TANGGAL 15 Agustus 1945, Kaisar Jepang (waktu itu), Hirohito, mengumumkan keputusan Jepang untuk menyerah dalam Perang Dunia II. Keputusan itu lantas secara resmi ditandatangani pada 2 September 1945. Kekalahan Jepang itu pun mengakhiri perang.
Sebelumnya, pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi waktu setempat, pasukan Amerika Serikat lewat pesawat pengebom B-29 menjatuhkan bom atom pertama yang diberi nama "Little Boy" di Kota Hiroshima, Jepang.
Akibat bom atom itu, sekitar 70.000 hingga 135.000 orang tewas seketika, dan puluhan ribu lainnya meninggal dunia karena paparan radiasi.
Penjatuhan bom atom itu menjadi realisasi ancaman Amerika Serikat (AS) dalam Deklarasi Potsdam, 26 Juli 1945. Di dalam deklarasi tersebut, AS -- bersama Britania Raya dan Tiongkok -- menyerukan agar Jepang menyerah tanpa syarat. Jika Jepang tak mau menyerah, alternatifnya adalah "kehancuran total dan segera".
Sebab, pada pertengahan Juli 1945, pasukan Jepang menyerang AS hingga menimbulkan korban dari pihak Sekutu dengan total hampir setengah dari jumlah korban perang di Pasifik selama 3 tahun penuh.
Sehingga, tentara Sekutu lalu mengultimatum Jepang agar segera menyerah. Di akhir Juli 1945, pemerintah militer Jepang menolak permintaan menyerah dari Sekutu yang diajukan dalam Deklarasi Potsdam.
Akibat penolakan Jepang itu, pemerintah AS memutuskan menjatuhkan bom atom dari Proyek Manhattan, dengan Hiroshima dan Nagasaki sebagai target utama.
Awalnya, sebagian orang Jepang tidak percaya AS telah membuat bom atom. Sebab, ketika itu sebenarnya Angkatan Laut dan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang masing-masing telah memiliki program bom atom secara terpisah. Sehingga, waktu itu Jepang tahu benar bahwa membuat bom atom itu begitu sulit.
Ketika bom atom pertama jatuh di Hiroshima pun, Kepala Staf Umum Angkatan Laut Jepang, Laksamana Soemu Toyoda, mengatakan, jika Amerika Serikat sudah membuat sebuah bom, mereka sekarang sudah tidak punya lagi.
Menyikapi pernyataan itu, pakar strategi AS yang memang sudah menanti reaksi dari Jepang, merencanakan menjatuhkan bom atom kedua tidak lama setelah bom atom pertama dijatuhkan. Hal itu untuk meyakinkan Jepang bahwa Amerika Serikat punya banyak persediaan.
Enam belas jam setelah penjatuhan bom atom di Hiroshima, Presiden AS (waktu itu), Harry S Truman, kembali menyerukan agar Jepang menyerah. Pada larut malam tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet menyatakan perang terhadap Jepang.
Hal itu segera direalisasikan Uni Soviet dengan menginvasi negara boneka Jepang, Manchukuo, setelah tengah malam tanggal 9 Agustus 1945. Beberapa jam kemudian, pesawat pengebom B-29 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom kedua yang diberi nama "Fat Man" di kota Nagasaki, Jepang. Akibatnya, sekitar 70.000 hingga 80.000 orang tewas.
Jepang MenyerahPara pemimpin Jepang yang tergabung dalam Dewan Tertinggi untuk Pengarahan Perang (juga dikenal sebagai "Enam Besar") ketika itu secara terbuka menyatakan niat mereka untuk terus berjuang hingga akhir.
Namun, seiring dengan itu, konon mereka secara rahasia juga memohon Uni Soviet menengahi dan menginisiasi perdamaian dengan syarat yang lebih menguntungkan bagi Jepang.
Uni Soviet saat itu mempertahankan kontak diplomatik dengan Jepang dan memberi kesan bahwa mereka mungkin bersedia untuk menengahi.
Padahal, diam-diam Uni Soviet bersiap untuk menyerang pasukan Jepang di Manchuria dan Korea (selain Sakhalin Selatan dan Kepulauan Kuril), untuk memenuhi janji rahasia mereka kepada AS dan Inggris dalam Konferensi Teheran dan Yalta.
Sadar posisi negaranya sudah kian terdesak dan kekalahan telah di depan mata, Kaisar Hirohito lalu memerintahkan Dewan Tertinggi untuk Pengarahan Perang agar menerima syarat yang ditetapkan Sekutu dalam Deklarasi Potsdam.
Kemudian, tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito menyampaikan pidato yang direkam dan disiarkan lewat radio ke seluruh Kekaisaran. Isinya adalah pengumuman menyerahnya Jepang kepada Sekutu, dan Perintah Kekaisaran tentang Penghentian Perang.
Pada tengah hari 15 Agustus 1945, siaran radio Jepang yang mengumumkan menyerahnya Jepang itu diterima di Jakarta. Pidato radio tersebut sangat mengajutkan tidak saja para pembesar pemerintah pendudukan Jepang, tetapi juga di kalangan tokoh Indonesia.
Namun, tidak lama setelah pidato radio tersebut disiarkan, Laksamana Muda Tadashi Maeda menyampaikan kepastian tentang hal itu kepada Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo.
Momentum Kemerdekaan IndonesiaKekalahan Jepang itu menciptakan momentum bagi perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pejuang Indonesia melihat kekalahan Jepang itu sebagai peluang untuk bergerak cepat memanfaatkan situasi guna memproklamasikan kemerdekaan.
Waktu itu, para pejuang Indonesia melihat kesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan sendiri, bukan sebagai hadiah dari Jepang. Agar hal itu terjadi, para pemuda saat itu membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke sebuah rumah di Rengasdengklok dan mendesak mereka agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu realisasi janji dari Jepang.
Sebelumnya, Jepang memang telah berjanji akan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia. Hal itu diungkapkan Jepang ketika tiga pemimpin PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, diundang untuk datang ke Markas Besar Tentara Wilayah Selatan di Dalat, Vietnam, untuk menemui Marsekal Besar Terauchi Hisaichi.
Inti pertemuan Bung Karno, Bung Hatta, dan Radjiman dengan Terauchi Hisaichi itu ialah untuk membahas perihal kemerdekaan Indonesia. Bung Kano, Bung Hatta, dan Radjiman berangkat ke Dalat pada 9 Agustus 1945.
Pertemuan mereka terjadi pada 11 Agustus 1945. Di pertemuan tersebut, Jepang lewat Marsekal Terauchi Hisaichi berjanji memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Menurut Terauchi saat itu, Pemerintah Jepang di Tokyo memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada seluruh daerah di Hindia Belanda, namun tidak termasuk Malaya serta bekas jajahan Inggris di Kalimantan.
Di pertemuan itu pula, Terauchi Hisaichi mengatakan, awalnya kemerdekaan Indonesia akan diberikan pada 24 Agustus 1945 dan pelaksanaannya diserahkan kepada PPKI.
Namun, pemberian kemerdekaan akan dipercepat setelah peristiwa jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Tanggal 14 Agustus 1945, tiga tokoh tersebut pulang ke tanah air.
Di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945, golongan muda mendesak Bung Karno dan Bung Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sebab, mereka menganggap janji Jepang di Dalat itu hanya tipu muslihat di tengah kekalahan Jepang kepada Sekutu.
Bung Karno dan Bung Hatta tidak segera mengiyakan desakan golongan muda waktu itu. Sebab, sebelumnya mereka telah bertemu dengan Kepala Departemen Urusan Umum pemerintahan militer Jepang, Mayor Jenderal Oosugi Nishimura, di Jakarta.
Nishimura saat itu mengemukakan, Jepang harus menjaga status quo. Ia menegaskan, tidak dapat memberi izin untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan Indonesia seperti yang dijanjikan oleh Marsekal Terauchi di Dalat.
Bahkan, Nishimura mengancam akan menembak jika ada yang berani menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Soekarno dan Hatta menyesali keputusan Nishimura tersebut. Tetapi menyikapi desakan golongan muda agar segera memproklamasikan kemerdekaan, mereka lalu mendatangi Laksamana Tadashi Maeda.
Laksamana Maeda menerima mereka di rumahnya, untuk melakukan rapat guna menyiapkan teks Proklamasi. Peristiwa itu terjadi pada 16 Agustus 1945, malam.
Penyusunan teks Proklamasi dilakukan oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo. Sejumlah tokoh turut hadir dan menyaksikan. Di antaranya adalah Soekarni, B.M. Diah, Sudiro, dan Sayuti Melik.
Teks Proklamasi ditulis tangan oleh Soekarno, didiktekan oleh Mohammad Hatta. Setelah Teks Proklamasi selesai dirumuskan, Bung Karno membacakannya di ruangan itu agar semua yang hadir menyepakati.
Setelah disepakati, Sayuti Melik mengetik teks tersebut menggunakan mesin tik milik Mayor Dr. Hermanto Kusumobroto (dari kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman), didampingi oleh B.M. Diah.
Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 pagi, Soekarno membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia didampingi Mohammad Hatta.
Karena pertimbangan situasi keamanan pada saat itu, Proklamasi dibacakan di serambi depan rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta (sekarang Jalan Proklamasi Nomor 5, Jakarta Pusat).
Setelah pembacaan Teks Proklamasi, untuk pertama kalinya dilakukan pengibaran bendera pusaka Sang Merah Putih.
Segera setelah Soekarno membacakan Proklamasi, kabar tentang kemerdekaan Indonesia langsung disebarkan hingga ke seluruh pelosok negeri.
Berita Proklamasi disebarkan lewat beragam cara, mulai dari siaran radio, melalui telegram, surat kabar, pamflet, hingga disampaikan dari mulut ke mulut.
Tokoh-tokoh yang menyebarkan berita Proklamasi itu di antaranya adalah Sukarni, Supardjo, B.M. Diah, Syahruddin, dan Ki Hajar Dewantara.
Kini, masyarakat Indonesia selalu memperingati hari Proklamasi setiap tanggal 17 Agustus. Tanggal itu merupakan titik kulminasi dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, setelah sebelumnya dijajah selama bertahun-tahun.
Setelah Proklamasi dikumandangkan, masih panjang rentang perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan, agar Indonesia bisa menjadi negara yang merdeka sebenar-benarnya seperti sekarang.
Banyak pengorbanan para pendahulu kita untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Maka, sudah sepatutnya kita selalu mengingat, mengenang, dan mensyukuri kemerdekaan itu sebagai rahmat Allah SWT dan hasil perjuangan bangsa Indonesia.
Yogi W UtomoWartawan senior