Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Ijazah itu Kebanggaan, Bukan Aib

SENIN, 27 JULI 2026 | 06:30 WIB

SETELAH eksepsi Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa dikabulkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur, logika-logika awam publik kembali muncul. 

Misalnya, satu, kalau putusan sela saja menang, apalagi putusan pokok perkara? Membuat dakwaan saja kacau-balau, apalagi pokok perkara?

Dua, ingat! Kasus ini diperbincangkan hampir dua tahun terakhir dan kasus ini bukanlah kasus yang rumit. 


Berarti, jangankan masyarakat, Majelis Hakim pun bingung dengan dakwaan dalam kasus ini. Kebanyakan cabang, pokoknya hilang.

Tiga, objeknya kan ijazah, kenapa tak ijazahnya itu saja yang dibuktikan keasliannya? Sudah terbukti, konferensi pers Bareskrim dulu, tidak cukup. 

Dan pernyataan Rektor UGM, yang tak disertai bukti, juga tak cukup. Uji saja ijazahnya, masalah selesai.

Empat, tak perlu kawan-kawan kuliah dimobilisasi, ratusan dokumen, dan puluhan saksi ahli. Cukup buktikan ijazahnya. Terbaru, Dokter Tifa secara terbuka mengatakan soal meterai Rp500 dan Rp100, yang digunakan berbeda. Logika awam ini saja tak terjawab.

Lima, ijazah itu kebanggaan, bukan aib. Kalau ada orang lain menuduhnya di kemudian hari palsu, orang itu mestinya tertantang membuktikannya secara sukarela, bukan justru memenjarakan orang. Apalagi ijazah itu sudah pernah memenjarakan orang tanpa dibuktikan.

Enam, kalau jujur, jalannya pasti lurus. Tapi kalau bohong, jalannya pasti berbelok-belok. Logika awam ini berlaku secara universal. 

Apalagi setelah begitu lama, ternyata malah eksepsi terdakwa dikabulkan dengan alasan, dakwaan jaksa kabur. Kok bisa?

Tujuh, kini pihak kuasa hukum Joko Widodo alias Jokowi pula merasa capek dengan kasus ini, karena sudah terlalu lama. Aneh? 

Yang capek itu publik, bukan pihak Jokowi. Putusan sela cenderung diremehkan, padahal ini cukup fatal. Jaksa belum tahu, apakah akan memperbaiki, banding, atau tak melanjutkannya?

Logika-logika awan publik ini, kalau diabaikan, jangan berharap akan bisa berefek electoral terhadap Jokowi dan semua yang menumpang kepadanya. Logika-logika awam publik tak sama dengan logika-logika elit yang berbelit.

Kalau logika-logika awam saja tak bisa dijelaskan secara sederhana, bagaimana pula menjelaskan hal yang rumit secara sederhana dan masuk akal?

Erizal
Direktur ABC Riset & Consulting 

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Kemitraan PLN Perkuat KDKMP jadi Penggerak Ekonomi Desa

Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:16

Pemerintah Serap Masukan Akademisi hingga Peneliti untuk Perkuat Ekonomi Biru

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:53

Tak Hanya Tunjuk Kepala Baru, Pemerintah Diminta Serius Benahi BNPB

Jumat, 16 Oktober 2026 | 05:23

BUK dan Bukti Kegagalan SKK Migas

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:59

Korupsi Dana Bencana Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Kemanusiaan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 04:29

Wajah Muda Kemiskinan yang Berubah

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:58

Maruli Berjabat Tangan dengan Gibran

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:29

Lokasi Ledakan di Pasar Cimanggis-Ciputat Bukan SPPG

Jumat, 16 Oktober 2026 | 03:00

Selain Bupati Klaten, KPK Juga Tangkap Kepala Perwakilan BPK Jateng Ahmad Luthfi

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:45

Perpaduan Kekuatan Laut dan Udara Warnai Demo Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan

Jumat, 16 Oktober 2026 | 02:08

Selengkapnya