Berita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: RMOL/Alifia)

Politik

Strategi Bahlil Kejar Target Lifting Migas 610 Ribu Barel per Hari Dinilai Tepat

SELASA, 18 AGUSTUS 2026 | 11:13 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Target lifting minyak dan gas (migas) sebesar 610 ribu barel per hari (bph) yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto dinilai dapat dicapai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melalui sejumlah kebijakan yang saat ini telah berjalan.

Pakar kebijakan publik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (FISIP Unpad), Bonti Wiradinata, menilai target lifting 610 ribu bph tidak semata-mata dapat dilihat sebagai angka produksi.

“Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 memiliki fungsi sebagai pertahanan dasar (defensive baseline) untuk menjaga daya tawar (bargaining power) Indonesia di tengah volatilitas pasar global,” ujar Bonti dalam keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.


Menurut Bonti, target tersebut memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar energi global.

Ia menilai arah kebijakan Kementerian ESDM melalui percepatan eksplorasi lapangan baru (greenfield), optimalisasi lapangan eksisting dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta perbaikan iklim investasi merupakan kombinasi kebijakan yang tepat untuk menjawab persoalan penurunan produksi minyak nasional.

“Dari sudut pandang kebijakan publik, kombinasi tiga strategi tersebut dinilai tepat sasaran karena mengadopsi pendekatan tritunggal intervensi kebijakan, intervensi jangka pendek, jangka panjang, dan penyediaan fasilitas fiskal, untuk menyelesaikan akar masalah penurunan produksi hulu migas,” tutur Bonti.

Selain itu, Bonti menilai perbaikan iklim investasi menjadi instrumen penting mengingat eksplorasi hulu migas membutuhkan modal besar dan memiliki risiko tinggi.

“Insentif fiskal, fleksibilitas skema kontrak hingga pemangkasan perizinan dapat meningkatkan daya tarik investasi hulu migas Indonesia,” ucapnya.

Bonti juga menilai penekanan Menteri Bahlil terhadap peningkatan lifting dan eksplorasi untuk mengurangi ketergantungan impor sejalan dengan agenda besar ketahanan energi. Peningkatan produksi domestik tidak hanya penting untuk menjaga pasokan, tetapi juga dapat mengurangi tekanan impor di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.

“Penerimaan negara dari migas dapat difungsikan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia sekaligus mendanai infrastruktur energi terbarukan. Dan bila dikelola dengan baik, ini akan sangat menjanjikan dan prospektif,” sambungnya.

Sementara itu, pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai target lifting 610 ribu bph menghadapi tantangan, terutama karena kondisi cadangan minyak nasional dan banyaknya lapangan yang telah memasuki usia matang.

Berdasarkan tren historis, kata Fahmy, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu bph dan cenderung mengalami penurunan.

Fahmy mengatakan kondisi tersebut membuat upaya mempertahankan produksi minyak membutuhkan kerja ekstra. Meski demikian, ia mengakui berbagai upaya yang dilakukan selama ini telah mampu meningkatkan produksi, antara lain melalui penggunaan teknologi, optimalisasi sumur tua, serta pengembangan sumur rakyat.

“Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian. Misalnya penggunaan teknologi dalam eksplorasi, kemudian memanfaatkan sumur-sumur tua, dan juga mendorong sumur rakyat,” kata Fahmy.

Lebih lanjut, Fahmy meyakini keberlanjutan berbagai langkah tersebut menjadi penting agar produksi yang telah dicapai dapat dipertahankan. Karena itu, optimalisasi produksi perlu dilakukan secara konsisten di tengah tantangan penurunan alamiah produksi lapangan minyak.

“Kalau upaya-upaya yang pernah dilakukan tadi tidak dilanjutkan, saya kira akan sulit untuk mencapai peningkatan atau bahkan mempertahankan produksi sekitar 608 ribu barel per hari,” demikian Fahmy.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya