Relawan kemanusiaan MDMC dan Lazismu di NTT. (Foto: Istimewa)
Gerak cepat Muhammadiyah membantu penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berlanjut.
Sejak gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, Muhammadiyah langsung memobilisasi sumber daya dari berbagai daerah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC).
Tak hanya mengerahkan tenaga medis dan relawan, Muhammadiyah juga menggalang dukungan masyarakat untuk memastikan penanganan korban bencana dapat terus berjalan hingga memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Melalui Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tertanggal 20 Agustus 2026, seluruh masjid Muhammadiyah diinstruksikan melakukan penggalangan dana infak Salat Jumat untuk bantuan kemanusiaan bagi penyintas gempa NTT. Penggalangan dana tersebut telah dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Hingga 3 September 2026, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, Rp3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung berbagai aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah di wilayah terdampak.
Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, mengatakan bahwa dalam merespons aksi kemanusiaan, Muhammadiyah mengerahkan sejumlah klaster layanan, salah satunya bidang kesehatan melalui Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed.
Sebanyak 50 personel EMT dikerahkan untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Tim EMT Muhammadiyah dengan standar World Health Organization (WHO) tersebut bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain EMT Type-1 Fixed, Muhammadiyah juga mengerahkan EMT Mobile untuk menjangkau lokasi-lokasi pengungsian yang tidak terjangkau layanan kesehatan.
“Tim tersebut berasal dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah di Indonesia,” ungkapnya, dikutip Sabtu, 5 September 2026.
Hingga 3 September 2026, layanan EMT Muhammadiyah tercatat telah menangani ribuan penyintas. Rinciannya, 85 pasien bayi, 229 pasien balita, 266 pasien anak, 150 pasien remaja, 2.173 pasien dewasa, 22 pasien ibu hamil, serta 799 pasien lansia.
Dari pemeriksaan di rumah sakit lapangan, sejumlah keluhan kesehatan mendominasi kondisi penyintas.
Sebanyak 437 penyintas dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan. Kemudian 372 penyintas mengalami nyeri otot dan pegal-pegal, 233 penyintas mengalami hipertensi, 186 penyintas mengalami gejala rasa tidak nyaman atau nyeri di sekitar perut, serta 153 penyintas mengalami sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk.
Barry memastikan dukungan kemanusiaan bagi penyintas gempa NTT masih akan terus berjalan.
Menurutnya, dana donasi dan infaq Salat Jumat yang telah dihimpun masyarakat akan terus disalurkan untuk memperkuat respons bencana hingga memasuki tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Hingga Jumat, 4 September 2026, penyaluran dana donasi dan Infaq Salat Jumat masih akan terus dilaksanakan untuk melanjutkan respon dan tahapan rehabilitas-rekonstruksi serta membangun ketangguhan masyarakat,” tutupnya.