Berita

Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah. (Foto: RMOL)

Hukum

Dua Praperadilan Febrie Adriansyah: Cacat Prosedur dan Dobel Penetapan Tersangka

RABU, 05 AGUSTUS 2026 | 20:52 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Permohonan praperadilan dilayangkan Tim kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah demi menguji keabsahan penetapan tersangka dan berbagai tindakan paksa yang dilakukan aparat penegak hukum.

Anggota tim kuasa hukum Febrie, Firman Wijaya mengatakan, ada dua permohonan praperadilan yang sengaja dipisahkan menjadi dua berkas karena objek uji berbeda.

Permohonan pertama menguji keabsahan penetapan tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) beserta penahanan yang dilakukan penyidik Kejagung.


Sementara permohonan kedua menguji penetapan tersangka dalam perkara dugaan korupsi dan TPPU, termasuk tindakan penggeledahan serta penyitaan yang dilakukan Polda Metro Jaya bersama Kortas Tipikor Polri.

"Termasuk dalam hukum acara pidana yang baru juga, karena alasan objek dan tindakan yang memang diuji secara berbeda. Jadi batu ujinya akan berbeda," kata Firman di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Tim kuasa hukum menilai terdapat sejumlah kejanggalan mendasar dalam penanganan perkara tersebut.

Salah seorang anggota tim kuasa hukum, Muhammad Farizi menilai tindakan penyidik Kejagung dalam perkara TPPU telah melanggar ketentuan hukum acara pidana, termasuk dugaan pelanggaran Pasal 100 Ayat (5) KUHAP. Selain itu, penyidik dinilai belum mampu menjelaskan secara terang tindak pidana asal (predicate crime) yang menjadi dasar sangkaan terhadap Febrie.

Firman menegaskan, proses penegakan hukum harus memenuhi prinsip kepastian hukum tanpa menyisakan keraguan.

"Pelaksana proses hukum apakah memang sudah clear and clean, sudah sesuai dengan prinsip hukum acara pidana yang semangatnya beyond reasonable doubt. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun terhadap proses hukum yang berjalan," tegasnya.

Kuasa hukum lainnya, Hermawanto juga menyoroti dugaan adanya penetapan tersangka ganda terhadap substansi perkara yang sama. Selain itu, tim advokasi mempertanyakan kewenangan pejabat yang menandatangani surat penetapan tersangka serta dasar hukum yang digunakan penyidik.

Sementara itu, anggota tim kuasa hukum lainnya, Febri Diansyah menegaskan, praperadilan merupakan hak konstitusional setiap warga negara untuk memastikan seluruh proses penegakan hukum berjalan sesuai aturan.

"Ini penting sekali, jangan sampai kemudian proses penegakan hukumnya keliru, melanggar aturan hukum, entah karena alasan apa pun begitu ya, sehingga hak-hak orang terabaikan. Prinsip due process of law adalah hal yang penting yang tentu perlu menjadi concern kita bersama," ujar Febri.

Menurutnya, pengajuan praperadilan juga menjadi momentum bagi aparat penegak hukum untuk membuktikan profesionalisme di hadapan pengadilan.

"Sekaligus memastikan bahwa setiap tindakan penegakan hukum bersih dari unsur kesewenang-wenangan dan berdiri tegak di atas landasan hukum yang akuntabel," pungkasnya.

Populer

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Usai DPR, Guru Besar IPB Desak BPK Evaluasi WTP Kemenhut

Rabu, 28 Oktober 2026 | 08:24

HLN ke-81: PLN Perkuat Listrik sebagai Penggerak Kehidupan dan Kemandirian Bangsa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 07:47

IKA FH Undip Gelar Konsolidasi, Ini yang Dibahas

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:55

Tolak Usul Luhut, PKS Dukung Sikap Pemerintah Terkait Kerugian Negara

Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:25

Telkom Perkuat Transparansi Ekosistem Pengadaan Digital Nasional Lewat SPSE V5

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:57

Konser Andrea Bocelli Turut Serukan Solidaritas Palestina Tuai Apresiasi

Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:28

Menanti Negarawan di Tengah Oase Pragmatisme

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:55

InfraNexia Perkuat Kesiapan Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 04:25

Revitalisasi Intisab Siapkan Kepemimpinan Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:59

Kemerdekaan yang Belum Selesai: Dari Cita-Cita 1945 ke Amarah Gen Z

Rabu, 28 Oktober 2026 | 03:30

Selengkapnya