Berita

Pemain Argentina terlibat perkelahian massal pasca kekalahan mereka di final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. (Foto: Istimewa)

Publika

Untung Argentina Tidak Juara

SENIN, 20 JULI 2026 | 14:33 WIB

SPANYOL sudah pulang membawa trofi emas Piala Dunia 2026. Argentina pulang membawa koper, medali perak, dan duka. Laga memang sudah usai. Namun, ceritanya malah semakin panas. Muncul koleksi video bikin netizen mengucek mata sambil bertanya, "Ini final Piala Dunia atau final Tarkam Piala Pak RT?"

Muncul satu kalimat yang langsung viral. "Untung Argentina tidak juara." Awalnya terdengar sadis. Setelah video demi video bermunculan, kalimat itu berubah menjadi doa bersama.

Sepanjang laga final, Spanyol benar-benar sedang main sepak bola. Penguasaan bola mencapai 65 persen. Total 20 tembakan dilepaskan. Argentina? Cuma dua tembakan. Dua! Itu pun nol mengarah ke gawang. 


Kalau statistik ini dijadikan rapor, guru olahraga mungkin bertanya, "Nak, kamu ikut pertandingan atau ikut piknik?" Karena susah menyentuh bola, akhirnya lebih sering disentuh adalah kaki pemain Spanyol.

Puncaknya terjadi pada injury time babak kedua. Enzo Fernández datang melakukan tekel kepada Pau Cubarsí dengan akurasi luar biasa... luar biasa meleset dari bola. Bolanya selamat. Orangnya yang terbang. Wasit langsung mengeluarkan kartu kuning kedua. Enzo mandi lebih cepat. Argentina bermain sepuluh orang sepanjang babak tambahan.

Kalau ini tarkam, penonton pasti sudah masuk lapangan sambil teriak, "Woi! Main bola, bukan ikut seleksi UFC!"

Tetapi rupanya babak bonus belum selesai. Setelah peluit panjang berbunyi, para pemain Argentina seperti lupa laga telah usai. 

Leandro Paredes diduga mencekik Eric Garcia, melempar Gavi ke tanah, lalu menghantam Rodri. Nahuel Molina ikut terseret dalam kekacauan yang membuat suasana berubah seperti rebutan parkir gratis di pasar malam.

Wasit sampai mengeluarkan kartu merah langsung kepada Paredes akibat violent conduct. Hebat juga. Pertandingannya selesai, tetapi produksi kartu merah tetap jalan. Mungkin target harian belum terpenuhi.

Komentator Joe Hart sampai menyebut aksi itu "disgusting". Itu bahasa Inggris yang sopan. Netizen Indonesia sudah pasti memakai kosakata jauh lebih berwarna. Penghuni Ragunan.

Yang lebih lucu lagi adalah statistik sepanjang turnamen. Sampai perempat final, Argentina tercatat melakukan 59 pelanggaran, tetapi hanya memperoleh tiga kartu kuning. Artinya satu kartu baru keluar setelah hampir 19,7 pelanggaran. Rasio yang bikin tim lain ingin mengajukan proposal penelitian ke FIFA.

Bandingkan Inggris yang rata-rata sekitar 7,7 pelanggaran sudah langsung dikartu. Argentina seperti pelanggan premium. "Paket Hemat Pelanggaran. Beli 20 foul, bonus satu kartu." Mungkin ada benarnya “Argentina anak emas FIFA.”

Tak heran kritik datang dari berbagai arah. Banyak menilai Argentina terlalu sering memakai dark arts, tactical fouls, mengganggu ritme permainan, tetapi hukumannya terasa sangat murah. 

Saat menghadapi Mesir muncul kontroversi keputusan wasit. Ketika melawan Swiss, insiden melibatkan Breel Embolo juga memicu perdebatan soal sportivitas. Semakin jauh turnamen berjalan, semakin sering video pelanggaran Argentina berseliweran memenuhi media sosial.

Yang viral bukan operan satu-dua. Bukan juga tendangan salto. Bukan penyelamatan kiper. Melainkan tekel, dorongan, cekikan, keributan, dan drama lebih cocok masuk nominasi Film Aksi Terbaik dari Highlight Piala Dunia.

Lucunya lagi, selama ini Argentina sering membanggakan filosofi "menderita bersama". Di Piala Dunia 2026, filosofi itu naik level menjadi "berantem bersama". Semua kebagian peran. Ada tekel, ada dorong, ada cekik, ada protes. Tinggal kurang satu orang membawa peluit cadangan.

Sementara itu Spanyol tetap santai. Mereka menguasai bola, menciptakan peluang, menjaga emosi, lalu mengangkat trofi. Mereka menang bukan karena lebih galak, melainkan karena lebih waras.

So, ketika netizen berkata, "Untung Argentina tidak juara," itu bukan sekadar ejekan. Sulit membayangkan pesta juara kalau kalah saja sudah seperti adegan penutup sinetron laga. Bisa-bisa seremoni penyerahan trofi berubah menjadi laga tambahan bertajuk "Royal Rumble New Jersey Edition."

Rosadi Jamani
Wartawan senior

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya