Berita

Ilustrasi

Politik

Pilkada Tanpa Wakil Kepala Daerah untuk Hindari Konflik Kepentingan

JUMAT, 14 AGUSTUS 2026 | 08:00 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) tanpa posisi wakil kepala daerah dinilai pengamat komunikasi politik Hendri Satrio sebagai usulan yang sah.

Menurut Hensa, sapaan akrabnya, perubahan mekanisme tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk meminimalkan potensi konflik kepentingan antara kepala daerah dan wakilnya setelah memenangkan kontestasi politik.

"Wacana ini menurut saya bagus untuk menghindari konflik kepentingan. Selama ini bisa saja wakil kepala daerah memiliki peran besar dalam penyediaan logistik atau sumber daya ketika Pilkada. Setelah menang, kemudian muncul pembicaraan soal pembagian peran, kewenangan, atau kepentingan tertentu," kata Hensa, Jumat, 14 Agustus 2026.


Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan apabila kepala daerah dan wakil kepala daerah memiliki kepentingan berbeda ketika mulai menjalankan pemerintahan.

Sebab hubungan yang awalnya dibangun untuk memenangkan Pilkada belum tentu dapat bertahan ketika keduanya harus berbagi kewenangan selama satu periode pemerintahan.

"Ketika sejak awal ada semacam kontribusi politik masing-masing, setelah terpilih tentu bisa muncul ekspektasi. Wakil merasa punya kontribusi terhadap kemenangan, kemudian meminta bagian tertentu dalam pemerintahan. Kepala daerah juga punya agenda sendiri. Dari situ potensi konfliknya bisa muncul," ujarnya.

Selain mengurangi potensi konflik kepentingan, mekanisme tanpa pemilihan wakil kepala daerah secara berpasangan juga dapat memberikan keleluasaan kepada kepala daerah terpilih untuk menentukan figur yang dinilai paling tepat mendampinginya.

"Keuntungan lainnya, kepala daerah yang sudah mendapatkan mandat dari masyarakat bisa memilih orang yang tepat untuk bekerja sama dengannya memimpin daerah selama satu periode," ucap Hensa.

Dengan demikian, pemilihan sosok pendamping dapat lebih mempertimbangkan kebutuhan pemerintahan daerah, mulai dari kompetensi, pengalaman, hingga kemampuan bekerja sama dengan kepala daerah.

"Jadi, pertimbangannya bukan lagi karena siapa yang membawa logistik, siapa yang membawa dukungan politik, atau siapa yang harus mendapatkan bagian setelah Pilkada. Idealnya, yang dicari adalah orang yang memang dibutuhkan untuk membantu pemerintahan berjalan efektif," tandasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya