Berita

Ilustrasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). (Foto: editing artificial intelligence)

Dunia

Rapuh di Atas Kertas Damai: Ilusi Negative Peace Membelenggu Iran dan Amerika

MINGGU, 19 JULI 2026 | 16:39 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Kesepakatan damai yang sempat terjalin antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dinilai belum menjadi jaminan runtuhnya tembok ketegangan di kawasan Timur Tengah. Hubungan kedua negara tersebut diprediksi bakal tetap membara lantaran akar permusuhan yang mendalam belum pernah benar-benar diselesaikan.

Pengamat Hubungan Internasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Faruq Arjuna Hendroy menilai peluang terwujudnya perdamaian jangka panjang antara Teheran dan Washington masih sangat tipis. Pasalnya, kedua belah pihak sama sekali tidak menggeser posisi politik maupun kepentingan strategis mereka.

“Sebenarnya saya memang agak pesimis perdamaian bisa bertahan panjang, soalnya baik Iran ataupun Amerika tidak mengubah posisi mereka satu sama lain,” ujar Faruq saat dihubungi RMOL, Minggu, 19 Juli 2026.


Merujuk pada teori resolusi konflik, Faruq menjelaskan bahwa situasi yang terjadi saat ini hanyalah negative peace. Artinya, gencatan senjata atau penghentian konflik bersenjata terjadi tanpa menyentuh dan menghilangkan sumber permusuhan yang mendasarinya.

“Jenis perdamaian yang mereka upayakan ini hanyalah negative peace, yaitu yang penting tidak ada konflik saja. Beda dengan jenis perdamaian positive peace yang memang mengatasi permusuhan struktural, mengubah posisi kedua kubu dalam memandang rivalnya masing-masing,” papar Master Candidate of Peace and Conflict Studies dari The University of Queensland ini.

Faruq menambahkan, bara dendam dan sentimen permusuhan di antara kedua negara sebenarnya masih menyala kuat. Hanya saja, impitan kondisi ekonomi dan kebutuhan praktis memaksa mereka untuk duduk bersama di meja perundingan.

“Jadi ya sebenarnya mereka tetap ingin berperang, dendam dan permusuhan apalagi di sisi Iran tetap ada, tapi kebutuhan-kebutuhan pragmatis memaksa mereka untuk berunding. Stok minyak Amerika menipis, sedangkan blokade Amerika di laut Oman juga memukul ekspor Iran,” lanjutnya.

Melihat kondisi tersebut, Faruq menyimpulkan diplomasi yang terjadi saat ini murni didorong oleh kepentingan jangka pendek demi syahwat pragmatis masing-masing negara, bukan sebuah rekonsiliasi yang tulus.

“Jenis perdamaian ini memang lebih cepat tercapai, tapi lebih rentan juga. Karena permusuhan tidak hilang, dan kalau ada poin yang tidak bisa disepakati maka perundingan bisa batal,” pungkas Faruq.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya