Berita

Ilustrasi penerima bansos. (Foto: istmewa)

Politik

Jangan Sampai Pembaruan Desil Bikin Warga Miskin Kehilangan Bansos

MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 | 07:30 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah diminta segera melakukan verifikasi dan koreksi atas perubahan klasifikasi desil yang tidak sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat di lapangan. 

Menurut Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Mohd. Iqbal Romzi, anomali data berisiko membuat keluarga miskin, lansia, penyandang disabilitas, keluarga dengan anak, serta pekerja rentan kehilangan akses terhadap bantuan sosial yang menjadi penopang kebutuhan dasar mereka.

“Pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN memang diperlukan agar bansos tepat sasaran. Namun, pembaruan data tidak boleh justru menyingkirkan keluarga yang secara nyata masih miskin dan rentan. Negara tidak boleh membiarkan warga kehilangan bansos hanya karena data atau pemeringkatan belum menangkap kondisi riil mereka,” tegas Iqbal, Minggu, 30 Agustus 2026.


DTSEN memeringkat kesejahteraan keluarga melalui desil berdasarkan berbagai variabel sosial dan ekonomi. Dalam praktik penyaluran bansos, kelompok desil 1 sampai 4 menjadi prioritas utama penerima Program Keluarga Harapan dan Program Sembako. 

Karena itu, perubahan desil yang tidak akurat dapat berdampak langsung pada terhentinya bantuan pangan, bantuan tunai, layanan kesehatan, beasiswa, hingga program perlindungan sosial lain yang dibutuhkan keluarga rentan.

Iqbal menilai persoalan utama bukan semata-mata perubahan angka desil, melainkan ketiadaan mekanisme koreksi yang cepat, mudah, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan. Warga yang mengalami pemutusan bantuan harus memperoleh penjelasan mengenai alasan perubahan statusnya, jalur pengaduan yang jelas, serta jaminan verifikasi lapangan dalam batas waktu tertentu.

“Jangan sampai keluarga miskin yang kehilangan pekerjaan, menghadapi sakit menahun, merawat anggota keluarga disabilitas, atau mengalami bencana justru terlempar dari kelompok prioritas. Data harus mengikuti realitas kehidupan warga, bukan warga yang dipaksa menyesuaikan diri dengan kesalahan data,” ujarnya.

Komisi VIII DPR RI perlu memastikan Kemensos, BPS, pemerintah daerah, dan pendamping sosial membangun tata kelola data yang melindungi warga. Pemutakhiran data sosial-ekonomi harus disertai verifikasi lapangan, keterlibatan pemerintah desa/kelurahan, serta kanal keberatan yang benar-benar dapat diakses masyarakat.

Fraksi PKS mendorong pemerintah untuk , pertama, Menunda penghentian bansos bagi keluarga yang mengalami perubahan desil sampai proses verifikasi dan keberatan diselesaikan, khususnya bagi kelompok rentan.

Kedua, membuka alasan perubahan status dan desil secara mudah dipahami kepada warga, tanpa membuka data pribadi secara tidak patut. Ketiga, menetapkan standar waktu layanan pengaduan dan verifikasi lapangan yang pasti, termasuk mekanisme pemulihan bantuan bagi warga yang terbukti masih layak.

Keempat, memastikan pemerintah daerah, desa/kelurahan, pendamping PKH, dan pekerja sosial dilibatkan dalam pembaruan data serta verifikasi kondisi aktual keluarga. Kelima, melakukan audit independen atas akurasi pemeringkatan desil, terutama pada wilayah dengan keluhan tinggi terkait pemutusan bansos. Terakhir, menjaga agar pembenahan data tidak berjalan lebih cepat daripada perlindungan terhadap warga miskin dan rentan.

“Ketepatan sasaran bukan hanya soal mengeluarkan yang tidak berhak. Ketepatan sasaran juga berarti memastikan yang benar-benar membutuhkan tidak terlewat. Jangan sampai pembaruan data menciptakan exclusion error, yaitu warga miskin justru tidak memperoleh hak perlindungan sosialnya,” tutup Iqbal Romzi.




Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya