Berita

Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno. (Foto: Istimewa)

Politik

Kabinet Bayangan jadi Penyeimbang di Tengah Dominasi Koalisi Pemerintah

JUMAT, 24 JULI 2026 | 12:46 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Kelompok masyarakat sipil (civil society) menjadi harapan utama untuk menjalankan fungsi penyeimbang ketika hampir seluruh kekuatan politik dan pemangku kepentingan berada dalam lingkaran pemerintahan.

Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno, kondisi tersebut membuat peran kelompok di luar kekuasaan menjadi semakin penting untuk menjaga mekanisme kontrol terhadap jalannya pemerintahan.

"Ketika semua kekuatan penting, stakeholder di negara kita menjadi bagian dari kekuasaan politik, harapan terbesar yang muncul sebagai penyeimbang memang harus muncul dari kalangan gerakan civil society dan itu semua berada di luar kekuasaan," kata Adi lewat kanal Youtube miliknya, Jumat, 24 Juli 2026.


Pernyataan itu disampaikan Adi menanggapi kemunculan Kabinet Bayangan yang digagas kalangan akademisi, peneliti, dan pegiat masyarakat sipil sebagai kanal pengawasan alternatif terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Adi menegaskan, keberadaan kelompok kritis di luar pemerintahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi. Karena itu, perbedaan pandangan terhadap kebijakan pemerintah seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

"Perbedaan pendapat itu sebuah keniscayaan. Jadi kalau ada yang berbeda pada kendaraan kita jangan kemudian dihakimi dan seterusnya," ujarnya.

Ia menilai demokrasi justru memberikan ruang bagi lahirnya berbagai pandangan yang berbeda. Yang terpenting, kata Adi, setiap perbedaan disampaikan melalui dialog dan diskusi, bukan dengan saling mendiskreditkan.

"Dalam demokrasi jangan pernah berharap akan ada pandangan-pandangan yang sama. Demokrasi justru membuka pandangan yang berbeda satu sama lain. Yang penting guyub, yang penting rukun, dan mengedepankan asas diskusi di atas segala-galanya," pungkasnya.


Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Siapa di Balik Penyadapan Presiden Prabowo?

Kamis, 05 November 2026 | 06:29

Mengendus Pasal Makar

Kamis, 05 November 2026 | 06:14

DPRD Dukung Roadshow Pramono Anung ke 44 Kecamatan

Kamis, 05 November 2026 | 06:04

Mengenal Listyo Sigit, Eks Kapolri yang Jadi Raja Oknum

Kamis, 05 November 2026 | 05:57

Penyadapan Presiden Prabowo Bukan Kasus Biasa

Kamis, 05 November 2026 | 05:43

BPOM Buka Suara soal Vape Mengandung Obat Bius Etomidat dan Ketamin

Kamis, 05 November 2026 | 05:10

Intelektualisme Pemuda Kunci Memperkuat Persatuan Bangsa

Kamis, 05 November 2026 | 04:44

Kasus Listyo Sigit Imbas Sistem UUD 2002 yang Memproduksi Kegaduhan

Kamis, 05 November 2026 | 04:26

PAM Jaya Raih Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar di Jakpus

Kamis, 05 November 2026 | 04:22

MUI: Penyadapan Presiden Kategori Tajassus dan Berdosa

Kamis, 05 November 2026 | 04:08

Selengkapnya