Berita

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

Politik

Kepala BIN Dorong Penguatan Regulasi Antisipasi Spionase Asing

KAMIS, 27 AGUSTUS 2026 | 13:09 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kewaspadaan nasional sangat penting diperkuat untuk membendung ancaman spionase dan intervensi asing yang kian kompleks. Indonesia dinilai mendesak membutuhkan kerangka regulasi yang adaptif guna memproteksi kepentingan nasional tanpa mengabaikan hak kebebasan sipil.

Pernyataan tersebut ditegaskan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Muhammad Herindra dalam Seminar Nasional bertajuk "Kedaulatan di Garis Depan: Kebijakan Nasional Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing" yang diselenggarakan FISIP Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.

"Spionase itu ada, intervensi asing itu ada. Kita jangan terlalu naif. Kita harus sedikit lebih tegas, tidak perlu berlebihan, tetapi jangan sampai kita berada di posisi yang dirugikan," ujar Herindra.


Ia menilai aktivitas spionase modern sering memanfaatkan ruang abu-abu yang sulit dijangkau hukum konvensional. Oleh karena itu, penguatan kapasitas kontraintelijen dan regulasi spesifik amat diperlukan.

"Jangan sampai ini dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan sipil. Kita berbicara mengenai masalah negara," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Analisis Intelijen Pertahanan BIK Intelhan, Brigjen TNI Efran Gunawan, memaparkan bahwa modus operasi spionase saat ini kerap bertopeng kegiatan legal, mulai dari riset akademik, pendanaan lembaga, hingga pemetaan area strategis.

"Spionase bekerja di koridor legal, seperti survei-survei bawah air hingga kegiatan akademisi berkedok pendanaan," ungkap Efran.

Efran menegaskan, meski iklim demokrasi menjamin kebebasan berpendapat, aturan hukum tetap harus memberikan garis tegas demi menjaga kehormatan bangsa.

"Kebebasan berpendapat tidak bisa dihentikan, namun harus ada koridor pembatas. Jangan sampai mengangkangi kedaulatan negara," pungkasnya.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya