Berita

Pecalang berjaga di depan Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. (Foto: RMOL)

Sepak Bola

Piala Presiden 2026: Ketika Semua Memilih Menjaga

LAPORAN: VAYANTRI DIVIANTA*
KAMIS, 06 AGUSTUS 2026 | 22:19 WIB

Pagi itu, Ni Wayan Sitawartini bahkan belum sempat duduk. Menjelang tengah hari, polisi, pecalang, wartawan, hingga panitia Piala Presiden 2026 silih berganti keluar masuk warung sederhana miliknya yang menjual makanan dan aneka kopi dan juga makanan ringan yang berada tepat di depan Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. 

Sesekali ia melihat ke arah stadion yang hanya berjarak beberapa meter dari warungnya. Di Stadion kebanggaan masyarakat Bali itu, final pramusim Piala Presiden 2026 tinggal menghitung jam. Namun ada yang berbeda. 

Tak ada lautan syal, tak ada nyanyian tribun, final dengan hadiah Rp8 miliar itu digelar tanpa kehadiran penonton.


Bagi Sita pertandingan tanpa penonton memang mengurangi potensi pendapatannya. Namun, ia percaya keputusan itu diambil agar pertandingan berjalan aman. 

Di balik keputusan tersebut, panitia penyelenggara memiliki pertimbangan yang tidak sederhana. Semifinal dan final dipindahkan ke Bali setelah faktor keamanan menjadi pertimbangan utama. 

Sita tidak mengeluhkan tidak adanya suporter, dia bersyukur dengan adanya final kompetisi ini saja dirinya dibantu karyawannya kewalahan meladeni permintaan para pembeli warungnya. 

"Sebenarnya kalau ada suporter pasti lebih ramai," katanya kepada RMOL di warung kecilnya, Kamis 7 Agustus 2026.

Bukan keluhan, melainkan harapan yang ia simpan sendiri, Sita sadar semakin banyak penonton, semakin banyak pula kopi yang terjual, nasi yang habis, dan minuman yang keluar dari lemari pendinginnya. 

Namun, ia tidak mempermasalahkan keputusan final Piala Presiden 2026 tanpa penonton. Ia sangat bersyukur helatan bergengsi itu digelar di Bali yang membuat dirinya kecipratan rejeki dari larisnya dagangan yang ia jual.

Ketua Steering Committee Maruarar Sirait menyebut Kota Surabaya sebenarnya menjadi kandidat utama dalam penyelenggaraan semifinal dan Final Piala Presiden 2026. Namun, berbagai pertimbangan menjadi salah satunya faktor keamanan untuk penyelenggaraan semifinal/final di kota sebelumnya, dan akhirnya dipilih Bali.

Untuk mengurangi kekecewaan semua pihak, pihak penyelenggara menaikkan nominal hadiah pemenang yang sebelumnya hanya sebesar Rp6 miliar menjadi Rp8 miliar, disusul runner up Rp3,5 miliar, peringkat 3 Rp2,5 miliar, dan peringkat 4 Rp1,5 miliar.

Di saat hadiah juara dinaikkan menjadi Rp8 miliar, satu keputusan lain tetap dipertahankan yakni, semifinal dan final digelar tanpa penonton demi alasan keamanan. 

"Keamanan menjadi pertimbangan paling krusial demi menjamin keselamatan pemain dan suporter," kata Maruarar.

Keputusan tanpa penonton memang membuat tribun kehilangan denyut nadinya. Bagaimana tidak, ribuan suporter dari empat klub Persija Jakarta, Persib Bandung, Persebaya, dan Arema FC itu harus mengubur harapan mereka bisa mendukung tim kebangaannya berlaga di Pulau Dewata. 

Kesempatan menyaksikan langsung laga final itu pun harus mereka relakan dan memilih menggelar nonton bersama di beberapa titik wilayah Kota Denpasar. 

Sejak sore, anggota Viking Bali berkumpul di Berry's Beer House Denpasar untuk menggelar nonton bareng. Jersey Persib Bandung mendominasi memenuhi ruangan kursi-kursi kafe, tak ada pagar stadion yang mereka datangi. Hanya layar lebar tempat harapan dikirimkan menuju Stadion I Wayan Dipta. 

Ketua Viking Bali, Riki Herdiana atau yang karib disapa Bob Riki mengaku kerinduan masuk stadion pasti ada, namun ia lebih memilih menahan diri memberikan komando kepada seluruh anggotanya untuk tidak nekat datang ke stadion meski hanya untuk nobar di sekitar stadion. 

Bob Riki memilih menghormati keputusan penyelenggara sekaligus mengendalikan diri agar tidak merugikan klub yang dia dukung, dirinya dan seluruh anggotanya. 

