Berita

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad. (Foto: istimewa)

Politik

Gus Zaki: Muktamar NU Bukan Ruang Mengamini Paket yang Sudah Disepakati

LAPORAN: ADIRIN*
RABU, 19 AGUSTUS 2026 | 22:27 WIB

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), isu mengenai konfigurasi calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan calon Rais Aam kembali mengemuka. 

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad atau Gus Zaki meminta dinamika tersebut tidak berkembang menjadi politik paket yang justru mendahului keputusan forum Muktamar.

Menurut Gus Zaki, Muktamar harus benar-benar menjadi forum tertinggi organisasi, bukan sekadar tempat mengesahkan konfigurasi yang telah disusun dan disepakati di luar forum. 


Peserta Muktamar, kata dia, harus tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan berdasarkan mekanisme organisasi dan aspirasi yang berkembang.

“Muktamar adalah forum tertinggi organisasi. Karena itu, pilihan kepemimpinan NU harus lahir dari mekanisme organisasi dan aspirasi peserta Muktamar. Jangan sampai kepemimpinan NU sudah dikunci dalam paket-paket tertentu sebelum Muktamar berlangsung,” ujar Gus Zaki, Rabu 19 Agustus 2026.

Gus Zaki yang juga Rektor IAI Khozinatul Ulum Blora dan Pengasuh Pondok Pesantren Khozinatul Ulum Al Azhar menilai, isu paket tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam melihat dinamika pencalonan. 

Putra pertama KH Muharror Ali itu justru mendorong agar para kandidat berkompetisi melalui gagasan, rekam jejak dan kemampuan membaca kebutuhan organisasi.

Menurutnya, NU memiliki mekanisme sendiri dalam menentukan kepemimpinan. Karena itu, proses komunikasi yang dilakukan kandidat dengan struktur organisasi di berbagai daerah harus tetap dipandang sebagai bagian dari proses tersebut, bukan langsung disimpulkan sebagai transaksi politik untuk mengunci pasangan kepemimpinan.

“Jangan setiap pertemuan dengan pengurus NU kemudian diterjemahkan sebagai paket politik. Silaturahmi itu bagian dari tradisi organisasi NU. Dari situlah seorang kandidat mendengarkan aspirasi daerah dan memahami persoalan yang dihadapi warga NU,” katanya.

Dalam kaitan dengan pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai calon Ketua Umum PBNU, Gus Zaki menegaskan tidak ada paket dengan calon Rais Aam tertentu.

“Gus Rozin tidak ada paket dengan calon Rais Aam mana pun. Beliau telah lama berkhidmah dan berproses dalam organisasi NU, bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU di berbagai daerah, mendengarkan aspirasi para kiai dan pengurus, serta menyampaikan gagasan tentang masa depan NU,” tegasnya.

Gus Zaki menjelaskan, proses yang dilakukan Gus Rozin ke berbagai daerah merupakan bentuk komunikasi organisasi. Pertemuan dengan para kiai dan pengurus, menurut dia, merupakan bagian dari upaya mendengar aspirasi sebelum Muktamar.

“Gus Rozin lahir dari proses organisasi. Ia datang ke berbagai daerah, bertemu para kiai dan pengurus, mendengarkan aspirasi PWNU dan PCNU, kemudian menawarkan gagasan berdasarkan apa yang ditemukan dalam perjalanan tersebut,” ujarnya.

Karena itu, Gus Zaki meminta pencalonan Gus Rozin tidak dipersempit menjadi persoalan siapa yang mendukung dan siapa yang berada di belakangnya. Ia mengatakan, seorang kandidat harus dinilai dari proses pengabdian dan kontribusinya terhadap organisasi.

“Gus Rozin adalah kader NU yang mencalonkan diri melalui proses organisasi. Yang menentukan adalah Muktamar, bukan label dukungan dari luar,” katanya.

Gus Zaki menilai politik paket dapat membuat fokus Muktamar bergeser dari substansi ke konfigurasi. Jika seluruh perhatian hanya tertuju pada pasangan figur, pembahasan mengenai problem dan masa depan NU dikhawatirkan justru kehilangan ruang.

“Kita jangan terjebak pada politik paket. Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang berhak menentukan masa depan NU. Jawabannya adalah organisasi melalui mekanisme Muktamar,” tegasnya.

Ia meminta seluruh pihak menghormati peserta Muktamar sebagai pemegang mandat organisasi. Tidak boleh ada pihak yang menganggap hasil Muktamar sudah dapat dipastikan hanya berdasarkan konfigurasi yang berkembang sebelum forum resmi berlangsung.

“Jangan mendahului Muktamar. Biarkan peserta Muktamar menjalankan mandatnya sesuai aturan organisasi dan aspirasi yang berkembang. Dengan begitu, apa pun hasilnya akan memiliki legitimasi organisasi yang kuat,” pungkasnya.

*Kontributor Blora

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Jokowi Dalangi Operasi Politik Pertahankan Wapres Gibran

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:14

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Pejabat BNPB juga Korupsi Pengadaan HT Penanganan Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:37

Status MSCI Bukan Tanda Kiamat

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:21

Penguatan Ekosistem Dagang RI Didorong Tembus 5 Besar Ekonomi Dunia

Senin, 19 Oktober 2026 | 03:06

Mengenal Ahmad Luthfi Auditor BPK yang Minta Jatah Rp600 Juta

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:37

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia, Polri Sampaikan Duka Cita

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:17

MSCI Pertanyakan Pasar RI, BEI Harus Buktikan Pengawasan Bekerja

Senin, 19 Oktober 2026 | 02:06

Fahira: Mimpi dan Cita-cita Tak Boleh Dibatasi Kondisi Ekonomi

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:35

Polisi Tembak Polisi di Markas Ditpolairud Pondok Cabe, Pelaku Ditahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 01:15

Selengkapnya