Berita

Anggota Komisi III DPR Fraksi PKB, Hasbiallah Ilyas. (Foto: RMOL/Faisal Aristama)

Politik

Hasbiallah Ilyas:

Kasus Uang Palsu 400 Ribu Dolar Singapura Bisa Rusak Citra RI di Mata Dunia

KAMIS, 03 SEPTEMBER 2026 | 14:11 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kasus peredaran uang palsu (upal) senilai 400 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp5 miliar bisa berdampak terhadap citra Indonesia di mata internasional.

Anggota Komisi III DPR Fraksi PKB, Hasbiallah Ilyas mengatakan, kasus tersebut harus segera diungkap secara tuntas oleh aparat penegak hukum. Terlebih, perkara ini memiliki dimensi lintas negara karena uang palsu tersebut diduga beredar hingga Singapura.

“Kasus ini juga melibatkan teritori Singapura sebagai locus delicti-nya. Jadi kasus ini pasti jadi sorotan internasional juga,” kata Hasbiallah, kepada wartawan, Kamis 3 September 2026.


Menurutnya, penanganan perkara tersebut tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa kejelasan, kasus itu dikhawatirkan menimbulkan persepsi negatif terhadap kepastian hukum di Indonesia.

“Kalau tidak segera dituntaskan malah bisa memberi kesan negatif terhadap kepastian hukum di Indonesia. Ini yang harus kita hindari,” kata Hasbiallah.

Hasbiallah menilai Polres Tangerang Selatan (Tangsel) memiliki kewajiban untuk segera menangani dan mengungkap kasus tersebut. Apalagi, nilai uang palsu yang mencapai 400 ribu dolar Singapura bukan perkara kecil.

“Itu sudah seharusnya, wajib bagi penegak hukum menuntaskan kasus ini,” kata Hasbiallah.

Ia bahkan mempertanyakan jika perkara tersebut tidak diproses secara serius oleh aparat penegak hukum. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat.

“Ada apa? Publik pasti tanda tanya,” kata Hasbiallah.

Selain aspek penegakan hukum, Hasbiallah menyoroti fakta bahwa uang palsu dalam kasus tersebut disebut memiliki kualitas yang tinggi, bahkan mendekati uang asli. Lebih memprihatinkan lagi, uang palsu tersebut diduga dibuat di Indonesia.

“Fakta yang perlu kita cermati dari kasus ini, ternyata kualitas upal ini sudah mendekati uang aslinya, dan uang palsu ini dibuat di Indonesia,” kata Hasbiallah.

Sorotan terhadap kasus tersebut semakin serius setelah Kriminolog Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala menilai kualitas pencetakan uang palsu dolar Singapura tersebut sudah tergolong tinggi.

Adrianus mengatakan, perkembangan teknologi turut membuat kualitas uang palsu semakin sulit dibedakan dari uang asli. Faktor kertas, tinta hingga mesin cetak turut menentukan tingkat kemiripan tersebut.

“Menurut Bank Central, ada presentase jumlah uang palsu yang dianggap aman jika beredar di masyarakat. Kalau tidak salah 1/1000. Saya yakin jumlah itu belum terlewati di Singapura,” kata Adrianus.

Ia menjelaskan, teknik pemalsuan uang saat ini tidak lagi sebatas menggunakan kertas yang dilengkapi watermark dan gambar.

“Kualitas tinta dan mesin cetak pun berpengaruh,” kata Adrianus.

Saat ditanya apakah pencetakan uang palsu dolar Singapura tersebut masuk kategori kualitas tinggi, Adrianus memberikan jawaban tegas.

“Ya, pasti,” jawabnya.

Adrianus juga menanggapi dugaan bahwa hampir 90 persen sumber uang palsu tersebut dicetak di Indonesia. Menurutnya, dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui penyelidikan aparat penegak hukum.

“Yang penting, pihak-pihak yang merasa bertransaksi harus segera lapor,” pungkas Adrianus.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Golkar: Putusan MK soal Gibran jadi Pukulan Telak

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:00

UPDATE

Wajib Halal Oktober 2026, Kesiapan UMKM dan Literasi Konsumen Jadi Tantangan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:19

BBCA Pimpin Transaksi Saham, Nilainya Tembus Rp353 Miliar saat IHSG Menguat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:06

Tiru LPDP, Pemprov DKI Siapkan Beasiswa Luar Negeri

Rabu, 14 Oktober 2026 | 14:01

SBY Bercanda soal Batuk Prabowo dan Nasib Rupiah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:54

CUAN Ramai Diperdagangkan, Nilai Transaksi Tembus Rp196 Miliar

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:47

Ketika Pelaku Tidak Ditemukan, Bagaimana Nasib Barang Bukti yang Disita?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:42

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung RI-Tiongkok-Thailand

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:41

Saat Karhutla Membara, Mereka Malah Korupsi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:25

56 Tahun INACA dan Misi Historis Penerbangan Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

BNPB: Penanggulangan Bencana Tak Terpengaruh OTT KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:15

Selengkapnya