Berita

Wapres pertama RI Mohammad Hatta. (Foto: Istimewa)

Publika

Bung Hatta Sang Konseptor Demokrasi Ekonomi

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 01:41 WIB

PROKLAMATOR Drs. Mohammad Hatta yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. 

Lahir di tengah keluarga Minangkabau yang taat beragama dan menghargai pendidikan, Bung Hatta adalah anak kedua pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha. 

Muhammad Djamil adalah keturunan ulama Naqsyabandiyah di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sedangkan Siti Saleha berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi. 


Kini, jalan di depan rumah tempat kelahiran Bung Hatta di Kota Bukittinggi dinamai Jalan Soekarno-Hatta.

Mohammad Hatta lahir dengan nama Muhammad Athar. Nama Athar berasal dari bahasa Arab yang berarti "harum". Di kemudian hari, Bung Hatta memang memiliki nama yang harum. 

Beliau dikenal dan dikenang sebagai negarawan, salah satu proklamator, dan ekonom serta konseptor demokrasi ekonomi Indonesia. 

Beliau punya peran penting selama perjuangan dan revolusi nasional Indonesia, hingga bersama Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Bung Hatta juga punya peran penting dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara kita. Di antaranya dengan menjadi anggota Panitia Sembilan (bersama Soekarno, Abikoesno Tjokrosoejoso, H Agus Salim, KH Wahid Hasyim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo) yang melahirkan Piagam Jakarta. 

Di dalam Panitia Sembilan, Bung Hatta menjadi wakil ketua mendampingi Bung Karno yang menjadi ketua. Beliau juga menjadi tokoh kunci dalam perubahan isi sila pertama, sehingga dasar negara tersebut dapat merangkul seluruh rakyat Indonesia dari berbagai latar belakang agama.

Ketika itu, rumusan Pancasila yang tercantum di dalam naskah Piagam Jakarta yang dilahirkan pada 22 Juni 1945 adalah, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; Kemanusiaan yang adil dan beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada 17 Agustus 1945 sore, sebelum Pembukaan/Muqaddimah (Preambule) Undang-Undang Dasar itu disahkan, Mohammad Hatta menerima seorang petugas yang menyampaikan aspirasi dari rakyat Indonesia timur. 

Ketika itu, perwakilan rakyat Indonesia timur mengancam akan memisahkan diri dari Indonesia jika poin “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dalam dasar negara tidak diubah esensinya.

Bung Hatta lantas menemui para tokoh agama -- di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, dan Teuku Muh. Hasan -- untuk mengajak diskusi membahas hal tersebut. Setelah proses diskusi, ditetapkanlah bunyi poin pertama dasar negara yang termuat di Piagam Jakarta yang selanjutnya disebut Pancasila itu dengan kalimat, “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Tertarik Politik dan Ekonomi

Setelah kemerdekaan, Bung Hatta lantas menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia sejak 1945 hingga mengundurkan diri di tahun 1956. 

Bung Hatta juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Tokoh yang juga disebut sebagai Bapak Koperasi Indonesia lantaran pemikiran dan sumbangsih beliau terhadap perkembangan koperasi di Indonesia itu juga dikenal karena komitmen yang tinggi terhadap sistem demokrasi di Indonesia.

Menurut sejumlah literatur, Bung Hatta sejak kecil dikenal rajin membaca dan punya ketertarikan besar terhadap politik dan ekonomi. 

Sejak kecil, Bung Hatta dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurrahman Batuhampar, dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar. 

Waktu itu, Surau Batuhampar adalah salah satu dari sedikit surau yang bertahan pasca Perang Padri. Sedangkan dari pihak ibu, beberapa mamak Bung Hatta adalah pengusaha dan pedagang besar di Jakarta.

Ayah beliau wafat ketika Bung Hatta masih berumur tujuh bulan. Ibunya lantas menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari Palembang. 

Haji Ning saat itu sering berhubungan dagang dengan kakek Bung Hatta dari pihak ibu, Ilyas Bagindo Marah. Perkawinan Siti Saleha dengan Agus Haji Ning melahirkan empat anak yang semuanya perempuan.

Awalnya, Mohammad Hatta mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta. Baru enam bulan bersekolah, ia pindah ke sekolah rakyat. 

Namun, pelajarannya berhenti di pertengahan kelas tiga. Bung Hatta lalu pindah ke ELS di Padang sampai tahun 1913, dan melanjutkan ke MULO sampai 1917.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar dan menengah di Sumatera Barat, Bung Hatta melanjutkan studi ke Handels Hoogeschool Rotterdam, Belanda (kini Erasmus University Rotterdam) pada 1921. 

Di Rotterdam, Bung Hatta aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI). PI adalah organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang memperjuangkan kemerdekaan lewat diplomasi dan pemikiran. 

Ketika itu, Bung Hatta rajin menulis berbagai artikel yang menyerukan kemerdekaan bangsa, menentang penjajahan, serta memperkenalkan gagasan nasionalisme Indonesia kepada dunia internasional. Bung Hatta juga pernah menjadi Ketua PI. 

Di luar pendidikan formal, Bung Hatta pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya. 

Di Padang, beliau kenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Oesaha. Beliau juga aktif sebagai bendahara di organisasi Jong Sumatranen Bond. 

Kegiatan dan posisi sebagai Bendahara tetap berlanjut ketika beliau bersekolah di Prins Hendrik School di Jakarta. 

Memperkenalkan Demokrasi Ekonomi

Pulang ke Tanah Air pada 1932, Bung Hatta langsung bergabung dalam gerakan nasional. Perjuangan beliau membuat pemerintah kolonial Belanda beberapa kali menangkap dan mengasingkan Bung Hatta karena dianggap mengancam stabilitas kolonial. 

Boven Digoel dan Banda Neira adalah beberapa tempat pengasingan Bung Hatta yang menjadi saksi keteguhan hati beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Bung Hatta lalu diangkat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, mendampingi Bung Karno dalam masa-masa awal pemerintahan yang penuh tantangan. 

Di masa itu, Bung Hatta berperan penting menyusun dasar-dasar pemerintahan, kebijakan ekonomi, dan sistem ketatanegaraan yang berlandaskan keadilan sosial. 

Sebab, selain dikenal sebagai negarawan, Mohammad Hatta juga dikenang sebagai ekonom ulung yang memiliki pandangan jauh ke depan.

Hatta menolak sistem ekonomi kapitalis yang hanya menguntungkan segelintir orang, dan juga menolak sosialisme ekstrem yang meniadakan hak individu. 

Sebagai gantinya, Hatta memperkenalkan konsep “Demokrasi Ekonomi”. Di dalam demokrasi ekonomi, kesejahteraan masyarakat menjadi pusat dari pembangunan ekonomi.

Bung Hatta yakin, kekuatan ekonomi seharusnya ada di tangan rakyat melalui sistem koperasi. Menurut Hatta, koperasi bukan hanya badan usaha, tetapi juga sarana pendidikan moral dan sosial. 

Seperti dikutip kemenkopukm.go.id, dalam pidatonya di Kongres Koperasi Indonesia pertama di Tasikmalaya, 12 Juli 1947, Bung Hatta menyatakan bahwa koperasi adalah “alat perjuangan ekonomi untuk memperbaiki nasib rakyat kecil”. 

Menurut Bung Hatta, melalui koperasi, rakyat bisa belajar bekerja sama, saling percaya, dan berbagi hasil secara adil. 

Jasa dan dedikasi dalam mengembangkan gerakan koperasi itu membuat Mohammad Hatta diberi gelar “Bapak Koperasi Indonesia”. Dan tanggal 12 Juli pun diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional.

Pemimpin Sederhana

Pada 18 November 1945, Bung Hatta menikah dengan Siti Rahmiati. Pernikahan mereka dikaruniai 3 anak perempuan yang bernama Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah.

Pada 1956, Bung Hatta mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden karena perbedaan prinsip dengan Bung Karno. Namun, kedekatan pribadi di antara dua tokoh bangsa itu tetap terpelihara dengan baik. 

Setelah tak lagi menjadi Wakl Presiden, Mohammad Hatta aktif dalam di pendidikan dan penulisan. Ia menulis berbagai buku dan artikel tentang politik, ekonomi, dan moral bangsa. 

Beberapa karya Bung Hatta yang terkenal di antaranya “Demokrasi Kita”; “Menuju Negara Hukum”; dan “Ekonomi Rakyat dan Koperasi”.

Kini, pemikiran Bung Hatta menjadi warisan intelektual yang penting bagi generasi penerus. Melalui tulisan-tulisan beliau, Bung Hatta terus menyuarakan pentingnya moralitas, hukum, dan keadilan sosial sebagai dasar kehidupan berbangsa. 

Tahun 2013, nilai-nilai perjuangan Bung Hatta ditetapkan sebagai warisan dokumenter Memory of the World (MOW) UNESCO melalui arsip “Naskah Proklamasi dan Risalah Sidang PPKI”.

Warisan Hatta

Di dalam banyak kesempatan, Bung Hatta menegaskan, pemimpin sejati adalah mereka yang melayani rakyat. Bukan mencari keuntungan pribadi. Prinsip itu menjadikan Bung Hatta teladan abadi bagi pejabat publik hingga saat ini.

Seluruh rakyat Indonesia mengenal Mohammad Hatta sebagai sosok yang jujur dan sederhana. 

Di dalam buku “Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi” terbitan Kompas (1979), Bung Hatta menceritakan, ia tetap hidup sederhana bahkan setelah menjabat sebagai Wakil Presiden. 

Dikisahkan, Hatta pernah tidak sanggup membeli sepatu impor yang beliau inginkan, karena gaji sebagai pejabat negara tidak cukup.

Warisan pemikiran dan keteladanan 

Mohammad Hatta masih sangat relevan di tengah tantangan ekonomi dan sosial Indonesia modern. 

Semangat koperasi, kemandirian ekonomi rakyat, serta integritas moral, menjadi nilai-nilai yang terus dijaga oleh berbagai lembaga dan organisasi di seluruh Indonesia.

Mohammad Hatta bukan hanya Proklamator. Beliau juga seorang pemimpin yang memiliki visi besar tentang masa depan bangsa. 

Bung Hatta memadukan semangat nasionalisme dengan moralitas, serta menempatkan rakyat sebagai pusat dari setiap kebijakan. 

Melalui prinsip kesederhanaan, kejujuran, dan kerja sama, Bung Hatta menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat diraih jika rakyat berdaulat atas ekonomi dan kehidupannya sendiri. Sosoknya tetap menjadi inspirasi dan teladan bagi seluruh anak bangsa Indonesia.

Mohammad Hatta wafat pada 14 Maret 1980 di Jakarta, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Pada tanggal 23 Oktober 1986, pemerintah Indonesia menetapkan Mohammad Hatta sebagai salah seorang Pahlawan Proklamator melalui Keppres nomor 081/TK/1986.

Kini, nama Mohammad Hatta diabadikan di berbagai institusi dan tempat penting, semisal Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Universitas Bung Hatta di Padang. Di Belanda, namanya diabadikan sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem.

Yogi W Utomo
Wartawan senior

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

APKLI Perjuangan Ajak Publik Siap Hadapi Bonus Demografi 2030

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:26

Fahira Idris Apresiasi RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan Desember

Rabu, 26 Agustus 2026 | 00:10

Pernyataan Budi Arie Tak Harus Menjadi Polemik

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:54

BPOM Gratiskan Izin Edar UMK Pangan Olahan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:30

PP KMHDI Tuntut Presiden Evaluasi Kemenhut, Kemendikdasmen, dan Bakom

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:15

Menavigasi Turbulent Ocean, Menjinakkan Rivalitas Great Powers, dan Mematahkan Clash of Civilizations di Era Presiden SBY

Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:00

Ketum Gibranku: Relawan Solid Kawal Prabowo-Gibran hingga 2029

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:59

Dua Tahun Warga Tegal Alur Pakai Jembatan Bambu, Dinas SDA Kena Semprot

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:42

Menguji Relevansi Teladan Rasulullah di Tengah Krisis Etika Global

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:40

Berbincang dengan Habib Rizieq

Selasa, 25 Agustus 2026 | 22:20

Selengkapnya