Berita

Muktamar ke-35 NU. (Foto: Istimewa)

Politik

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 | 12:45 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang H.M. Zahrul Azhar As'ad alias Gus Hans meminta proses pemilihan pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) berlangsung independen dan bebas dari intervensi. Ia berharap para kiai anggota AHWA menentukan pilihan berdasarkan hati nurani dan keteladanan sebagai panutan umat.

Harapan tersebut disampaikan setelah Muktamar ke-35 NU menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui voting. Dalam hasil pemungutan suara, 401 dari total 552 muktamirin memilih opsi perubahan mekanisme pemilihan, sedangkan 150 suara menghendaki mekanisme tetap dipertahankan dan satu suara abstain/tidak sah.

Dengan demikian, opsi perubahan memperoleh sekitar 73 persen suara, sementara opsi mempertahankan mekanisme mendapat sekitar 27 persen.


Gus Hans mengatakan perubahan mekanisme tersebut perlu diikuti dengan proses yang tetap mengedepankan independensi para kiai yang tergabung dalam AHWA. Mereka, kata dia, harus menggunakan pertimbangan yang jernih dengan melihat rekam jejak serta berbagai persoalan yang selama ini muncul di tubuh organisasi.

"Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki," ujar Gus Hans di Jombang, Minggu, 30 Agustus 2026.

Menurut Gus Hans, para kiai dalam AHWA diharapkan mampu melihat secara objektif sosok yang selama ini menjadi sumber masalah, pihak yang mampu mengakhiri persoalan, maupun mereka yang justru menjadi bagian dari masalah tersebut.

Dia berharap keputusan AHWA nantinya tidak lagi dibayangi konflik yang terjadi sebelumnya. Para kiai yang memiliki kewenangan menentukan pilihan harus dapat mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan organisasi.

"Sehingga para kiai bisa menentukan pilihan tanpa ada lagi sisa residu dari konflik yang kemarin," katanya.

Di sisi lain, Gus Hans menilai seluruh kandidat masih memiliki peluang. Belum ada sosok yang dapat mengeklaim dirinya sebagai kandidat calon ketua umum terkuat karena komunikasi dengan para kiai yang tergabung dalam AHWA masih berlangsung.

"Semua masih terbuka. Belum bisa mengklaim siapa yang paling kuat. Semuanya tergantung komunikasi last minute kepada para kiai yang ada di AHWA," ujarnya.

Gus Hans juga menilai perubahan mekanisme pemilihan tidak serta-merta menghilangkan dugaan politik uang maupun intimidasi. Dia mengingatkan bahwa persoalan tersebut masih berada dalam ranah dugaan.

"Proses ini kan kita bicara dugaan. Dugaan itu bisa saja akan terjadi atau sudah terjadi," katanya.

Menurut dia, perubahan sistem juga bisa saja merupakan hasil pengondisian dari pihak yang merasa memiliki potensi untuk menang melalui mekanisme tersebut.

"Dengan perubahan sistem ini bisa saja bahwa ini juga hasil dari pengondisian yang tidak gratis dari pihak yang menganggap dirinya akan memiliki potensi menang untuk menggunakan sistem yang ini," ujarnya.

Meski demikian, Gus Hans tidak ingin menyebut perubahan mekanisme tersebut sebagai bentuk manipulasi. Dia memilih menggunakan istilah pengondisian.

"Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tidak, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian," kata Gus Hans.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Bandit Keuangan Terorganisir

Minggu, 20 September 2026 | 00:02

Perjuangkan Hak Retaker, Willy Aditya: Republik Berdiri dari Tangan Dokter

Sabtu, 19 September 2026 | 23:58

Kemenkeu Tahan SAL Rp200 Triliun di Bank Hingga Juli 2027

Sabtu, 19 September 2026 | 23:32

KSAD Siapkan Helikopter Mi-35M Buatan Rusia untuk Misi Kemanusiaan di Papua

Sabtu, 19 September 2026 | 23:21

Disorot Publik, Nusron Wahid Ternyata Sudah Mundur dari Pengurus Golkar

Sabtu, 19 September 2026 | 22:47

Sektor Pariwisata RI Stagnan, Indonesia Kalah Cepat dari Vietnam

Sabtu, 19 September 2026 | 22:34

Kopasgat dan Satgas Habema Tangkap Pentolan OPM Abdon Kisamdu

Sabtu, 19 September 2026 | 21:56

PP IPA Dukung Prabowo Gratiskan Biaya Pendidikan SD hingga Universitas Negeri

Sabtu, 19 September 2026 | 21:37

Selebgram Jule Tak Jadi Tersangka Meski Konsumsi Etomidate, Ini Penjelasan Polisi

Sabtu, 19 September 2026 | 21:31

Bongkar Praktik Shadow Economy WNA di Bali, Hotel Lokal Terancam Kalah Saing

Sabtu, 19 September 2026 | 20:31

Selengkapnya