Berita

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. (Foto: RMOL)

Politik

Zulhas Bongkar Fenomena Kepala Daerah Disponsori "Toke"

KAMIS, 06 AGUSTUS 2026 | 09:28 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menyoroti bahaya dominasi pemilik modal dalam kontestasi politik daerah. Menurutnya, praktik politik berbiaya tinggi membuat kepala daerah rentan menjadi alat kepentingan sponsor setelah terpilih.

Hal itu disampaikan sosok yang akrab disapa Zulhas saat melantik pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN se-Provinsi Maluku Utara di Ternate, Selasa, 4 Agustus 2026.

Dalam pidatonya, Zulhas mengkritik keras sistem pasar bebas yang dinilai memberi ruang besar bagi kekuatan modal untuk menguasai politik.


"Dalam pasar bebas yang kuat yang menang. Untuk mau maju bupati dibiayai toke-toke. Nanti begitu jadi bupati, jadi gubernur, sponsor minta semuanya. Tambang nikel diambil, tambang emas diambil. Di Maluku Utara tanah diambil sama mereka," ujar Zulhas.

Istilah toke atau tauke berasal dari bahasa Hokkien yang berarti pemilik, majikan, atau bos besar yang memimpin sebuah usaha atau perusahaan. Kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia dan lazim dipakai untuk memanggil pengusaha atau pimpinan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan itu menilai, kepala daerah yang lahir dari sokongan pemilik modal pada akhirnya sulit berpihak kepada rakyat karena harus membalas jasa para penyandang dana politik.

Akibatnya, kata Zulhas, daerah yang kaya akan sumber daya alam justru menjadi contoh nyata paradoks pembangunan. Kekayaan alam dieksploitasi, sementara masyarakat di sekitarnya tetap hidup dalam kemiskinan.

"Yang jadi bupati, jadi gubernur karena disponsori oleh pemilik modal. Saudara-saudara melihat, di mana ada sumber daya alam yang kaya, di situ terjadi paradoks. Rakyatnya miskin, alamnya rusak," tegasnya.

Karena itu, Zulhas mengingatkan kader-kader PAN agar membangun kekuatan politik yang berpihak kepada kepentingan rakyat, bukan kepada kelompok pemilik modal yang hanya mengejar keuntungan dari penguasaan sumber daya alam.

Ia menegaskan, kekayaan alam seharusnya menjadi modal untuk menyejahterakan masyarakat, bukan menjadi objek transaksi politik yang berujung pada kerusakan lingkungan dan ketimpangan ekonomi.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya