Acara Maiyah Kebangsaan di Wonosobo, Jawa Tengah, yang diselenggarakan Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) bersama Jaga Tunas Bumi (JATUBU). (Foto: Ist)
Pengamat politik Rocky Gerung, Tenaga Ahli Madya DPN Kemhan Sabrang Mowo Damar Panuluh, hingga Menteri Lingkungan Hidup M. Jumhur Hidayat membedah tantangan kapitalisme global dan perlawanan terhadap narasi hoaks dalam acara Maiyah Kebangsaan di Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Acara yang diinisiasi Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) bersama Jaga Tunas Bumi (JATUBU) tersebut menjadi wadah diskusi tajam mengenai kemandirian ekonomi desa dan perlindungan terhadap program-program kerakyatan pemerintah.
Dalam pemaparannya, Rocky Gerung menyoroti derasnya propaganda dan narasi negatif yang menyerang program strategis pemerintah, seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
"Sinisme kita saat ini telah mendahului akal sehat kita," kritik Rocky dikutip redaksi, Minggu, 9 Agustus 2026.
Rocky menilai, narasi menyesatkan terhadap program kerakyatan disengaja oleh kelompok tertentu yang berkepentingan mempertahankan sistem kapitalisme global. Sistem "mikrokapitalisme" yang selama ini mencengkeram desa, tegasnya, hanya menguntungkan jaringan bisnis besar di ibu kota.
"Saya bukan anak buah Prabowo, bukan anggota GMPP. Saya adalah anak buah konstitusi dan anak buah sosialisme," tegas Rocky.
Ia menekankan, kebijakan berdimensi sosialistis yang diusung Presiden Prabowo Subianto pada dasarnya merupakan upaya menghidupkan kembali amanat konstitusi untuk membendung dominasi kapitalisme.
Menanggapi kritik yang menyebut program MBG dan koperasi rawan korupsi, Rocky menegaskan potensi penyimpangan tidak boleh dijadikan alasan untuk membatalkan kebijakan berdasar konstitusi.
"MBG dan koperasi ada di dalam konstitusi. Jika ada korupsi, berantas korupsinya, tangkap koruptornya, bukan membatalkan programnya. Kalau kukumu busuk, kenapa jempolmu yang mesti dipotong?" cetusnya.
Di sisi lain, Sabrang Mowo Damar Panuluh menyoroti bagaimana algoritma media sosial membentuk persepsi publik secara masif. Ia berpesan agar generasi muda Wonosobo mampu menjadi penentu arah, bukan sekadar pengikut tren.
"Kegagalan terbesar generasi muda dan pemuda saat ini adalah ketika mereka tidak bisa membangun cuaca, melainkan hanya ikut cuaca," ujar Sabrang.
Sementara itu, Kepala Koordinator Nasional (Kakornas) GMPP, Mantep Abdul Ghoni, mengajak pemuda daerah untuk lebih optimis melihat potensi ekonomi lokal di Wonosobo ketimbang terhambat oleh keterbatasan.
Senada, Dewan Penasihat GMPP Andrianto menilai forum Maiyah Kebangsaan ini menjadi sarana pendidikan politik yang efektif dalam mengawal agenda pemerintah yang berpihak pada konstitusi.
Diskusi interaktif yang dipandu wartawan senior Hersubeno Arief ini diikuti sekitar 1.000 mahasiswa dan ditutup dengan penampilan dari grup musik Kiai Kanjeng.