Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Bursa saham Eropa bergerak menguat pada perdagangan Selasa, dengan sejumlah indeks utama mencatat rekor baru. Penguatan saham teknologi dan energi menjadi penopang utama pasar, meski investor masih mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Euro STOXX 50 naik 0,5 persen ke rekor 6.553, sedangkan STOXX Europe 600 menguat tipis ke rekor 660,8.
DAX Jerman juga mencatat rekor setelah naik 0,3 persen menjadi 26.385. Sementara itu, CAC 40 Prancis turun 0,1 persen ke 8.715, FTSE MIB Italia relatif datar di 53.706, dan FTSE 100 Inggris bergerak tipis.
Saham teknologi menjadi salah satu penggerak utama. ASML melonjak 2,7 persen setelah Bernstein menaikkan rekomendasi saham tersebut. Siemens Energy juga menguat 3,2 persen setelah mencatat pesanan turbin gas dalam jumlah besar pada kuartal kedua. Prospek pembangunan pusat data yang membutuhkan pasokan listrik besar turut menopang saham perusahaan infrastruktur energi.
Saham energi ikut menguat seiring meningkatnya perhatian terhadap pasokan minyak akibat ketegangan AS dan Iran. TotalEnergies naik 1,4 persen, sementara Eni menguat 2 persen. Di Inggris, BP dan Shell masing-masing naik 1,8 persen dan 1,4 persen.
Namun, kenaikan pasar tidak terjadi merata. Saham barang mewah dan industri Prancis tertekan, dengan LVMH turun 0,8 persen dan Airbus melemah 1 persen. Di Jerman, Adidas merosot 3 persen, sedangkan Stellantis di Italia turun 2,6 persen akibat kekhawatiran meningkatnya persaingan dari produsen otomotif China.
Di Inggris, saham defensif seperti AstraZeneca, GSK, dan Unilever juga melemah. Meski demikian, data ekonomi menunjukkan konsumsi domestik masih cukup kuat. Penjualan ritel Inggris tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Juli, sementara belanja konsumen yang dipantau Barclays meningkat 2 persen, menjadi pertumbuhan terkuat tahun ini.
Pergerakan pasar selanjutnya masih akan sangat dipengaruhi perkembangan Timur Tengah, khususnya prospek kesepakatan AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Investor menimbang potensi meredanya gangguan pasokan energi dengan risiko kembali meningkatnya ketegangan yang dapat mendorong harga minyak dan inflasi.