Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: RMOL Jateng)
Penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau diindikasikan semakin meluas ke wilayah barat Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi pergerakan material abu tersebut berpotensi mengganggu ruang udara dan keselamatan penerbangan.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama meletus pada 4 September 2026.
Berdasarkan dokumen SIGMET per 7 September 2026 pukul 06.30–09.30 WIB, sebaran abu vulkanik teramati membumbung hingga ketinggian 15.000 kaki (4,57 km). Material tersebut bergerak ke arah barat dengan kecepatan 15 knot dan intensitas yang konsisten.
"Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.
Andri memaparkan, pemantauan pada lapisan permukaan hingga ketinggian 15.000 kaki menunjukkan abu vulkanik telah meluas ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah terdampak mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, Bengkulu, serta perairan sekitarnya dan Samudra Hindia.
"Sementara pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki (15,24 km), abu vulkanik teramati melayang lebih jauh di Samudra Hindia sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten serta bergerak menjauhi wilayah Indonesia," jelasnya.
Bandara Ditutup SementaraPergerakan abu vulkanik di udara ini berdampak langsung pada sektor penerbangan. Andri menyebut hasil
paper test pukul 07.00 WIB mengonfirmasi adanya indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandar udara.
Merespons potensi bahaya penerbangan tersebut, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan
Notice to Airmen (NOTAM) hingga pukul 08.30 WIB yang menginstruksikan penutupan sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.
Delapan bandara di wilayah Sumatra dan Jawa yang dihentikan sementara operasionalnya meliputi Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Radin Inten II (Lampung), Bandara Husein Sastranegara (Bandung), Bandara Budiarto (Curug), Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan), Bandara Taufiq Kiemas (Pesisir Barat, Lampung), dan Bandara Atungbusu (Sumatra Selatan).
“Hasil
paper test tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi pemantauan citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan, sehingga memberikan gambaran komprehensif mengenai wilayah terdampak,” tutup Andri.