Berita

Ilustrasi

Politik

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

SABTU, 05 SEPTEMBER 2026 | 20:20 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Penanganan dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto yang menyeret PT Singlurus, menjadi momentum krusial bagi aparat penegak hukum dan Satuan Tugas Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). 

Sebelumnya, Satgas PKH mengungkap keberadaan tambang batu bara ilegal di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim). Berdekatan dengan Ibu Kota Negara (IKN).

Pada Senin 31 Agustus 20, Satgas PKH mengambil alih areal konsesi PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara) PT Singlurus Pratama yang melanggar aturan.  Karena areal tambang batu baranya berada di hutan seluas 111,71 hektare.


Koalisi Pengawal Tata Kelola Pertambangan Seluruh Indonesia (Koptasi) menilai, operasi penertiban di Tahura Bukit Soeharto tidak boleh berhenti pada satu entitas saja. 

Koordinator Koptasi, Aldi mengatakan, sektor hulu hingga hilir tata kelola batubara di Kuala Samboja, Kutai Kartanegara, kini didesak untuk diaudit secara menyeluruh guna membongkar dugaan praktik pencucian dokumen batubara koridoran maupun hasil pengerukan ilegal di dalam kawasan hutan negara. 

Salah satunya, kata Aldi, kasus PT Singlurus bisa dijadikan pintu masuk untuk menelisik kejanggalan serius data produksi dan Laporan Hasil Verifikasi (LHV) pengangkutan batubara milik CV Semoga Surya Sentosa (CV SSS), yang lokasi konsesinya berbatasan langsung dengan area konservasi Tahura. 

Berdasarkan dokumen penelusuran Koptasi yang merujuk pada data resmi pelaporan Minerba Online Monitoring System (MOMS) dan RKAB Kementerian ESDM, realisasi produksi CV SSS sepanjang tahun 2023 hanya tercatat sebesar 7.558 metrik ton (MT). 

Namun, dalam rentang waktu yang sangat singkat pada periode November 2023, terbit enam lembar LHV yang mencatatkan pengiriman batubara sebesar 30.680,728 MT melalui fasilitas pelabuhan (jetty) milik PT Berkah Bara Sejahtera (PT BBS). 

Temuan ini menunjukkan adanya selisih mencolok (discrepancy) sebesar 23.122,728 ton, di mana volume pengapalan pada LHV membengkak hingga 4,06 kali lipat melebihi total produksi resmi tahunan perusahaan tersebut. 

Kata Aldi, pola lonjakan tonase LHV tanpa ditopang kapasitas produksi aktif di lapangan mengindikasikan adanya dugaan penggunaan dokumen "terbang" untuk melegalkan batubara yang ditambang secara tidak sah. 

"Jangan sampai ada batubara yang ditambang secara ilegal baik dari lahan koridoran maupun hasil pengerukan di dalam kawasan Tahura Bukit Soeharto kemudian ditumpangi dokumen perusahaan tertentu sehingga seolah-olah menjadi legal di atas kertas," kata Aldi dalam keterangan tertulis, Sabtu 5 September 2026.

"Kasus PT Singlurus di Tahura mestinya menjadi pintu masuk bagi Satgas PKH dan Kejagung untuk menguji seluruh rantai pasok di Samboja. Dari mana asal 30.680 ton batubara dalam LHV tersebut jika produksi sahnya hanya 7.558 ton? Hal ini wajib dibuka secara terang benderang," tegas Aldi lagi.

Melalui momentum penindakan di Tahura Bukit Soeharto, masih kata Aldi, Koptasi mendesak adanya sinergi audit silang (cross-audit) antara Satgas PKH dan Kejagung untuk mencocokkan peta digital konsesi, catatan penimbangan (weighbridge), logbook dermaga, serta dokumen LHV.

"Langkah ini guna menutup celah kebocoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan menghentikan perusakan kawasan hutan di Kalimantan Timur," tandasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya