Berita

Ilustrasi

Editorial

Lima Bank, Lima Medan Perang

SENIN, 10 AGUSTUS 2026 | 08:55 WIB | OLEH: RENI ERINA

KELOMPOK perbankan milik negara yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), bersama Bank Syariah Indonesia (BSI), kerap dianggap bersaing memperebutkan pasar yang sama.

Padahal, lima bank besar tersebut tidak benar-benar bertarung di medan yang sama. Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BSI memang sama-sama mengejar pertumbuhan bisnis dan laba, tetapi masing-masing memiliki kekuatan, basis nasabah, serta segmen bisnis yang berbeda.

Menurut saya, perbedaan itu membuat peta persaingan Himbara menjadi lebih menarik. Ada bank yang unggul karena skala aset dan korporasi, ada yang kuat karena kedalaman bisnis mikro dan UMKM, sementara bank lainnya memiliki ceruk khusus seperti pembiayaan perumahan dan perbankan syariah.


Bank Mandiri, misalnya, mengokohkan posisinya sebagai pemain terbesar dari sisi skala bisnis dan kekuatan korporasi. Pada semester I 2026, Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun, melonjak 24,4 persen secara tahunan.

Kekuatan Mandiri tidak hanya terletak pada besarnya aset, tetapi juga jaringan bisnis wholesale dan kemampuannya menyalurkan pembiayaan dalam skala besar. Posisi tersebut membuat Mandiri menjadi salah satu bank utama bagi korporasi, BUMN, hingga proyek-proyek berskala besar yang membutuhkan pembiayaan jumbo.

Jika Mandiri kuat di sektor korporasi, BRI justru membangun kekuatannya dari lapisan ekonomi yang berbeda. Bank ini menjadikan segmen mikro dan UMKM sebagai medan utama persaingannya.

Pada kuartal I 2026, total kredit dan pembiayaan BRI mencapai Rp1.562 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1.211 triliun mengalir ke segmen UMKM.

Kedalaman penetrasi BRI di sektor tersebut menjadi salah satu keunggulan yang sulit dipisahkan dari karakter bisnisnya. Jaringan yang luas hingga ke berbagai daerah membuat BRI mampu menjangkau pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi bagian penting dari perekonomian nasional.

Kekuatan tersebut turut tercermin pada kinerja laba. Pada periode yang sama, BRI membukukan laba bersih Rp15,5 triliun. Angka ini bahkan sedikit berada di atas laba Mandiri yang mencapai Rp15,4 triliun pada kuartal I 2026.

Sementara itu, BNI memilih memperkuat posisinya melalui bisnis korporasi dan jaringan internasional. Pada semester I 2026, BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun, sementara kredit tumbuh 24,4 persen menjadi Rp968,5 triliun.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa BNI masih memiliki ruang ekspansi yang kuat di segmen korporasi, komersial, usaha kecil dan konsumer. Koneksi bisnis internasional juga menjadi salah satu karakter yang membedakan BNI dari bank Himbara lainnya.

Medan perang BNI dengan demikian bukan sekadar mengejar besarnya penyaluran kredit, tetapi memperkuat hubungan dengan nasabah korporasi sekaligus memenuhi kebutuhan bisnis yang semakin terhubung dengan aktivitas perdagangan dan pasar global.

Berbeda dengan tiga bank tersebut, BTN menunjukkan bahwa kekuatan sebuah bank tidak selalu ditentukan oleh besarnya aset. Bank ini memiliki ceruk bisnis yang sangat spesifik dan telah menjadi kekuatan utamanya selama bertahun-tahun, yakni pembiayaan perumahan.

BTN terutama dikenal melalui bisnis Kredit Pemilikan Rumah (KPR), termasuk KPR subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Posisi tersebut membuat BTN berada di tengah ekosistem perumahan yang mencakup konsumen, pengembang, hingga berbagai sektor pendukung industri properti.

Kinerja semester I 2026 juga menunjukkan penguatan bisnis tersebut. BTN membukukan laba bersih Rp2,40 triliun, tumbuh 40,8 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, kualitas kredit membaik dengan rasio non-performing loan (NPL) turun menjadi 2,99 persen dari 3,3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Artinya, BTN tidak perlu mengejar Mandiri, BRI atau BNI dari sisi ukuran aset untuk membuktikan kekuatannya. Bank ini mempunyai wilayah bisnis yang lebih spesifik, tetapi sekaligus menjadi salah satu pemain utama dalam pembiayaan perumahan nasional.

Peta Himbara kemudian dilengkapi oleh BSI yang memiliki medan berbeda dari empat bank lainnya. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI membangun kekuatan melalui pertumbuhan industri keuangan syariah dan ekosistem halal.

Hingga Mei 2026, BSI mencatat laba bersih Rp3,39 triliun, tumbuh 16,73 persen secara tahunan. Pembiayaannya mencapai Rp335 triliun.

Bisnis BSI juga ditopang berbagai segmen, mulai dari konsumer, UMKM hingga pembiayaan berbasis emas. Karakter tersebut membuat BSI memiliki ruang pertumbuhan yang tidak sepenuhnya sama dengan empat bank Himbara lainnya.

Pada akhirnya, peta persaingan lima bank tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu penguasa yang unggul di seluruh medan.

Mandiri memiliki skala dan kekuatan korporasi. BRI mempunyai kedalaman di sektor mikro dan UMKM. BNI memperkuat bisnis korporasi sekaligus koneksi internasional. BTN menguasai ceruk pembiayaan perumahan. Sementara BSI memiliki posisi kuat di industri perbankan syariah.

Karena itu, pertanyaan mengenai siapa penguasa Himbara tidak cukup dijawab hanya dengan melihat siapa yang memiliki aset atau laba terbesar. Jawabannya bergantung pada medan yang digunakan.

Mandiri bertarung di arena pembiayaan berskala besar. BRI merangkul pasar rakyat dan UMKM. BNI menghubungkan bisnis dengan pasar global. BTN menopang kebutuhan pembiayaan rumah. Sementara BSI memperluas ekonomi syariah.

Lima bank, lima medan perang. Masing-masing memiliki wilayah kekuasaan sendiri.


Penulis adalah redaktur RMOL.id

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya