah melalui kenaikan suku bunga acuan semakin terbatas.

"Oleh karena itu rupiah ini akan mendapat tekanan yang sangat dahsyat dan kita tidak lagi punya kesempatan untuk menaikkan BI Rate," katanya.

Ferry mengatakan, langkah yang tersisa bagi Bank Indonesia adalah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, kebijakan tersebut memiliki risiko terhadap cadangan devisa nasional.

"Jadi yang bisa dikerjakan oleh BI mati-matian adalah intervensi. Dan intervensi itu mengikis cadangan devisa kita, jadi sangat berbahaya sekali," tandasnya.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya