Berita

Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan pidato tahunan pada 14 Agustus 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. (Foto: Setpres)

Bisnis

SBY: Target Ekonomi 6 Persen Ambisius tapi Bisa Dicapai

MINGGU, 16 AGUSTUS 2026 | 20:47 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Blueprint dan agenda pembangunan pemerintah untuk tahun anggaran 2027 semakin tajam dan memberi optimisme baru bagi masyarakat.

Demikian antara lain optimisme yang disampaikan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengapresiasi Pidato Kenegaraan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Bersama DPR-DPD RI belum lama ini.

Meski tengah berada di Amerika Serikat (AS) untuk medical check-up, SBY mengaku tetap cermat mengikuti poin-poin utama yang dipaparkan Kepala Negara.


"Arah blueprint dan agenda pembangunan yang akan dijalankan pemerintah di tahun depan menurut saya makin baik, makin jelas, dan memberikan harapan baru bagi kita semuanya," ujar SBY dikutip redaksi, Minggu, 16 Agustus 2026.

SBY tak menampik tantangan perekonomian yang dihadapi Indonesia masih cukup berat, baik dari dinamika geopolitik internasional maupun faktor domestik. Namun, ia menilai prioritas yang dirancang pemerintah sudah tepat sasaran dan menjawab kebutuhan mendasar rakyat.

"Memastikan ekonomi tetap tumbuh, pengangguran dan kemiskinan berkurang, pelayanan kesehatan dan pendidikan makin meningkat, hingga pembangunan infrastruktur. Menurut saya itu agenda yang sangat penting," tuturnya.

Secara khusus, Pendiri Partai Demokrat ini menyoroti target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok tinggi oleh pemerintah pada postur APBN 2027.

"Saya tahu sasaran pertumbuhan ekonomi misalkan 6 persen itu cukup tinggi, ambisius. Namun, meskipun ambisius, tidak berarti tidak bisa dicapai," tegas SBY optimis.

Dalam Pidato Kenegaraannya di Kompleks Parlemen Senayan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mengakselerasi program strategis nasional.

Prabowo menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan realistis merupakan instrumen utama untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian pangan serta energi nasional.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya