Berita

Ilustasi (Artificial Intelligence)

Bisnis

Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS setelah Houthi Gempur Kapal Tanker Saudi

JUMAT, 24 JULI 2026 | 07:36 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak dunia melonjak tajam dan kembali bertengger di atas level 100 Dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 22 Mei 2026, dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak setelah kelompok Houthi Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, waktu setempat, harga minyak mentah Brent naik 6,62 Dolar AS atau 7 persen menjadi 100,69 Dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 5,36 Dolar AS atau 6,2 persen ke 92,19 Dolar AS per barel, level tertinggi sejak 4 Juni.

Kenaikan harga terjadi setelah kelompok Houthi menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Pemerintah Arab Saudi kemudian mengonfirmasi bahwa salah satu kapal tanker mengalami kebakaran saat berlayar, meski tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.


Serangan itu memperburuk kekhawatiran pasar karena sebelumnya arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sudah terganggu. Analis memperkirakan Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb menjadi jalur pengiriman sekitar seperempat pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di kedua titik tersebut berpotensi mengurangi pasokan energi global.

Meski demikian, data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker raksasa asal China yang mengangkut total sekitar 4 juta barel minyak Arab Saudi masih berhasil melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Kamis. 

Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat melampaui 120 Dolar AS per barel pada kuartal IV 2026 jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga 2027. Risiko kenaikan harga akan semakin besar apabila gangguan juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan "hukuman militer besar-besaran" terhadap Iran dan kelompok Houthi. Sementara itu, sejumlah sumber Reuters menyebut tujuh negara inti OPEC+ kemungkinan akan menyetujui kenaikan target produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai September dalam pertemuan pada 2 Agustus, sebagai upaya membantu menjaga pasokan minyak global.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Analisis di Balik Penerimaan Eksepsi Dokter Tifa

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:52

Legislator PDIP Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur Hulu Migas

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:34

Panglima TNI: Perang Narasi Salah Satu Ancaman Paling Berbahaya Saat Ini

Jumat, 24 Juli 2026 | 01:17

PABPDSI Kawal Program Nasional Hingga ke Desa Lewat 8 Satgas Asta Cita

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:55

MBG dan Peluang Besar Bangun Ekonomi Desa

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:30

Pemerintah Buka Opsi Biayai Utang Proyek Whoosh Pakai Panda Bond

Jumat, 24 Juli 2026 | 00:05

Korupsi Pakan Satwa Rp10,2 Miliar, DPR Minta Eks Dirut KBS Dihukum Berat

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:45

Lulus S2 Hukum, Mikael Saragih Ungkap PR Hukum Indonesia Tak Lagi soal Kekurangan UU

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:37

BEM Kristiani Se-Indonesia Desak Kejagung Segera Tangkap Febrie Adriansyah

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:16

Polri dan FBI Sepakat Perkuat Kerja Sama Penanganan Kejahatan Transnasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 23:03

Selengkapnya