Berita

Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada Sabtu, 22 Agustus 2026 (Foto: Akun YouTube Sekretariat Kabinet)

Publika

Kecurigaan Netizen Benar, Habis Karhutla, Muncullah Sawit

JUMAT, 28 AGUSTUS 2026 | 00:01 WIB

NETIZEN kadang nyebelin, sekaligus ngangenin. Apalagi cerita api asmara, eh salah, asap karhutla. Sering curiga. Tapi, curiganya sering benar. Habis karhutla, terbitlah sawit, ternyata benar. 

Di tengah kabut asap yang membuat Pontianak dan Kubu Raya seperti film distopia murahan, aparat menemukan enam batang bibit sawit, 35 korek api, jerigen solar, Pertalite, minyak tanah, 21 parang, dua kapak, satu cangkul, dua chainsaw, 13 plastik bekas polybag, 39 batang kayu bekas terbakar, dan sepasang sepatu bot.

Lengkap nian. Tinggal pasang spanduk, “Grand Opening Kebun Sawit -- Tanah Baru Dibakar.”


Bareskrim Polri menetapkan 72 tersangka perorangan dari 89 laporan polisi di sembilan Polda. Sebagian besar petani ladang dan pekerja serabutan. 

Motif yang diungkap sederhana. Musim panas membuat lahan mudah terbakar, biaya pembukaan lahan turun drastis, lalu ketika hujan datang, lahan siap ditanami sawit.

Urutannya sungguh efisien: kemarau, bakar, bersihkan, hujan, tanam.

Api bekerja gratis. Tidak minta gaji, THR, apalagi uang lembur.

Yang paling bikin merinding bukan cuma ketika hutan terbakar. Tapi ketika api sudah padam, asap mulai hilang, gambut belum dingin, lalu bibit sawit sudah nongol. Sawit kan bukan jamur. Tidak muncul karena kehujanan.

Ada membawa. Ada menanam. Ada sudah menyiapkan lahannya.

Polisi juga menelusuri siapa memberi perintah, membiayai, dan menikmati keuntungan dari pembakaran. 

Kalau hanya pelaku lapangan ditangkap, cerita berhenti di ujung korek api. Kalau aktornya ditemukan, barulah kita tahu siapa sebenarnya menunggu tanah berubah dari hijau menjadi hitam.

Di Kalbar, luas lahan terbakar Januari–Agustus 2026 mencapai 38.310,86 hektare. Ketapang menyumbang 12.443 hektare, Kubu Raya 8.614 hektare, dan Mempawah 6.144 hektare.

WALHI mencatat periode 1 Januari-27 Juli 2026 terdapat 17.236 hotspot di Kalbar, dengan luas indikatif karhutla 28.680 hektare. 

WALHI juga menyebut sekitar 74 persen hotspot di Pulau Kalimantan berada di kawasan konsesi, termasuk 10.739 hotspot di konsesi perkebunan sawit. 

Data ini merupakan pemantauan WALHI dan tidak otomatis berarti seluruh hotspot disebabkan sawit.

Presiden Prabowo Subianto mendarat di Lanud Supadio pada 22 Agustus, memimpin rapat dan meninjau Desa Limbung, Kubu Raya. Dua hari kemudian Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyusul ke Rasau Jaya. 

Berdasarkan data Sipongi malam 23 Agustus, hotspot turun menjadi 28 titik. Ada 16 di Ketapang, 11 Melawi, satu Kubu Raya. Kemenhut mengerahkan 5.000 ASN, termasuk ratusan untuk Kalbar.

Polda Kalbar menangani 33 kasus dengan 24 terlapor. Di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling Riau, tiga orang menjadi tersangka karena membuka lahan dengan cara dibakar untuk sawit. Di Ketapang, penyidik kembali menemukan bibit sawit dan bangunan di dalam kawasan hutan.

Sementara helikopter water bombing menjatuhkan air, TNI-Polri, Manggala Agni dan BPBD berjibaku mendinginkan bara.

Di sudut lain, polybag kosong seperti sedang berkata, “Terima kasih, musim kemarau. Sampai jumpa musim tanam.”

So, habis karhutla padam, muncullah sawit. Bukan sihir. Bukan sulap.

Kalau terbukti direncanakan, api bukan lagi sekadar membakar lahan. Api sedang mengerjakan proyek.

"Bang, mestinya habis karhutla itu, muncul restorasi gambut, reboisasi hutan."

"Mestinya begitu, wak. Semua sandiwara, kasihan kita yang tiap hari nyedot asap." Ups

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Muktamar NU Turut Gerakan Ekonomi Masyarakat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:22

Puan Anggap Santai Ocehan Budi Arie soal Percepatan Pemilu

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:11

Ada Angka Favorit Prabowo di Balik Muktamar NU

Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:09

Bisnis Makin Kompleks, Profesi PPGA Disiapkan untuk Kelola Risiko Kebijakan dan Politik

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

Prabowo Tiba di Lokasi Muktamar ke-35 NU, Disambut Rais 'Aam hingga Gus Yahya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:58

LKPP 2025 Kembali Raih WTP ke-10 Sejak 2016, Ini Catatan Purbaya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:54

Menkop Ingin Koperasi dan Pariwisata Kerek Ekonomi Daerah

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

IPW Minta Dugaan Penipuan Rp58,5 Miliar Libatkan Perwira Polri Diuji Profesional

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:51

KPK Panggil Mantan Pj Bupati Muara Enim Hingga Petinggi Swasta di Kasus Suap Edison

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:46

Jangan Sampai UU Perampasan Aset Buka Celah Penyalahgunaan Wewenang

Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:43

Selengkapnya