Berita

Advokat Hotman Paris Hutapea. (Foto: Istimewa)

Publika

Sakit Sekali Profesi Wartawan Direndahkan Hotman

SELASA, 21 JULI 2026 | 12:04 WIB

SEBAGAI mantan wartawan, sakit sekali bila profesi itu direndahkan di hadapan publik. Tampaknya, kali ini advokat Hotman Paris Hutapea sudah offside. Jangan mentang-mentang harta melimpah, begitu teganya merendahan profesi wartawan. Walau si lae udah minta maaf, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) tetap lapor polisi. 

Demokrasi tidak mati karena peluru. Kadang, ia terluka oleh satu kalimat meluncur dari mulut orang yang seharusnya paham hukum. Itulah yang terjadi pada Jumat malam, 17 Juli 2026 di Gedung Kejaksaan Agung. 

Saat mendampingi tersangka korupsi Febrie Adriansyah, Hotman Paris Hutapea justru melontarkan kalimat membuat publik mengelus dada kepada seorang wartawan yang sedang bertugas, "Menurut kau gimana? Lu punya otak nggak?"


Kalimat itu mungkin hanya berlangsung beberapa detik, tetapi gaungnya seperti petir menyambar kepercayaan publik. Wartawan datang bukan untuk mencari musuh. Mereka bekerja membawa kamera, mikrofon, dan pertanyaan mewakili hak masyarakat memperoleh informasi. 

Namun yang diterima justru penghinaan di depan umum. Sungguh ironis. Seorang pengacara yang selama ini identik dengan jargon keadilan malah mempertontonkan sikap membuat profesi wartawan terasa diinjak-injak.

Wartawan bukan pengganggu. Mereka bukan musuh negara. Mereka adalah mata dan telinga rakyat. Banyak jurnalis mempertaruhkan keselamatan demi mengungkap fakta. Ada diteror, dipukul, bahkan kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas. Karena itulah, ketika profesi ini direndahkan di ruang publik, kemarahan tidak lagi menjadi milik satu orang. Yang terluka adalah seluruh insan pers.

PWI Pusat pun memilih jalur hukum. Pada 20 Juli 2026, Hotman resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/5291/SPKT/POLDA METRO JAYA. Laporan itu menggunakan Pasal 242 KUHP tentang penghinaan terhadap golongan penduduk dengan ancaman pidana hingga tiga tahun penjara atau denda Rp200 juta. 

Bukti utamanya sederhana, tetapi telak, yakni rekaman video telah menyebar luas. Dewan Pers juga menyatakan penyesalannya atas ucapan dinilai merendahkan profesi wartawan.

Setelah kritik berdatangan dari berbagai arah, Hotman akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui video di Instagram. Ia juga memberikan klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf, termasuk kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Namun persoalannya bukan lagi sekadar meminta maaf. Luka yang ditinggalkan sudah telanjur menyebar. Permintaan maaf dapat meredakan emosi, tetapi tidak otomatis menghapus proses hukum yang sudah berjalan.

Drama ini semakin absurd ketika anak-anaknya sendiri, Frank Alexander Hutapea dan Fritz Paris Hutapea, ikut menunjukkan kekecewaan. 

Mereka mengkritik keputusan sang ayah membela Febrie Adriansyah dan menilai langkah itu lebih menyerupai pencitraan dari perjuangan keadilan. 

Bahkan keduanya sempat berhenti mengikuti akun media sosial ayahnya sendiri. Sebuah ironi yang membuat publik semakin geleng kepala.

Yang paling mengecewakan bukan sekadar ucapan kasar itu. Yang menyakitkan adalah pesan yang ditinggalkannya. Seolah wartawan boleh diperlakukan sesuka hati hanya karena mereka bertanya. Seolah profesi yang menjadi salah satu pilar demokrasi tidak layak mendapat penghormatan.

Tidak ada seorang pun kebal kritik, termasuk wartawan. Namun kritik berbeda dengan penghinaan. Ketika seorang figur publik memilih merendahkan wartawan di depan kamera, yang tercoreng bukan hanya nama pribadinya, melainkan juga wajah penghormatan terhadap kebebasan pers di negeri ini.

Hotman mungkin memiliki deretan mobil mewah, cincin berlian, dan popularitas luar biasa. Namun semua itu mendadak tampak kecil ketika etika runtuh di hadapan publik. 

Yang diingat orang bukan lagi kemewahannya, melainkan satu kalimat membuat jutaan mata kecewa dan satu profesi merasa dilecehkan. Itulah harga mahal dari kesombongan yang dipertontonkan di ruang publik.

Rosadi Jamani
Pemerhati sosial

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya