Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Saham Advanced Micro Devices (AMD) menjadi salah satu saham teknologi yang paling tertekan di Wall Street pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026, waktu setempat.
Meski perusahaan membukukan kinerja yang kuat dan memberikan proyeksi pendapatan di atas ekspektasi pasar, investor nampaknya masih menunggu bukti bahwa besarnya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat.
Berdasarkan data perdagangan, saham AMD ditutup di 482,05 Dolar AS, turun 36,53 Dolar AS atau 7,04 persen dari penutupan sebelumnya di 518,58 Dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, saham sempat menyentuh level tertinggi 502,00 Dolar AS dan terendah 478,20 Dolar AS.
Di balik pelemahan saham tersebut, AMD sebenarnya menyampaikan prospek bisnis yang optimistis. CEO AMD Lisa Su mengatakan perusahaan memperkirakan pendapatan bisnis pusat data pada 2027 akan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, didorong permintaan infrastruktur AI yang terus melonjak.
"Kami memperkirakan pendapatan bisnis pusat data pada 2027 akan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya," kata Su.
Su juga mengungkapkan permintaan terhadap sistem AI generasi terbaru Helios melampaui perkiraan awal. Menurutnya, AMD akan mulai mengirimkan produk tersebut pada kuartal ketiga dan meningkatkan pengiriman hingga kuartal keempat serta tahun depan. Perusahaan juga telah mengamankan kerja sama dengan sejumlah pelanggan besar, seperti OpenAI, Meta, Anthropic, dan Microsoft.
Kinerja keuangan AMD pun menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pendapatan kuartal II mencapai 11,54 miliar Dolar AS, naik 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi rekor tertinggi perusahaan.
Sementara itu, pendapatan bisnis pusat data melonjak 107 persen menjadi 6,7 miliar Dolar AS, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap produk AI.
Meski demikian, pasar menilai ekspektasi terhadap bisnis AI AMD sudah sangat tinggi. Karena itu, proyeksi pertumbuhan yang disampaikan perusahaan dianggap belum cukup untuk meyakinkan investor bahwa investasi besar di sektor AI akan segera menghasilkan lonjakan laba. Sentimen tersebut membuat saham AMD menjadi salah satu pemberat sektor teknologi di Wall Street.