SAYA pernah menonton sebuah film di bioskop. Judul dan ceritanya sudah lama saya lupa. Tetapi ada satu hal yang justru saya ingat sampai sekarang: iklan sebelum film dimulai.
Iklan itu adalah iklan kulkas Sharp.
Yang menarik, iklan tersebut tidak menjual lamanya waktu pemakaian, bukan pula soal efisiensi listrik atau harga murah. Yang ditonjolkan justru sertifikat halal.
Saya kemudian berpikir: apa hubungan kulkas dengan sertifikat halal?
Iklan itu diputar di bioskop yang tentu saja bukan tempat murah untuk beriklan. Berarti ada perhitungan mengenai siapa yang menjadi sasaran.
Saya kemudian menarik kesimpulan sederhana: ada pasar kelas menengah Muslim yang besar, dan mereka adalah konsumen yang menarik untuk dibidik.
Pikiran saya kemudian berjalan lebih jauh.
Saya teringat demonstrasi 212. Hotel hotel di sepanjang Sudirman-Thamrin penuh. Kawasan sekitar Monas juga dipenuhi orang. Saya teringat Masjid Kubah Emas di Cinere yang selalu ramai dikunjungi.
Lalu saya berpikir tentang Ancol.
Kalau Ancol memiliki sebuah ikon wisata religi berupa masjid apung, bukankah itu bisa menjadi sumber pemasukan sekaligus daya tarik baru yang nilainya bahkan mungkin melampaui sejumlah wahana yang selama ini menjadi ikon Ancol?
Jakarta dan Jabodetabek memiliki puluhan juta penduduk. Di dalamnya ada kelompok perempuan, ibu ibu pengajian, kelompok arisan, komunitas keluarga, yang setiap bulan mencari tempat baru untuk dikunjungi.
Mereka mencari destinasi, berfoto, makan bersama, berkumpul, sekaligus menjalankan kegiatan keagamaan.
Mengapa tidak Ancol menangkap pasar itu?
Malam itu saya berpikir: bagaimana menjelaskan gagasan ini kepada direksi Ancol?
Saya tidak ingin gagasan ini masuk ke ruang rapat sebagai semangat keagamaan. Saya ingin membicarakannya sebagai gagasan bisnis.
Ancol adalah perusahaan. Karena itu saya harus berbicara dengan bahasa perusahaan.
Saya tidak menyampaikannya sekaligus dalam rapat. Saya mendatangi para direksi satu per satu agar kami bisa berbicara lebih panjang dan terbuka.
Saya mulai dari Pak Paul Tehusijarana, ketika beliau menjabat sebagai Direktur Utama.
Saya jelaskan gagasan saya: Ancol perlu memiliki sebuah ikon baru. Bukan sekadar masjid, tetapi destinasi wisata religi yang mempunyai cerita, desain, pengalaman, dan nilai ekonomi.
Pak Paul mengatakan kurang lebih begini:
“Saya setuju. Mari kita masukkan dalam agenda rapat direksi dan komisaris.”
Setelah itu saya berbicara dengan Pak Daniel Nainggolan, Direktur Keuangan.
Sebagai orang keuangan, pertanyaan Pak Daniel tentu berbeda.
“Berapa angkanya?”
Saya menjawab dengan yakin:
“Tidak lebih dari Rp50 miliar.”
Pak Daniel heran.
“Lho, kok bisa? Di Bandung saja membangun masjid sampai satu triliun.”
Saya tertawa.
“Pak Daniel, di Jakarta ini sudah ada sejuta masjid. Kita tidak sedang membangun masjid besar-besaran. Kita sedang membangun masjid sebagai wisata religi.”
Saya membayangkan masjid itu cukup untuk sekitar 2.000 orang.
Yang penting bukan ukurannya.
Yang penting adalah cerita dan pengalaman yang ditawarkan.
Saya tidak ingin membangun sebuah masjid tanpa konteks. Saya ingin ada cerita tentang sejarah Jakarta, terutama sejarah Islam di utara Jakarta.
Ada sejarah pelabuhan, perdagangan, perjumpaan berbagai bangsa dan kebudayaan. Ada cerita tentang Laksamana Cheng Ho, jalur perdagangan, Turki Usmani, dan perjalanan Islam yang berhubungan dengan sejarah Jakarta.
Masjid itu harus menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah.
Karena itu saya meminta Syamsuddin Ch. Haesy, seorang sejarawan, untuk menulis sejarah Islam di Jakarta sebagai bagian dari gagasan tersebut.
Dari gagasan dan narasi sejarah itulah kemudian Andra Matin menerjemahkannya ke dalam desain arsitektur.
Saya ingin masjid itu indah.
Bukan indah karena kemegahan yang berlebihan, tetapi indah karena gagasannya.
Pada 27 Maret 2019, pukul 11.35 WIB, keputusan pembangunan Masjid Apung di Ancol akhirnya diketuk.
Bagi saya, itu bukan sekadar keputusan pembangunan sebuah gedung.
Itu adalah kemenangan sebuah gagasan.
Setelah keputusan tersebut, saya terus mengikuti prosesnya. Saya berbicara dengan direksi lainnya satu per satu. Saya juga berbicara dengan para komisaris.
Sengaja saya lakukan terpisah agar pembicaraannya benar benar menjadi diskusi, bukan sekadar persetujuan formal.
Pada November 2019, pembangunan Masjid Apung memasuki tahap
groundbreaking.Ketika itu semuanya terasa semakin nyata.
Saya gembira.
Saya mengikuti proses demi proses.
Saya membayangkan sebentar lagi bangunan itu akan berdiri di atas laut.
Tetapi kemudian datang sesuatu yang tidak pernah kami perhitungkan.
Pandemi Covid-19.
Ancol ditutup. Pendapatan tergerus. Perusahaan harus bertahan hidup. Proyek proyek yang sebelumnya berjalan harus dihitung ulang.
Mimpi tentang Masjid Apung pun terhenti.
Tetapi idenya tidak mati.
Semangatnya juga tidak mati.
Hanya saja, uangnya tidak ada.
Saya kemudian menghubungi M. Taufik, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta ketika itu. Saya meminta bertemu, bercerita, berkeluh kesah, dan meminta bantuan mencari jalan keluar agar Masjid Apung tetap bisa dibangun.
Taufik, seperti biasa, menjawab dengan enteng:
“Gampang. Lu minta sama Anies agar dana KLB dipindahkan ke Masjid Apung.”
Saya gembira mendengarnya.
Saya kemudian mendatangi pejabat Asisten Perekonomian Pemprov DKI dan menyampaikan gagasan yang diberikan sahabat saya itu.
Jawabannya sederhana:
“Tak semudah itu.”
Ada birokrasi yang harus dilewati.
Ancol kemudian mengalami pergantian sebagian direksi. Situasi pandemi masih berat. Saya kembali mencari jalan lain.
Seorang teman yang menjadi direksi Bank DKI saya hubungi untuk bertemu. Saya tahu ketika itu Bank DKI mendapatkan suntikan dana sekitar Rp2 triliun.
Saya bertanya apakah mungkin Ancol mendapatkan kredit untuk membiayai pembangunan Masjid Apung.
Jawabannya:
“Bisa.”
Saya kembali ke Ancol.
Saya berbicara dengan Pak Hary, yang saat itu menjadi Direktur Keuangan yang baru.
Tetapi lagi lagi ada proses yang harus dilewati.
Proses itu menjadi lamban.
Kemudian semakin lamban.
Lalu terkatung-katung.
Sampai akhirnya saya marah.
Tetapi saya tidak marah kepada direksi Ancol.
Saya tidak memarahi aparat Pemprov DKI.
Saya datang membawa kemarahan itu kepada Gubernur Anies Baswedan.
Saya ceritakan kebuntuan yang saya hadapi. Saya ceritakan proses yang seolah olah tidak pernah menemukan ujung.
Saya katakan bahwa kalau keadaan seperti ini terus berlangsung, proyek yang sudah dimulai itu akan kehilangan harapan.
Saya tidak tahu persis apa yang dilakukan Anies.
Saya tidak tahu langkah apa yang dia ambil.
Saya hanya tahu bahwa tidak lama kemudian Pak Teuku Sahir Syahali, Direktur Utama Ancol, menghubungi saya.
“Pak Geis, ada kabar gembira.”
“Kabar apa?”
“Masjid Apung akan tetap dibangun. Pak Anies sudah perintahkan.”
Saya spontan menjawab:
“Alhamdulillah.”
Bagi saya, itu adalah titik balik.
Saya memahami satu hal: waktu Anies sebagai Gubernur tinggal beberapa bulan.
Karena itu, pembangunan harus segera mendapatkan kepastian.
Lokasinya kemudian berubah. Maka harus ada
groundbreaking kembali. Nama masjid juga harus segera ditegaskan agar proyek tersebut memiliki identitas dan tidak mudah dihentikan oleh pemerintahan berikutnya.
Nama "Masjid Apung Jakarta" diberikan oleh Anies karena sudah melekat dalam perjalanan gagasan ini sejak awal dan diperkenalkan dalam rangkaian pembangunan pada era Anies.
Hari ini, perjalanan itu sudah sampai pada babak yang berbeda.
Masjid Apung Ancol akhirnya benar benar dibangun.
Bagi saya, selesainya pembangunan ini bukan hanya tentang berdirinya sebuah bangunan di atas laut.
Ini adalah tentang sebuah gagasan yang pernah hampir berhenti, tetapi akhirnya menemukan jalan untuk diwujudkan.
Karena itu saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno yang telah menuntaskan perjalanan panjang ini.
Saya tahu sebuah proyek tidak pernah selesai hanya karena satu orang.
Ada banyak orang yang bekerja, banyak keputusan yang diambil, banyak proses yang harus dilewati, dan banyak pihak yang ikut menjaga agar gagasan ini tidak mati di tengah jalan.
Tetapi pada akhirnya ada orang yang harus memastikan bahwa pekerjaan yang sudah dimulai dapat diselesaikan.
Untuk itu, kepada Pak Pramono Anung dan Bang Rano Karno, saya menyampaikan terima kasih.
Masjid Apung Jakarta akhirnya bukan lagi sekadar gagasan yang saya ceritakan dari satu ruang ke ruang lainnya.
Ia telah menjadi kenyataan.
Sebentar lagi masjid ini akan diresmikan. Memang masjid ini belum digunakan untuk salat, belum diresmikan, tetapi ketika saya melihat masjid itu berdiri gagah di atas air, saya tidak mampu menahan perasaan.
Air mata saya jatuh.
Mungkin karena saya teringat bagaimana semuanya bermula.
Sebuah iklan kulkas Sharp di sebuah bioskop.
Sebuah pertanyaan sederhana tentang sertifikat halal.
Lalu sebuah gagasan yang saya bawa dari satu orang ke orang lainnya.
Gagasan yang sempat diketuk dalam rapat, kemudian dibangun, terhenti oleh pandemi, hampir mati karena ketiadaan dana, tersendat oleh birokrasi, lalu akhirnya menemukan jalan kembali.
Dan sekarang saya bisa melihat wujudnya.
Masjid Apung Jakarta berdiri gagah.
Bagi saya, air mata itu bukan hanya karena melihat sebuah masjid.
Tetapi karena melihat sebuah gagasan yang hampir hilang akhirnya menjadi kenyataan.
Kalau hari ini orang melihat sebuah masjid berdiri di atas laut, mungkin yang terlihat hanyalah sebuah bangunan.
Bagi saya, yang terlihat jauh lebih panjang.
Saya melihat sebuah iklan kulkas Sharp di bioskop.
Saya melihat sebuah pertanyaan kecil di kepala saya:
Apa hubungan kulkas dengan sertifikat halal?
Dari pertanyaan kecil itu, pikiran saya kemudian berjalan ke pasar kelas menengah Muslim.
Dari sana saya berpikir tentang wisata religi.
Dari wisata religi saya berpikir tentang Ancol.
Dari Ancol lahir gagasan Masjid Apung.
Kemudian ada rapat direksi, diskusi dengan komisaris, sejarawan, arsitek, anggaran Rp50 miliar, groundbreaking, pandemi, kebuntuan birokrasi, M. Taufik, Bank DKI, Anies Baswedan, pergantian direksi, Pramono Anung, Rano Karno, dan perjalanan panjang yang hampir membuat semuanya berhenti.
Begitulah perjalanan sebuah gagasan.
Tidak selalu berjalan lurus.
Tidak selalu seindah dongeng.
Tetapi selama gagasan itu tidak mati, selalu ada kemungkinan ia menemukan jalannya.
Dan hari ini, ketika Masjid Apung itu akhirnya berdiri, saya hanya bisa mengatakan:
Alhamdulillah.
Geisz ChalifahInisiator Masjid Apung Ancol