Berita

Ilustrasi Pengemudi ojek online Gojek. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)

Bisnis

Induk Gojek dan GoPay Masih Untung Meski Dihantam Komisi 8 Persen

RABU, 29 JULI 2026 | 19:59 WIB | LAPORAN: YUDHISTIRA WICAKSONO

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II-2026, meski industri ride-hailing menghadapi perubahan skema komisi menjadi 8 persen yang berlaku sejak awal Juli 2026.

Capaian tersebut menjadi laba bersih kedua yang dibukukan GoTo secara berturut-turut setelah perseroan mencatat laba untuk pertama kalinya pada kuartal I-2026.

Kinerja positif juga terlihat dari Gross Transaction Value (GTV) inti yang tumbuh 83 persen secara tahunan menjadi Rp164 triliun. Sementara pendapatan bersih GoTo meningkat 31 persen secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun.


Direktur Utama GoTo Hans Patuwo mengatakan perseroan mampu mengatasi dampak perubahan skema bagi hasil yang ditetapkan pemerintah untuk layanan transportasi roda dua.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, komisi aplikator untuk biaya perjalanan angkutan penumpang roda dua ditetapkan sebesar 8 persen, turun dari sebelumnya 20 persen.

Hans menjelaskan, dampak perubahan komisi tersebut baru akan tercermin dalam laporan keuangan GoTo pada kuartal III-2026. Namun, setelah satu bulan penerapan, kondisi bisnis disebut masih stabil.

“Struktur ini berlaku untuk bisnis transportasi roda dua Gojek, yang menyumbang sekitar 7 persen dari pendapatan bersih Grup. Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” kata Hans dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

GoTo kemudian menyesuaikan pedoman kinerja layanan On-Demand Services untuk sepanjang 2026 menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun.

Di sisi lain, kinerja bisnis fintech melalui GoPay diproyeksikan mampu menjadi penopang pertumbuhan perseroan. GoTo menaikkan pedoman kinerja Fintech untuk 2026 menjadi Rp1,7-1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.

“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” ujar Hans.

Meski melakukan penyesuaian pada dua lini bisnis tersebut, GoTo tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk tahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun.

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” ucap Hans.

GoTo juga menyatakan tetap berkomitmen meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi melalui berbagai Program Apresiasi Mitra.

Program tersebut mencakup dukungan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga program umrah gratis.

“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” tutup Hans.


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Anjlok Hampir 6 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:29

Trump dan Gedung Putih Unggah Peta Baru Selat Hormuz yang Bikin Panas Iran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:17

Wall Street Merah, Saham Teknologi Berguguran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:04

Harvard Didenda Rp947 Miliar atas Skandal Penjualan Bagian Tubuh Jenazah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 08:03

Dolar AS Bergerak Terbatas, Indeks DXY Menguat Tipis di Level 99,63

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:47

Logam Mulia Serempak Anjlok Dihantam Naiknya Imbal Hasil Obligasi

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:25

Bursa Eropa Loyo, Saham Teknologi Berguguran

Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:06

Konsep Ketahanan Iklim Ala Indonesia Menggema di Forum Menteri LH Anggota BRICS

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:59

Kenaikan Anggaran Pendidikan Harus Wujudkan Sekolah Dasar Gratis

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:32

42 Pemegang Izin Kehutanan Ditindak Gegara Karhutla

Rabu, 19 Agustus 2026 | 06:19

Selengkapnya