Berita

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Bisnis

Cadangan Devisa RI Menyusut Rp198 T Hingga Juni 2026, BI: Masih Aman

SELASA, 04 AGUSTUS 2026 | 10:22 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Bank Indonesia (BI) menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di level aman meski nilainya menyusut hingga 11 miliar Dolar AS (Rp198 triliun) pada Juni 2026.

Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan cadangan devisa Indonesia sempat menyentuh sekitar 156,5 miliar Dolar AS pada akhir Desember 2025. Namun, kini berada di kisaran 145 miliar Dolar AS hingga Juni 2026. 

Menurut Destry, penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan stabilisasi nilai tukar Rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun, ia enggan membeberkan porsi penggunaan cadangan devisa untuk masing-masing kebutuhan tersebut.


"Oke, itu rahasia (besaran cadangan devisa untuk pembayaran luar negeri dan Rupiah), ngga boleh tuh," kata Destry dalam konferensi pers KSSK, Jakarta, dikutip Selasa 4 Agustus 2026.

Meski demikian ia menjelaskan bahwa total penurunan cadangan devisa digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Yang jelas gini, posisi cadev kita tertinggi di 2026-an (awal) itu sekitar 156 miliar Dolar AS dan sekarang ini posisinya 145 miliar. Jadi teman-teman bisa bayangkan, itulah pengurangan dari cadev kita. Termasuk itu untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri khususnya dari pemerintah. Karena dana pemerintah kan juga ada di Bank Indonesia," jelasnya.

Ia menegaskan, level cadangan devisa saat ini masih lebih dari cukup untuk menjaga ketahanan sektor eksternal Indonesia. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Menurutnya, capaian itu juga jauh melampaui standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada level minimal tiga bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Jadi angka 145 miliar Dolar AS itu masih relatif aman karena masih sekitar 5,4 bulan kali import dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sementara result ataupun benchmarking di internasional itu adalah 3 bulan. 3 bulan import dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," tandasnya.


Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya