Berita

Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar (kedua dari kiri) bersama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Nusantara

Diungkap Sejarawan

Sejarah Tionghoa Hilang dari Ingatan Publik akibat Politik Segregasi dan Asimilasi

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 21:19 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa di Indonesia dinilai tidak banyak diketahui publik akibat politik segregasi pada masa kolonial Belanda dan politik asimilasi pada era Orde Baru.

Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar, mengatakan masyarakat Tionghoa dengan masyarakat setempat yang telah berbaur selama ratusan tahun pernah dipisahkan melalui kebijakan kolonial.

"Ya, kita tahu semenjak masa kolonial Belanda sejarah dan budaya Tionghoa ditutupi. Masyarakat Tionghoa dengan masyarakat setempat yang sudah ratusan tahun berbaur dipisah," kata Azmi dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Mengenang Jejak Perjuangan Tokoh-Tokoh Tionghoa dalam Sejarah Kemerdekaan Indonesia" di Museum Hakka, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.


Ia menyebut politik segregasi Belanda membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas. Kondisi tersebut kemudian berlanjut dalam bentuk berbeda pada masa Orde Baru melalui politik asimilasi.

"Kita tahu politik segregasi Belanda, ada kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Pun kemudian kita tahu pada suatu masa Orde Baru orang-orang Tionghoa bukan hanya dipisah dengan saudaranya, tapi identitas Tionghoa dilenyapkan," ujarnya.

Lanjut Azmi, politik asimilasi membuat masyarakat Tionghoa didorong meninggalkan identitas sejarah dan budayanya.

"Orang Tionghoa harus menanggalkan segala identitas sejarah budayanya untuk menjadi orang lain," tegasnya.

Kondisi tersebut, kata Azmi, kemudian berubah pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Bacharuddin Jusuf Habibie, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Inilah yang kemudian dikembalikan oleh Presiden Gus Dur, termasuk Presiden Habibie, Presiden Megawati dan Pak SBY. Mereka mengembalikan budaya dan identitas jati orang Tionghoa menjadi bagian utuh dari bangsa ini," jelasnya.

Azmi menilai keterbatasan pengetahuan publik terhadap sejarah perjuangan masyarakat Tionghoa juga berkaitan dengan minimnya informasi tersebut dalam pendidikan.

Ia mencontohkan keberadaan pejuang Tionghoa yang turut berjuang secara fisik dan militer di berbagai daerah Indonesia, tetapi namanya tidak banyak dikenal generasi muda.

"Masyarakat luas harus tahu bahwa pejuang-pejuang Tionghoa secara fisik, secara militer ada di setiap daerah. Pertanyaannya, daerah mana yang tidak ada? Saya pastikan ada," ungkap Azmi.

Menurutnya, pengungkapan kembali sejarah tersebut penting untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap warga Tionghoa sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

"Jika masyarakat luas tahu bahwa ternyata orang Tionghoa juga ikut berjuang, mengangkat senjata, tentu cara pandang akan berubah. Yang ada hanya rasa kekaguman," pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya