LUPAKAN sejenak soal upah mengupas bawang Rp700 ribu per kilogram. Sekarang kita beralih ke Aceh dan Papua. Saat ini dua provinsi itu sedang menguji Merah Putih jelang 17 Agustus. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu 15 Agustus 2026, awalnya berlangsung khidmat.
Ribuan warga dari berbagai kabupaten/kota mengikuti zikir, doa tolak bala, dan orasi memperingati 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2005.
Ribuan warga dari berbagai kabupaten/kota mengikuti zikir, doa tolak bala, dan orasi memperingati 21 tahun penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2005.
Namanya Hari Damai. Mestinya adem. Ternyata sekitar pukul 11.25 WIB, suasana berubah seperti sinetron yang tiba-tiba masuk episode perang.
Setelah orasi berakhir, sebagian massa yang tergabung dalam gabungan anak syuhada dan sejumlah elemen masyarakat hendak menurunkan Merah Putih dari salah satu tiang kompleks masjid dan menggantinya dengan bendera bulan bintang.
Seseorang memanjat tiang, membuka tali Merah Putih, lalu melemparkannya ke bawah. Dua warga kemudian ikut memanjat membawa bendera bulan bintang.
Aparat TNI yang berjaga melarang aksi tersebut. Beberapa kali tembakan peringatan dilepaskan ke udara. Massa spontan tiarap.
Bukannya tenang, suara tembakan malah memanaskan suasana. Massa mengejar personel TNI hingga ke depan Gedung DPRK Banda Aceh dan lampu Simpang Kodim.
Batu, botol air mineral, dan benda keras beterbangan. Mobil personel Brigade Mobil ikut dilempari hingga sejumlah kendaraan di samping masjid rusak.
Aparat gabungan TNI-Polri kemudian melepaskan tembakan peringatan tambahan, menyemprotkan air, dan menggunakan gas air mata.
Di tengah kericuhan, satu sepeda motor dinas TNI yang terparkir di area masjid dibakar. Sejumlah warga terluka, satu di antaranya mengalami luka kepala dan dilarikan ke rumah sakit. Selongsong peluru ditemukan berserakan di jalan.
Kericuhan akhirnya mereda, tetapi massa masih bertahan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman sambil memprotes larangan pengibaran bendera bulan bintang. Aparat melokalisasi kawasan agar keributan tidak meluas ke pusat kota.
Belum selesai Aceh, Papua menghadirkan babak lain menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026.
Kelompok TPNPB-OPM melalui juru bicara Sebby Sambom dan sejumlah komandan lokal, termasuk Kodap III Ndugama, melarang masyarakat asli Papua dan pejabat daerah menggelar atau mengikuti upacara Merah Putih.
Mereka menyebut perayaan cukup dilakukan di Jakarta bersama Presiden dan mengimbau pengibaran Bintang Kejora serta upacara pada 1 Desember.
Ancaman penggagalan disampaikan khusus untuk Wamena dan sekitarnya, dengan klaim pasukan siap membuka medan perang hingga pusat kota.
Wilayah yang disebut zona konflik dan dilarang dimasuki non-Papua serta aparat keamanan meliputi Yahukimo, Pegunungan Bintang, Nduga, Puncak Jaya, Intan Jaya, Maybrat, Dogiyai, Paniai, dan Deiyai.
Ancaman muncul di tengah dugaan intimidasi, penganiayaan, pembunuhan terhadap warga sipil, guru, misionaris, penginjil, serta pembakaran fasilitas sekolah oleh kelompok bersenjata.
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menegaskan TNI-Polri tidak terpengaruh ancaman. Pengamanan diperketat dan personel ditebalkan di Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Polda Papua menyiagakan sekitar 7.000 personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah daerah untuk mengamankan rangkaian peringatan di Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kedaulatan Negara Lenis Kogoya juga meminta OPM mengosongkan Wamena dan sekitarnya agar aktivitas masyarakat dan persiapan HUT ke-81 tidak terganggu.
Namun di Sentani, Kabupaten Jayapura, suasana justru meriah. Kirab dan pembentangan Merah Putih raksasa berukuran 120 x 80 meter melibatkan sekitar 1.200 peserta dari TNI-Polri, Basarnas, pelajar, dan masyarakat.
Jelang 17 Agustus, Indonesia seperti punya dua layar. Di satu layar, Merah Putih dibentangkan raksasa. Di layar lain, bendera diperebutkan.
Semoga yang berkibar pada 17 Agustus bukan emosi, batu, atau gas air mata. Sebab kemerdekaan mestinya dirayakan dengan kepala tegak, bukan kepala sibuk menghindari lemparan batu.
Rosadi Jamani
Mantan Wartawan