Berita

Pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (2+2) ke-10 yang digelar di Commonwealth Parliament Offices, Melbourne, Australia (Foto: Kemlu RI)

Dunia

Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pangan dan Energi Lewat Pertemuan 2+2

MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 | 09:31 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Indonesia dan Australia memperkuat kerja sama bilateral, khususnya di sektor pangan dan energi, melalui Pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (2+2) ke-10 yang digelar di Commonwealth Parliament Offices, Melbourne, Australia. 

Mengutip laporan Kementerian Luar Negeri RI, Minggu, 30 Agustus 2026, pertemuan tersebut dipimpin bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono dan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, serta Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles. 

Para menteri menegaskan pentingnya terus memperkuat kemitraan Indonesia-Australia sebagai negara bertetangga dekat dan sesama negara maritim. Kedua negara memiliki kepentingan bersama dalam menjaga kawasan yang damai, stabil, dan sejahtera.


“Indonesia dan Australia adalah tetangga yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Karena itu, kita perlu terus membangun kerja sama yang semakin kuat, tidak hanya untuk kepentingan kita hari ini, tetapi juga untuk generasi mendatang,” ujar Menlu Sugiono.

Di sektor ekonomi, Indonesia mendorong peningkatan neraca perdagangan sekaligus penyelesaian berbagai hambatan perdagangan, termasuk melalui implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). 

Sugiono menilai penguatan rantai pasok menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga ketahanan kedua negara.

“Kerja sama ekonomi perlu kita fokuskan pada penguatan rantai pasok yang andal bagi ketahanan pangan dan energi kedua negara dan kawasan,” ujar Menlu RI.

Selain membahas kerja sama pangan dan energi, Sugiono menyampaikan gagasan Partnership for Regional Resilience (PRR) sebagai kerangka kemitraan untuk memperkuat ketahanan kawasan dalam menghadapi berbagai tantangan. 

Konsep tersebut mencakup kerja sama lintas sektor tanpa membentuk aliansi atau blok baru. Pertemuan 2+2 kali ini juga menjadi momentum penting sebagai pertemuan pertama setelah penandatanganan Treaty on Common Security oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Jakarta pada 6 Februari 2026.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

SOFA Siapkan Rp131 Miliar untuk Proyek Sampah Jadi Energi

Sabtu, 19 September 2026 | 14:14

Menimbang Kembali POD South Andaman

Sabtu, 19 September 2026 | 13:46

Prabowo Teriak “Free Palestine” Tiga Kali, Singgung Indonesia Tak Berdaya Bantu Palestina

Sabtu, 19 September 2026 | 13:45

HUT ke-81 TNI di Monas, Prabowo Dijadwalkan Jadi Irup

Sabtu, 19 September 2026 | 13:27

Kejagung Turun Tangan Kawal Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,986 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 13:24

Saham BMW Anjlok 4,46 Persen

Sabtu, 19 September 2026 | 12:59

Ratusan Hotel di Bali Bangkrut Lalu Dilego

Sabtu, 19 September 2026 | 12:36

Penanaman Pohon Bukti Nyata Kontribusi Alumni Unpad

Sabtu, 19 September 2026 | 12:17

Pasar Minggu Bakal Disulap Jadi Kawasan Terintegrasi, Investasinya Rp1 Triliun

Sabtu, 19 September 2026 | 12:13

Jarnas Prabowo-Gibran Minta Kebun Sawit Rakyat di Kawasan Hutan Tak Digusur

Sabtu, 19 September 2026 | 11:45

Selengkapnya