"Sportivitas dan kendalikan diri. Mendukung itu soal hati bukan soal kursi. Kita menjaga nama baik Persib dan Kota bandung di Pulau Bali ini. Citra baik itu dimulai dari diri sendiri," kata Bob Riki.

Kali ini dirinya tidak bisa mendukung Persib secara langsung tapi, mereka tetap mendoakan yang terbaik untuk tim yang mereka dukung. Mereka percaya doa dan energi positif tetap bisa sampai kepada para pemain meski mereka tidak berada di tribun. 

Musuh para suporter hanya waktu sepanjang 90 menit, di mana setelah peluit panjang berbunyi semua elemen adalah saudara satu bangsa. Ia sangat-sangat berharap terhadap semua pihak nantinya tidak saling terprovokasi dengan dinamika apapun termasuk sosial media.

"Kita semua saudara. Stop saling menjatuhkan apalagi di medsos. Ajak ngopi bukan ajak ribut. Kalau antar suporter sudah saling menghargai, pasti stadion akan penuh lagi dengan aman dan nyaman. Sepak bola milik kita semua," harapnya.

Sementara Viking Bali berkumpul di Denpasar, di sudut lain Pulau Dewata, The Jakmania Bali memilih layar lebar daripada pagar stadion. Ketua The Jakmania Bali, Rian Hermawan mengaku pilihan tanpa penonton adalah keputusan paling bijak, mengingat basis suporter The Jakmania, Viking Bali, Bonek Bali dan juga Aremania Dewata sangat besar di Bali. 

Baginya, semua anggota The Jakmania Bali akan tetap menjaga nama baik organisasi, klub dan juga pulau Bali sendiri. 

"Dukungan kami lakukan dengan tanpa menciptakan kegaduhan. Kemarin kami nonton bareng semua anggota The Jak Bali saat Persija melawan Persib Bandung. salah satu dukungan kita juga untuk UMKM yang ada di Bali, biar ekonomi tetap berputar," ucap Rian.

Pesan serupa datang dari The Jakmania Bali yang punya harapan yang sama tentang perhelatan Piala Presiden 2026 di Bali. Meski dalam momentum ini belum ada komunikasi dengan suporter Viking Bali, namun yang ia lakukan bersama dengan rekan-rekannya patut diacungi jempol dengan tidak saling lempar provokasi. 

"Kami The Jakmania Bali berharap seluruh suporter yang ada di Bali, khususnya The Jakmania bisa sama-sama menjaga suasana tetap aman dan kondusif selama empat klub besar ini ada di Bali," harapnya. 

Tak berbeda jauh, Bonek Bali dan juga Aremania Bali turut menjaga kenyamanan para pemain yang akan bertanding pada laga final yang akan digelar Kamis malam 6 Juli 2026.

Ketika para suporter menjaga dari kejauhan, pengamanan justru diperketat di sekitar stadion. Menjaga kondusifitas lokasi penyelenggaraan final Piala Presiden 2026, di pintu-pintu masuk stadion ada 90 orang pecalang dari berbagai desa adat di Bali khususnya Kabupaten Gianyar turut dilibatkan dalam even itu. 

Bagi Dewa Gede Adi Purusa (45) perwakilan pecalang yang tengah berjaga, sepak bola bukan hanya soal pertandingan. Ajang seperti itu menghidupkan UMKM, membuka pekerjaan tambahan, serta menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar stadion. Semua masyarakat Bali turut merasakan dampak manfaat adanya even sepak bola di Bali.

Malam ini, hanya akan ada satu tim yang akan mengangkat trofi Piala Presiden musim ini. Tapi, kemenangan lain sudah terjadi sebelum peluit panjang berbunyi.

Kemenangan itu berasal dari keputusan panitia penyelenggara berani memilih keamanan di atas gengsi. Di Bali, ada pedagang yang tetap bersyukur meski dagangannya tak seramai jika ada hadirnya suporter di lapangan. 

Ada pecalang yang ikut berjaga tanpa ingin menjadi sorotan, yang lebih dewasa adalah ketika ribuan suporter di Bali memilih menahan rindu demi sepak bola yang lebih damai. 

Bali menjadi tuan rumah final Piala Presiden 2026 bukan sekadar menghadirkan tontonan sepak bola semata. Melainkan, memperlihatkan bahwa sepak bola akan selalu menemukan jalannya ketika semua pihak memilih menjaga daripada memperturutkan gengsi dan ego. 

Peluit panjang akhir laga final Piala Presiden 2026 bagi Sita pemilik warung di depan Stadion I Wayan Dipta, juga menjadi penanda bahwa sepak bola kembali menghidupkan warung kecilnya.

*Kontributor Bali

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya