Berita

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen (kanan). (Foto: RMOL)

Politik

Lokataru: Kopdes Merah Putih Rawan Dimobilisasi Jadi Mesin Politik Bawah Tanah

KAMIS, 30 JULI 2026 | 17:26 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) berpotensi mengancam demokrasi dan kebebasan sipil akibat kuatnya pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pembangunan dan tata kelola program tersebut.

Hasil riset Lokataru Foundation, ekspansi puluhan ribu KDMP berpotensi dimanfaatkan untuk menguasai aliran anggaran, jalur logistik, serta membangun mesin kontrol politik menjelang Pemilu 2029.

Riset Lokataru mengungkapkan bahwa desain kelembagaan KDMP yang bersifat top-down dan ditargetkan mencapai 80.000 titik di seluruh Indonesia berpotensi membentuk grassroots political machine atau mesin politik akar rumput dalam skala besar.


Struktur tersebut dinilai rentan dimobilisasi untuk kepentingan politik elektoral, terutama dengan keterlibatan komando teritorial hingga tingkat desa.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran atas meningkatnya militerisasi ruang publik perdesaan sekaligus potensi penyalahgunaan infrastruktur distribusi bantuan sosial dan barang bersubsidi sebagai instrumen pemenangan politik.

"Ketika puluhan ribu titik Kopdes dihubungkan langsung dengan struktur militer dan penguasaan bahan pokok masyarakat, risiko koordinasi politik bawah tanah untuk kepentingan Pemilu 2029 menjadi sangat tinggi dan sulit diawasi oleh publik," kata Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Delpedro Marhaen kepada redaksi, Kamis, 30 Juli 2026.

Delpedro menyebut dominasi militer dalam sektor ekonomi desa bertentangan dengan semangat reformasi TNI dan berpotensi menggerus kemandirian masyarakat desa.

Koperasi, kata dia, semestinya tumbuh dari partisipasi warga secara mandiri, bukan dibentuk melalui pendekatan komando teritorial. Ia menilai kondisi tersebut dapat berdampak negatif terhadap demokrasi dan kebebasan sipil di tingkat desa.

Senada dengan Delpedro, Peneliti Lokataru Foundation, Fahrul Lubis menilai kebijakan yang menjangkau masyarakat desa dalam skala nasional itu tidak lagi semata berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi.

Menurutnya, program KDMP telah menciptakan opportunity structure bagi konsolidasi kekuatan politik dan patronase di tingkat lokal. Berdasarkan hasil studi Lokataru, KDMP telah berkembang menjadi infrastruktur politik berskala besar.

"Keterlibatan aparatur negara, penetapan kepala desa secara ex-officio hingga keterlibatan unsur TNI dalam percepatan dan pengawasan di lapangan berpotensi menggeser makna koperasi dari instrumen demokrasi ekonomi menjadi 'hadiah politik' dan sarana legitimasi kekuasaan," ujar Fahrul.

Temuan Lokataru Foundation tersebut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan petahana, melainkan menyangkut arah pembentukan jaringan komando sipil-militer di tingkat akar rumput yang bisa digunakan oleh faksi kekuasaan manapun.

"Apabila tidak diawasi, jejaring ekonomi desa berpotensi dimanfaatkan kelompok yang menopang agenda militerisme untuk mengendalikan logistik dan lumbung suara masyarakat. Kondisi ini sebagai bentuk state corporatism yang mengancam kebebasan sipil di wilayah perdesaan," pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya