Berita

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto (kedua dari kiri).(Foto: Dok. PDIP)

Politik

Hasto Bongkar Kemunduran Demokrasi Indonesia di Forum Asia

SABTU, 05 SEPTEMBER 2026 | 02:01 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kemunduran demokrasi di Indonesia menjadi sorotan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PDIP Hasto Kristiyanto. 

Di hadapan puluhan delegasi dari berbagai negara Asia, Hasto bahkan menyebut Pemilu 2024 sebagai puncak kemenangan populisme otoriter yang dibangun secara bertahap.

Hasto mengingatkan, menguatnya populisme otoriter dapat menggerus institusi demokrasi, melemahkan masyarakat sipil, menekan kebebasan pers, hingga menjauhkan penegakan hukum dari rasa keadilan.


Hal itu disampaikan Hasto saat memberikan keynote address bertajuk “Democracy in the Age of Authoritarian Populism: Strategy through Party Institutionalization” dalam pembukaan CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia sekaligus 9th CALD Party Management Workshop di Karaton Ballroom, Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat 4 September 2026.

Forum internasional yang diinisiasi Council of Asian Liberals and Democrats (CALD), berkolaborasi dengan PDIP dan Friedrich Naumann Foundation (FNF) Asia tersebut diikuti puluhan delegasi dari berbagai negara.

Menurut Hasto, fenomena populisme otoriter kerap menggunakan bahasa dan sentimen kerakyatan untuk memperoleh dukungan. 

Namun, dalam praktik kekuasaan, fenomena tersebut justru dapat melemahkan institusi demokrasi, menekan kebebasan pers, serta menjauhkan penegakan hukum dari rasa keadilan.

Hasto secara khusus menyinggung dinamika demokrasi Indonesia dan Pemilu 2024.

“Norma-norma demokrasi dilanggar, masyarakat sipil diperlemah, dan demokrasi mengalami kemunduran (backsliding),” kata Hasto di hadapan para delegasi.

Mengutip pemikiran Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die, Hasto mengatakan, kemunduran demokrasi dapat terjadi ketika partai politik gagal menjalankan perannya sebagai penjaga gerbang (gatekeepers) demokrasi.

Dalam kondisi demikian, menurutnya, kekuasaan berisiko semakin terkonsentrasi dan tersandera kepentingan oligarki.

“Kita sedih dengan realitas ini, namun ini adalah kritik bagi kita semua untuk memastikan demokrasi bekerja dan rakyatlah yang berdaulat,” kata Hasto.

Untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus membangun resiliensi demokrasi, Hasto menawarkan lima agenda strategis yang berangkat dari pengalaman empiris pelembagaan PDI Perjuangan.

Pertama, Strategi Seluruh Lapisan Masyarakat (Whole-of-Society Strategy). Kedua, Supremasi Hukum (Rule of Law). Ketiga, Pelembagaan Partai Politik secara Substansial.

Keempat, Fasilitasi Pemikiran Kritis dan Penguatan Masyarakat Sipil. Kelima, Demokrasi di Sektor Politik dan Ekonomi.

Menurut Hasto, demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur politik dan pemilu. Demokratisasi juga harus diwujudkan dalam tata kelola ekonomi yang inklusif dengan orientasi utama mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Pada bagian akhir pidatonya, Hasto menayangkan video mengenai gagasan Teori Pelembagaan Partai Pelopor (Avant-Garde Party Institutionalization).

Sejumlah politisi muda PDIP turut hadir, di antaranya Hanjaya Setiawan, Mohamad Guntur Romli, Trini Puspa, dan Rahma Nur Agnitya Charliyan.

Hadir pula jajaran DPD PDIP Daerah Istimewa Yogyakarta serta sejumlah kepala daerah dari PDIP di wilayah Yogyakarta, termasuk Hasto Wardoyo dan Endah Subekti Kuntariningsih.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya