Berita

Sembilan ulama anggota terpilih Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). (Foto: NUOnline)

Politik

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 | 21:45 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Sidang Pleno IV Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, resmi mengesahkan sembilan ulama sepuh sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Sembilan kiai kharismatik ini memegang mandat krusial untuk bermusyawarah menentukan posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.

Berikut rekam jejak dan profil lengkap sembilan ulama terpilih dalam jajaran AHWA Muktamar ke-35 NU dikutip dari berbagai sumber:


Tgk H Nuruzzahri Yahya (Samalanga, Aceh)

Teungku KH Nuruzzahri Yahya atau Waled NU merupakan ulama asal Mideun Jok, Samalanga, Bireuen, Aceh. Lahir pada 1951 dari pasangan Tgk H Yahya dan Sa’diyah, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disiplin ilmu agama.

Pendidikan keagamaannya ditempuh di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Samalanga di bawah asuhan Tgk H Abdul Aziz Shaleh. Pada 1974, ia bertolak ke Jombang untuk kuliah di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (Unhasy) sekaligus mendalami agama di Pesantren Darul Hadits Jombang pimpinan Dr Abdullah bin Faqih.

Pada 1990, Waled NU mendirikan Dayah Ummul Ayman, lembaga pendidikan keagamaan khusus mengasuh anak-anak yatim. Rekam jejak organisasinya sangat panjang, mulai dari Rais Syuriyah PWNU Aceh (1970), Ketua Tanfidziyah PWNU NAD (1995), Ketua II Himpunan Ulama Dayah Aceh (1999), hingga anggota Dewan Paripurna Ulama NAD (2006).

KH Nurul Huda Djazuli (Ploso, Kediri)

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri yang akrab disapa Mbah Yai Da ini lahir dari pasangan ulama besar pendiri (muassis) Pesantren Al-Falah, KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli.

Kiai Huda merupakan putra kedua yang hidup hingga dewasa setelah KH A Zainuddin Djazuli. Saudara-saudaranya yang lain yakni KH Hamim Djazuli (Gus Miek), KH Fuad Mun'im Djazuli, KH Munif Djazuli, dan Nyai Hj Lailatul Badriyah Djazuli.

Sepeninggal sang ayah, Kiai Huda bersama saudara-saudaranya melanjutkan estafet kepemimpinan Pesantren Al-Falah Ploso. Ia terkenal memegang teguh thariqoh ta’lim wa ta’allum (tarekat belajar dan mengajar) yang diajarkan sang ayah sebagai jalan spiritual utama.

Dedikasi tersebut diwujudkannya lewat konsistensi mendampingi santri serta mengampu pengajian kitab-kitab kuning klasik, seperti pengajian Al-Hikam setiap Wethonan. Mustasyar PBNU ini kembali dipercaya masuk jajaran AHWA setelah sebelumnya juga terpilih pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung.

AGH Baharuddin HS (Sulawesi Selatan)

Mustasyar PBNU periode 2021-2026 ini juga mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan masa khidmah 2024-2029, setelah sebelumnya menjabat Rais Syuriyah PCNU Makassar.

Syekh Baharuddin mengaji ilmu agama langsung dari sang ayah, AGH Abduh Shafa, ulama ternama di Desa Cakkeware, Bone. Selain dikenal sebagai pakar kitab kuning dan Syaikhul Ma’had An-Nahdlah, ia merupakan ahli kaligrafi Arab yang telah melahirkan banyak karya buku dan seni seni khat.

Di ranah organisasi keagamaan, ia pernah menjabat Direktur IMMIM Tamalanrea (2003-2007) dan menduduki posisi Ketua Umum MUI Kota Makassar sejak 2015.

KH Miftachul Akhyar (Surabaya)

Rais Aam PBNU periode 2022-2027 ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Kedung Tarukan, Surabaya. Kiai Miftach lahir pada 1953 sebagai anak kesembilan dari 13 bersaudara putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah.

Kiai Miftach menimba ilmu agama di berbagai pesantren ternama tanah Jawa, seperti Pesantren Tambakberas Jombang, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Lasem Jawa Tengah, hingga Majelis Ta'lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Malang.

Karier organisasinya di NU dirintis berjenjang dari bawah, mulai dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya (2000-2005), Rais Syuriyah PWNU Jatim (2007-2018), Wakil Rais Aam PBNU (2015-2020), hingga Pj Rais Aam PBNU (2018-2020).

KH Afifuddin Muhajir (Situbondo)

Ulama kelahiran Sampang, Madura, 20 Mei 1955 ini merupakan Wakil Rais Aam PBNU 2021-2026 dan Naib Mudir Ma'had Aly Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

Kiai Afifuddin merupakan murid kepercayaan KHR As'ad Syamsul Arifin. Sejak usia 20 tahun, ia telah dipercaya mengajar berbagai kitab kuning di Pesantren Sukorejo hingga merampungkan pendidikan sarjana dan magisternya di Universitas Islam Malang.

Pakar fikih dan ushul fiqih penerima gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Walisongo ini dikenal luas atas sumbangan pemikirannya terhadap persoalan kebangsaan, seperti perumusan metode istinbath al-ahkam, konsep Aswaja An-Nahdliyah, hingga status non-Muslim dalam negara bangsa.

KH Anwar Iskandar (Banyuwangi/Kediri)

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) terpilih periode 2025-2030 ini juga mengemban jabatan sebagai Wakil Rais Aam PBNU masa khidmah 2021-2026. Putera pendiri Pesantren Mambaul Ulum Banyuwangi ini lahir pada 24 April 1950.

Kiai Anwar menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo Kediri dan menyelesaikan sarjana Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 1970. Pengalaman kepemimpinannya teruji sejak muda melalui IPNU, PMII tingkat nasional, Ketua GP Ansor Kediri dua periode, Rais Syuriyah PCNU Kediri, hingga Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur.

KH M Anwar Manshur (Lirboyo)

Pengasuh Utama Pesantren Lirboyo Kediri sejak 2014 ini merupakan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur. Lahir pada 1 Maret 1938, Kiai Anwar merupakan cucu dari pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim.

Pendidikan dasar agamanya ditempuh di Pesantren Tarbiyatunnasyiin Pacul Gowang Jombang milik ayahnya, Kiai Manshur. Ia kemudian melanjutkan riyadhah keilmuan di Pesantren Tebuireng hingga jenjang Tsanawiyah sebelum akhirnya menetap di Lirboyo.

Kiai Anwar kini menjadi pengasuh senior yang meneruskan estafet kepemimpinan pesantren legendaris Lirboyo setelah kepemimpinan KH A Idris Marzuqi, KH Mahrus Aly, dan KH Marzuqi Dahlan.

KH Said Aqil Siroj (Cirebon)

Mantan Ketua Umum PBNU dua periode (2010-2021) ini kembali masuk dalam panggung utama NU setelah terpilih sebagai salah satu anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU. Kiprah Kiai Said di jajaran PBNU telah berlangsung sejak era kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953, Kiai Said merupakan putra dari pendiri Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah Harun. Pendidikan pesantrennya ditempuh di KHAS Kempek, Pesantren Lirboyo Kediri, hingga Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Kiai Said menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas King Abdul Aziz Jeddah (1982), serta mengantongi gelar Magister (1987) dan Doktor bidang Aqidah dan Filsafat Islam dari Universitas Ummul Qura Makkah (1994).

Karier organisasinya meroket saat dipercaya menjadi Wakil Katib ‘Aam PBNU pada 1994 di bawah kepemimpinan KH Ilyas Ruhiyat dan Gus Dur, sebelum akhirnya memimpin PBNU selama 11 tahun. Selain aktif di organisasi, Pendiri Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta Selatan ini dikenal luas sebagai intelektual Muslim dan pakar perbandingan agama.

KH Abun Bunyamin (Purwakarta)

Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta ini lahir pada 4 April 1954 dengan nama kecil Muhammad Tamrin.

Kiai Abun menimba ilmu agama di berbagai pesantren ternama di Jawa Barat, seperti Pesantren Hidayatul Muta’allimin Majalengka, Al-Falah dan Santiong Cicalengka, Sukamiskin Bandung, Riyadlul Alfiyyah Sadang Garut, serta Pesantren Cipasung Tasikmalaya di bawah asuhan KH Ruhiat dan KH Ilyas Ruhiat.

Saat menggembleng diri di Cipasung, Kiai Abun dipercaya menduduki posisi penting santri, mulai dari Ketua Asrama Pusaka hingga memimpin seksi muballighin yang membawahi seluruh asrama santri.

Kiai Abun dikenal istiqamah menjalankan riyadhah dan ijazah doa dari Abah Ruhiat, yakni menjaga salat di awal waktu, bersalawat, serta membaca Al-Qur'an sedikitnya 50 ayat setiap hari sebagai kunci keberkahan ilmu.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Penjualan LCGC di Dealer Naik, Kiriman dari Pabrik Justru Turun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:09

Putin-Prabowo Dijadwalkan Bertemu di Rusia pada 3 September

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:07

AHWA Pemilih Ketum PBNU Harus Bebas Konflik

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:40

Gegara Polis Dibatalkan, MSIG Life Hadapi Gugatan Rp20 Miliar

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31

Kapolri Dorong Eks Anggota JI Jadi Mitra Polri Jaga Keutuhan NKRI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:04

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:45

Indonesia Desak OKI Ambil Langkah Nyata Hadapi Kejahatan Israel

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jadi Cara Kemensos Jemput Bola Putus Mata Rantai Kemiskinan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:17

Pasar Mobil Nasional Capai Setengah Juta Unit Pada Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:46

Korut Rombak Jajaran Militer, Kim Song Gi Ditunjuk Jadi Menhan Baru

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:20

Selengkapnya