Berita

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh. Mirjawal. (Foto: Istimewa)

Kesehatan

Mirjawal: Kematian Sampurna Sinyal Ancaman Kesehatan Masyarakat

SABTU, 05 SEPTEMBER 2026 | 10:53 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Kematian orangutan bernama Sampurna di Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi peringatan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam satwa liar. 

Manusia yang hidup di wilayah terdampak juga menghirup udara yang sama dan menghadapi risiko gangguan kesehatan serupa.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, drh. Mirjawal mengatakan orangutan dapat menjadi salah satu penanda awal atau sentinel terhadap ancaman kesehatan lingkungan.


“Paru-paru orangutan dan paru-paru manusia menghadapi asap yang sama. Ketika satwa liar mulai mengalami gangguan pernapasan berat, kita harus membacanya sebagai peringatan bahwa kondisi lingkungan juga dapat mengancam kesehatan masyarakat,” kata Mirjawal dalam keterangan tertulis, Sabtu 5 September 2026.

Sampurna merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) jantan dewasa. Ia ditemukan lemas dan tidak sadar di kawasan perkebunan sawit di Ketapang pada 30 Agustus 2026. 

BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) segera mengevakuasi Sampurna. Dokter hewan memberikan terapi oksigen dan cairan melalui infus, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya mati pada 1 September 2026.

Hasil nekropsi menemukan perubahan pada beberapa organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Gangguan paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap dan menyebabkan tubuh Sampurna mengalami kekurangan oksigen akut.

Mirjawal mengapresiasi masyarakat, BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, dokter hewan, serta seluruh petugas yang terlibat dalam penyelamatan Sampurna.

“Tim lapangan telah bekerja dalam situasi yang tidak mudah. Upaya mereka patut dihormati karena setiap tindakan penyelamatan juga menghasilkan informasi penting mengenai kondisi kesehatan satwa dan lingkungannya,” ujarnya.

Sampurna tercatat sebagai orangutan ketujuh yang dievakuasi dalam gelombang karhutla tersebut dan menjadi kematian pertama yang tercatat dalam episode kebakaran ini.

Menurut Mirjawal, kondisi Sampurna seharusnya tidak dilihat hanya sebagai satu kasus kematian satwa. Pada saat yang sama, asap karhutla juga mengganggu aktivitas masyarakat, memaksa pembelajaran dilakukan secara daring, dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

“Ketika satwa dan manusia menunjukkan gangguan kesehatan dalam wilayah dan waktu yang sama, datanya harus dibaca secara bersama. Inilah makna nyata pendekatan One Health,” jelasnya.

Dalam pendekatan One Health, informasi mengenai kualitas udara, kesehatan manusia, kondisi satwa, perubahan habitat, dan lingkungan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruh data tersebut perlu dihubungkan agar pemerintah dan para ahli dapat mengenali ancaman lebih cepat.

Peran dokter hewan, lanjut Mirjawal, bukan hanya mengobati satwa yang sakit. Dokter hewan juga perlu membaca perubahan kesehatan satwa sebagai tanda awal adanya tekanan lingkungan dan potensi ancaman bagi kehidupan yang lebih luas.

“Satwa liar tidak dapat menyampaikan bahwa udara yang mereka hirup sudah berbahaya. Kondisi tubuh dan perubahan perilaku merekalah yang berbicara. Kita harus mampu membaca tanda-tanda itu sebelum semakin banyak satwa dan manusia menjadi korban,” katanya.

Mirjawal yang juga Calon Ketua Umum PB PDHI, mendorong penguatan surveilans bersama yang melibatkan sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, lingkungan, konservasi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Kematian Sampurna harus menjadi peringatan bersama. Melindungi kesehatan satwa liar juga berarti menjaga kesehatan ekosistem dan melindungi manusia,” demikian Mirjawal.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya