Berita

Jurubicara KPK, Budi Prasetyo (Foto: RMOL)

Hukum

KPK Duga Ada Upaya Ubah Bentuk Uang Hasil Penerimaan Pajak Banjarmasin

JUMAT, 14 AGUSTUS 2026 | 08:39 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga adanya upaya mengubah bentuk uang atau aset yang diduga diterima penyelenggara negara dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Banjarmasin.

Dugaan tersebut menjadi salah satu fokus pengembangan penyidikan perkara dugaan korupsi terkait pemeriksaan restitusi pajak di KPP Madya Banjarmasin, yang kini telah merambah sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Jurubicara KPK, Budi Prasetyo mengatakan, dugaan pengubahan bentuk uang atau aset tersebut berkaitan dengan penerbitan tiga surat perintah penyidikan (Sprindik) dalam pengembangan perkara Banjarmasin, termasuk Sprindik tindak pidana pencucian uang (TPPU).


"Artinya penyidik menduga ada upaya-upaya pengubahan bentuk atas uang ataupun aset-aset yang diduga diterima oleh para penyelenggara negara dan ASN di lingkup KPP Madya Banjarmasin ini," kata Budi kepada wartawan, Jumat, 14 Agustus 2026.

Budi menjelaskan, pengembangan dilakukan lantaran penyidik menduga terdapat penerimaan lain yang dilakukan penyelenggara negara maupun PNS di lingkungan KPP Madya Banjarmasin, di luar perkara yang telah diungkap sebelumnya.

"Untuk pengembangan penyidikan perkara ini karena memang diduga ada penerimaan-penerimaan lain yang dilakukan oleh penyelenggara negara ataupun PNS di lingkungan KPP Madya Banjarmasin," ujar Budi.

Penyidik kemudian menelusuri sumber penerimaan tersebut, termasuk untuk mengetahui kaitannya dengan proses perpajakan tertentu yang dilakukan wajib pajak.

"Sehingga pajak penerimaan-penerimaan tersebut penyidik butuh untuk melakukan pengembangan, menelusuri lebih dalam lagi penerimaan ini dari mana, berkaitan dengan proses apa," jelas Budi.

Menurut Budi, dugaan penerimaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan restitusi pajak. Sebab, layanan perpajakan memiliki banyak proses bisnis yang membuka peluang terjadinya kesepakatan ilegal antara fiskus dan wajib pajak.

"Karena memang kalau kita bicara layanan perpajakan itu kan prosesnya banyak, tidak hanya soal restitusi pajak tapi juga banyak proses bisnis-proses bisnis lainnya yang tentu itu juga terbuka peluang untuk kemudian jadi permufakatan antara fiskus atau pegawai pajak dengan wajib pajak," tegas Budi.

Untuk membongkar dugaan tersebut, KPK membutuhkan alat bukti tambahan guna menetapkan pihak-pihak yang diduga terlibat sebagai tersangka.

"Karena memang dalam pengembangan penyidikan ini KPK masih menggunakan sprindik umum," terang Budi.

Pencarian alat bukti itu kemudian dilakukan melalui serangkaian penggeledahan di sejumlah wilayah, termasuk Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Surakarta serta rumah dan kantor pihak swasta di Klaten, Jombang, Surabaya, dan Malang.

Dalam penggeledahan di Malang, penyidik menemukan emas seberat 1,3 kilogram dan uang tunai Rp100 juta dari rumah salah satu pegawai pajak yang merupakan pemeriksa.

"Aset-aset itu diduga terkait dengan penyidikan yang sedang dilakukan, sehingga atas aset-aset itu kemudian dilakukan penyitaan," ujar Budi.

KPK juga langsung memeriksa sejumlah saksi di Polresta Surakarta dan Polrestabes Surabaya untuk mengonfirmasi temuan dari rangkaian penggeledahan tersebut.

"Detailnya seperti apa, karena memang ini pemeriksaan saksi masih berjalan ya di dua lokasi, di Polresta Surakarta dan juga di Polrestabes Surabaya," kata Budi.

Penggeledahan di Surakarta, kata Budi, dipastikan masih berkaitan dengan pengembangan perkara yang bermula dari KPP Madya Banjarmasin. Namun, KPK masih mendalami relevansi masing-masing lokasi dengan konstruksi perkara.

"Tentu ini ada kaitannya sehingga perlu dilakukan penggeledahan," ungkap Budi.

KPK sebelumnya telah menerbitkan tiga Sprindik dalam pengembangan perkara tersebut. Sprindik pertama berkaitan dengan pihak pemberi, Sprindik kedua mengenai pihak penerima, sedangkan Sprindik ketiga berkaitan dengan TPPU.

Dalam konstruksi awal perkara, KPK telah menetapkan Mulyono selaku Kepala KPP Madya Banjarmasin, Dian Jaya Demega selaku fiskus, serta Venasius Jenarus Genggor alias Venzo selaku Manajer Keuangan PT Buana Karya Bhakti sebagai tersangka dugaan suap pengurusan restitusi pajak.

KPK kini memperluas pengusutan untuk membongkar dugaan penerimaan lain di lingkungan KPP Madya Banjarmasin sekaligus menelusuri kemungkinan aset hasil penerimaan tersebut telah dialihkan atau diubah bentuknya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya