Ketua Bidang OKP Kemahasiswaan, LSM dan Ormas PB PMII, M. Muham Tahsir. (Foto: Istimewa)
Aksi demonstrasi yang belakangan kembali menjadi perhatian publik perlu disikapi secara bijak agar penyampaian aspirasi tidak bergeser menjadi tindakan anarkis.
Ketua Bidang OKP Kemahasiswaan, LSM dan Ormas PB PMII, M. Muham Tahsir mengatakan, pengalaman aksi pada Agustus tahun sebelumnya harus menjadi pembelajaran bagi mahasiswa dan masyarakat.
Menurut Tahsir, aksi demonstrasi merupakan bagian dari penyampaian aspirasi dalam kehidupan demokrasi. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan ketertiban umum dan dilakukan melalui cara-cara yang damai serta konstitusional.
"Aksi demonstrasi belakangan ini perlu disikapi secara bijak, mengingat pengalaman aksi pada Agustus tahun sebelumnya yang ternyata diwarnai dengan aksi anarkis berupa pengerusakan dan pembakaran hingga penjarahan," ujar Tahsir dalam keterangannya, Selasa 18 Agustus 2026.
Tahsir menilai tindakan anarkis dalam aksi demonstrasi berpotensi menggeser substansi tuntutan yang ingin disampaikan. Aspirasi yang semestinya menjadi bagian dari kontrol sosial justru dapat berubah menjadi tindakan destruktif apabila disertai pengerusakan, pembakaran, atau penjarahan.
"Lebih jauh lagi, akan merusak citra mahasiswa dan demokrasi Indonesia," kata Tahsir.
Menurut Tahsir, penyampaian pendapat merupakan hak masyarakat yang perlu dijaga dalam negara demokrasi. Namun, hak tersebut juga harus dijalankan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial.
"Mahasiswa dan masyarakat diharapkan mengutamakan penyampaian aspirasi secara damai dan konstitusional," kata Tahsir.
Tahsir juga mendorong mahasiswa dan masyarakat mempertimbangkan bentuk partisipasi publik lain yang lebih konstruktif. Menurut dia, demonstrasi bukan satu-satunya cara untuk menyampaikan gagasan maupun mendorong perubahan.
Sejumlah kegiatan dapat menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, untuk menyampaikan kritik sekaligus menawarkan solusi.
Kegiatan tersebut antara lain diskusi publik, kegiatan sosial, kajian, maupun aktivitas komunitas yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
"Mahasiswa dan masyarakat diharapkan mengutamakan penyampaian aspirasi secara damai dan konstitusional serta mempertimbangkan kegiatan alternatif yang lebih konstruktif," kata Tahsir.
Tahsir berharap dinamika aksi demonstrasi yang terjadi saat ini tidak menimbulkan polarisasi lebih luas di tengah masyarakat. Menurut dia, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi selama disampaikan dengan cara yang bertanggung jawab.
"Penyampaian kritik yang berbasis data, argumentasi, dan dilakukan secara damai dinilai lebih mampu menjaga substansi perjuangan sekaligus mempertahankan kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa," pungkas Tahsir.