Berita

SPBU swasta. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Pajak Karbon Motor Bensin Bisa Tekan Emisi dan Ketergantungan Impor BBM

SABTU, 15 AGUSTUS 2026 | 14:25 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Wacana Presiden Prabowo Subianto menerapkan pajak karbon atau carbon tax bagi sepeda motor berbahan bakar bensin dinilai dapat menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mempercepat transisi energi.

Pengamat pajak sekaligus Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI) Prianto Budi Saptono menilai kebijakan tersebut juga memiliki tujuan mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.

"Secara makro, tujuannya jelas untuk menekan angka emisi global sekaligus mengurangi ketergantungan APBN pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM)," kata Prianto kepada RMOL, Sabtu 15 Agustus 2026.


Menurutnya, penerapan pajak karbon terhadap sepeda motor cukup relevan dari sisi lingkungan. Sebab, populasi sepeda motor di Indonesia sangat besar dan penggunaannya mendominasi mobilitas masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan.

"Secara ekologis, kebijakan ini dapat dianggap sangat tepat. Populasi sepeda motor di Indonesia mendominasi jalanan. Kontribusinya sangat besar terhadap polusi udara, terutama di kota-kota metropolitan," ujarnya.

Prianto menjelaskan, pemerintah mengombinasikan pemberian insentif dengan disinsentif untuk mempercepat peralihan masyarakat dari kendaraan berbahan bakar bensin menuju kendaraan listrik.

"Wacana ini merupakan manifestasi dari strategi "Carrot and Stick" (Insentif dan Hukuman) pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV)," jelasnya.

Ia menerangkan, istilah carrot merepresentasikan insentif yang akan diberikan pemerintah untuk membuat kendaraan listrik semakin menarik bagi masyarakat. Insentif yang dijanjikan tersebut antara lain melalui skema tukar tambah (trade-in), DP 0 persen, penurunan bunga cicilan, serta klaim penghematan biaya operasional harian hingga 50-70 persen.

Sementara stick, kata Prianto, merupakan instrumen disinsentif berupa rencana penerapan carbon tax dan pembatasan ruang gerak kendaraan bermotor berbahan bakar bensin.

"Tujuannya adalah agar masyarakat tidak terus berada dalam zona nyaman kendaraan berbahan bakar fosil. Contoh implementasi kebijakan demikian ada di Kota Beijing," jelasnya.

Dengan kombinasi kedua pendekatan tersebut, Prianto menilai pemerintah perlu mendorong perubahan perilaku masyarakat secara bertahap, sambil mempersiapkan implementasi dengan matang.

"Transisi perlu dilakukan secara bertahap, sehingga pajak tidak dikenakan secara masif. Untuk hal ini, pemerintah dapat menetapkan tarif Rp0 selama 2-3 tahun pertama sebagai masa adaptasi. Secara perlahan, tarif tersebut dinaikkan seiring bertambahnya jumlah stasiun pengisian daya (charging stations),"tandasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan penerapan pajak karbon untuk kendaraan berbahan bakar fosil. Menurut Prabowo, kebijakan serupa telah menjadi bagian dari upaya pengendalian emisi di sejumlah negara.

Prabowo menyebut penerapan pajak karbon dapat meningkatkan biaya penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin. Kondisi tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik.

"Dan nanti mungkin karena ini sudah kebutuhan dunia jadi ada namanya carbon tax di kota-kita besar seperti Beijing gak bisa motor bensin masuk, jadi ini warning aja yang masih nekat gandrung dengan motor bensin," kata Prabowo saat meluncurkan motor listrik nasional di Cikarang, Bekasi, Kamis 13 Agustus 2026.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya