Berita

Buku berjudul 'Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam'. (Foto: Istimewa)

Politik

Buku 'Islam ala Prabowo' Potensi Jadi Senjata Perang Nirmiliter

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 05:51 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Publik masih menyoroti buku 'Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam'.

Buku yang pertama kali terbit pada April 2025 tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah sejumlah pihak memberikan klarifikasi mengenai posisi mereka dalam proses penyusunannya.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengingatkan agar persoalan buku tersebut tidak semata-mata dilihat sebagai perdebatan mengenai judul atau isi buku. 


Menurut Amir, dalam politik kekuasaan modern, terutama ketika seorang pemimpin menghadapi tekanan geopolitik, setiap produk narasi yang membawa nama kepala negara perlu diperiksa secara cermat.

Amir menilai kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan yang semakin kompleks, termasuk apa yang disebutnya sebagai perang nirmiliter.

Dalam perspektif tersebut, perang tidak selalu berlangsung melalui pengerahan pasukan dan persenjataan. Pertarungan dapat berlangsung melalui informasi, opini publik, pembentukan persepsi, infiltrasi sosial, ekonomi, diplomasi, hingga perang psikologis.

Karena itu, menurut Amir, penggunaan nama kepala negara dalam sebuah buku yang mengaitkan dirinya dengan identitas dan nilai keislaman harus dilakukan secara hati-hati.

“Jangan sampai buku ini justru menjadi alat pihak lain untuk menjebak Prabowo atau menciptakan persepsi seolah-olah ada konsep tertentu yang secara resmi berasal dari Presiden,” kata Amir, dikutip Rabu 9 September 2026.

Secara faktual, buku 'Islam ala Prabowo' bukan ditulis oleh Prabowo Subianto.

Katalog Gramedia mencatat buku tersebut disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas dan pertama kali terbit pada April 2025. Buku itu diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House dan memiliki sekitar 346 halaman.

Buku tersebut kemudian diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BAZNAS 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025.

Penulisan buku itu diinisiasi Ketua MPR Ahmad Muzani dan Ketua MUI KH Anwar Iskandar.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan adanya klarifikasi dari sejumlah nama yang dikaitkan dengan buku tersebut.

Dari sisi substansi, buku tersebut menurut informasi penerbit tidak dimaksudkan sebagai pembentukan mazhab atau aliran Islam baru.

Meski demikian, Amir menilai Prabowo tetap perlu berhati-hati.

Menurut dia, perang nirmiliter bekerja dengan cara yang jauh lebih halus dibandingkan perang konvensional.

Salah satu instrumennya adalah membangun persepsi mengenai seorang pemimpin.

Seorang pemimpin dapat dilemahkan bukan melalui serangan langsung, tetapi dengan menciptakan kontroversi di sekelilingnya.

Misalnya, menurut Amir, sebuah narasi dapat dibuat sedemikian rupa sehingga masyarakat melihat seorang pemimpin seolah-olah sedang membangun identitas keagamaan tertentu.

Jika narasi tersebut berkembang tanpa kendali, dampaknya bukan hanya terhadap pemerintah, tetapi juga terhadap hubungan Presiden dengan organisasi keagamaan dan kelompok masyarakat.

Dalam konteks Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Karena itu, Amir menilai hubungan pemerintah dengan kedua organisasi tersebut perlu dijaga secara hati-hati.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya