Berita

Kerusuhan 27 Juli 1996 atau Kudatuli. (Foto: Kompas)

Publika

Awal Perlawanan Semesta itu Adalah Jalan Diponegoro 58

SENIN, 27 JULI 2026 | 04:33 WIB | OLEH: AGUNG NUGROHO*

JAKARTA pada akhir Juli 1996. Udara panas, jalanan macet, dan situasi politik lebih panas dari panci mie rebus tiga lapis.

Sejak Partai Rakyat Demokratik alias PRD dideklarasikan 22 Juli 1996, suasana di sekitar kantor DPP PDI Pro-Mega, Jalan Diponegoro 58, makin rame aja. 

Bukan cuma rame teriakan "reformasi!", tapi juga makin frontal -- nama Soeharto disebut kayak mantan yang gak bisa move on, lengkap dengan kritik terhadap ABRI, ekonomi kroni, dan harga tempe yang makin gak logis.


Tanggal 23 Juli, siang sepulang kuliah, saya dan Indra JP, plus beberapa kawan dari SMID Komisariat IISIP, memutuskan ngacir ke Diponegoro. 

Seperti biasa, kami naik KRL dari Lenteng Agung --tanpa tiket. Bukan karena prinsip anti-kapitalis, tapi karena prinsip dompet bolong.

Turun di Stasiun Cikini, lanjut jalan kaki sambil pura-pura kuat, padahal dalam hati ngeluh.

“Kenapa juga revolusi gak disponsori teh botol. Minimal kan ada yang nyegerin di tengah jalan".

Pas sampai, wow... Jalan Diponegoro udah kayak festival mini. Di sepanjang trotoar, nongol lingkaran-lingkaran massa. Bukan lingkaran setan, ini lebih ke lingkaran orasi. 

Total ada enam, masing-masing isinya 50-100 orang. Satu orang berdiri di tengah cuap-cuap, sisanya nyimak (atau pura-pura nyimak biar gak disuruh gantiin ngomong).

Di bawah jembatan rel kereta Cikini, Dwi Hartanto lagi pidato. Gayanya serius banget, ngulik soal ABRI sebagai tiang penyangga Soeharto. Tiangnya udah doyong, katanya. 

Di lingkaran lain dekat kantor DPP PPP, Dita Sari lagi bakar semangat soal buruh yang dieksploitasi. Intinya: kapitalisme militeristik itu toksik, lebih beracun dari mantan yang suka ghosting.

Nama-nama lain juga muncul: Roso, Garda, Lukman, Buyung -- semua tampil memimpin lingkaran nassa dengan orasi, mirip open mic tapi minus stand-up. 

Di tengah kerumunan, tampak juga kawan-kawan KPP PRD dan SMID Pusat: Budiman, Andi Arief, Nezar, Ari Tulang (yang namanya sekompak badannya), Munif, dan Megi.

Nah, si Megi ini paling sibuk. Dia  keliling jualan Suara Massa. Ditemani Imbar, mereka muter-muter kayak duo sales obat kuat. Harganya Rp1.500, bisa ditawar kalau pembelinya bawa tampang revolusioner.

Megi: “Baca ini, bang. Dijamin tercerahkan. Bonus selebaran kalau beli dua!”
Pembeli: “Ada bonus kuaci, gak?”

Sementara itu, Indra JP keliling bagi-bagi selebaran SMID. Gayanya khas: agak dramatis, kayak pahlawan di film laga murahan. Setelah muter beberapa kali, dia balik ke saya dan bisik:

“Itu orasi semua isinya politik. Gak ada yang bahas sejarah Majapahit. Gak ada yang ngajak refleksi! Ahistoris banget bro.”

Saya ngakak. Itu emang Indra -- kalau gak lucu, berarti lagi tidur.

Strategi bikin lingkaran-lingkaran kecil ini memang arahan dari KPP PRD. Tujuannya: sebar titik agitasi, deketin orator ke massa, bikin diskusi lebih cair. 

Jadi bukan demo yang nunggu panggung gede doang, tapi demo yang bisa nyelip di trotoar, di bawah pohon, bahkan di sebelah tukang asongan.

Acara biasanya kelar malam. Kami pun pulang naik KRL dari Cikini, gerbong ekonomi. Tapi justru di sinilah seni perlawanan versi indie dimulai.

Gerbong jadi panggung berekspresi. Imbar sering bacain puisi -- biasanya Wiji Thukul, tapi nadanya kayak MC dangdut. 

Indra ikut nyanyi lagu perjuangan, kadang disambung kawan-kawan lain. Kadang ada yang ikut nyanyi, kadang juga ada yang nutup telinga sambil ngeluh, “Ini kereta atau pos ronda sih?”

Lucunya, pernah juga ada penumpang yang nyumbang receh. Mungkin ngira kami pengamen. Uangnya kami kumpulin buat beli makan malam di sekretariat, yang dengan penuh kebanggaan kami sebut sebagai Camat Gabun. Jangan tanya siapa camatnya. Bahkan kelurahan gak tahu.

Dwi Hartanto? Di kereta dia low profile banget. Berdiri diam di pojok gerbong, nempel ke dinding kayak stiker yang belum dilepas.

“Gue gak cocok tampil di kereta,” katanya, sambil senyum kecil kayak bocah lagi makan gulali rambut nenek-nenek.

Tapi di jalan, di panggung, atau di tengah lingkaran massa -- Dwi adalah orator pamungkas. Suaranya bulat, tegas, tapi lentik kayak bulu matanya. Iya, beneran lentik -- sampai pernah bikin ibu-ibu nanya, “Itu anak siapa sih? Kalo orasi bisa sekeren itu, pasti sholatnya juga rajin.”

Malam-malam itu, meski capek, selalu kami isi dengan semangat. Di antara orasi, selebaran, lagu perjuangan, mie instan, dan teh botol. Kami menyimpan satu keyakinan:

Bahwa perubahan itu mungkin.

Bahwa melawan itu bukan cuma soal marah, tapi juga soal percaya.

Dan kalau pun besok semuanya dibabat -- setidaknya kami pernah nyanyi di gerbong sambil dikira pengamen revolusioner.

*Mantan Ketua Komisariat SMID Kampus IISIP

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya