Berita

Barang bukti uang serta 74 batang emas dari rumah mantan Jampidsus Febrie Adrisansyah di Sentul, Jawa Barat (Jabar), terdiri dari 4.767.300 Dolar AS, 14.083.800 Dolar Singapra, dan Rp100 juta dengan total Rp 476 miliar (Foto: Dok Polisi)

Hukum

Tim 9 Dinilai Terlalu Dini Kaitkan Uang dan Emas Sitaan dengan Febrie

SABTU, 25 JULI 2026 | 13:25 WIB | LAPORAN: BONFILIO MAHENDRA

Kuasa hukum Don Ritto, Handika Honggowongso, menilai Tim 9 yang dibentuk Kejaksaan Agung (Kejagung) mengambil kesimpulan secara terlalu dini atau prematur dalam menangani perkara yang menjerat kliennya.

Menurut Handika, kesimpulan yang dinilai tergesa-gesa itu adalah mengaitkan uang tunai dan emas yang disita di sejumlah lokasi dengan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.

Handika menduga keputusan tersebut diambil di tengah tekanan besar yang dihadapi Tim 9 untuk menjaga integritas institusi Kejaksaan Agung dari berbagai narasi yang berkembang di publik.


“Ini adalah hari yang berat karena kami tahu Tim 9 yang dibentuk Kejaksaan Agung berada dalam tekanan dan dilema yang luar biasa. Kami melihat itu saat berada di lantai 20 Gedung Utama mulai pukul 08.00 sampai 21.00 WIB mendampingi pemeriksaan Don Ritto yang ruangannya bersebelahan dengan ruang kerja Tim 9. Bisa dipastikan keputusan Tim 9 yang menetapkan Pak Febrie sebagai tersangka itu bersifat politis,” kata Handika kepada wartawan, Sabtu, 25 Juli 2026.

Berdasarkan keterangan kliennya, Handika menegaskan uang dan emas yang ditemukan di restoran De Clan, money changer, serta rumah di kawasan Sentul tidak memiliki kaitan dengan Febrie Adriansyah.

Ia mengatakan, Don Ritto telah menjelaskan secara rinci kepada penyidik mengenai asal-usul uang dan emas tersebut beserta tujuan penggunaannya saat menjalani pemeriksaan.

Karena itu, Handika menilai Tim 9 seharusnya terlebih dahulu menguji keterkaitan barang bukti tersebut, baik secara formal maupun materiil, sebelum menarik kesimpulan.

“Klien kami sudah menjelaskan secara gamblang dari mana asal-usul uang dan emas itu serta untuk apa. Mestinya Tim 9 menguji relevansi secara formal dan materiil. Sangat disayangkan Tim 9 secara prematur, sembrono, dan gegabah menghubungkan uang dan emas yang disita di Kafe De Clan, money changer, dan Sentul merupakan milik Pak Febrie,” ujarnya.

Handika juga mengungkapkan bahwa pihak-pihak yang mengklaim sebagai pemilik uang tunai dalam mata uang dolar Singapura, dolar Amerika Serikat, serta emas yang disita tengah menyiapkan langkah hukum.

“Para pemilik uang dan emas kemungkinan akan mengajukan gugatan praperadilan atas penyitaan aset mereka ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Tunggu tanggal mainnya,” kata Handika.

Sementara itu, Febrie Adriansyah turut buka suara mengenai temuan emas batangan seberat 74 kilogram dalam penggeledahan di rumahnya di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Pernyataan singkat tersebut disampaikan Febrie saat digiring menuju mobil tahanan untuk dibawa dari Gedung Kejaksaan Agung ke Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), usai resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan pada Jumat malam, 24 Juli 2026.

“Itu biar jaksa penyidik lihat itu (emas), punya siapa dan digunakan untuk apa kegiatannya. Nanti minta penyidik yang jawab,” ujar Febrie.

Dalam perkara ini, Kejagung menetapkan Febrie Adriansyah dan Don Ritto sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Penetapan tersangka dilakukan setelah Kortastipidkor dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya melakukan penggeledahan dan menemukan uang yang diduga berasal dari hasil TPPU.

Di brankas de'Clan Signature Cafe, Cipete, Jakarta Selatan, penyidik menyita uang tunai berupa 3.130.000 Dolar Siingapra dalam pecahan 100 Dolar Singapura. Lalu uang tunia  889.965 Dolar AS, serta uang tunai dalam mata uang Rupiah sebesar Rp259.159.000. Nilai keseluruhannya diperkirakan mencapai sekitar Rp60 miliar.

Sementara dari rumah Febrie di Sentul, penyidik menemukan uang tunai sebesar 4.767.300 Dolar AS, 14.083.800 Dolar Singapura,dan uang tunai Rp100 juta, serta 74 batang emas. Total nilai barang bukti yang disita dari lokasi tersebut diperkirakan setara Rp476 miliar.

Usai ditetapkan sebagai tersangka, Febrie menjalani penahanan di Rutan KPK selama 20 hari ke depan.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Anang Supriatna menjelaskan penyidikan perkara TPPU yang menjerat Febrie dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Nomor Print-03/F.2/Fd.2/07/2026 yang diterbitkan pada 20 Juli 2026.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya