Berita

Operasional SPPG dihentikan sementara hingga hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi sistem keamanan pangan selesai pasca dugaan keracunan MBG Bangsalsari Jember. (Foto: Istimewa)

Publika

Baru Dua Hari Masuk Sekolah, 29 Siswa di Jember Keracunan MBG

MINGGU, 19 JULI 2026 | 03:32 WIB

BARU dua hari tahun ajaran baru dimulai. Baru dua hari seragam sekolah kembali harum disetrika, tas baru dipanggul dengan bangga, dan orang tua melepas anak-anak mereka sambil berbisik dalam hati, "Semoga pulang sehat, Nak." 

Namun doa itu kembali pecah sebelum sempat sampai ke langit. Di Jember, harapan kembali tumbang di atas omprengan yang seharusnya menjadi simbol kasih sayang negara.

Lagi. Kata pendek itu terasa lebih menakutkan dari berita apa pun. Karena artinya satu, tragedi yang pernah terjadi ternyata tidak pernah benar-benar selesai.


Padahal semuanya sudah diklaim berubah. Petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) sudah berganti. Evaluasi besar-besaran sudah diumumkan. Pengawasan diperketat. Tata kelola dibenahi. Prosedur diperbaiki. 

Janji-janji baru berhamburan seperti hujan di musim penghujan. Rakyat sempat percaya, bab kelam keracunan MBG telah ditutup rapat. Ternyata yang ditutup hanya halaman beritanya.

Jumat 17 Juli 2026, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari, kembali mencatat luka yang sama. Sebanyak 29 orang; anak TK, siswa SD, balita posyandu, hingga orang tua, menjadi korban keracunan setelah menyantap menu MBG. 

Nasi putih, tempe orak-arik, tumisan, buah anggur, dan telur puyuh. Menu di atas kertas terdengar sederhana dan bergizi, tetapi berubah menjadi tiket menuju ruang perawatan.

Seorang ibu, Siti Munawaroh, ikut menikmati bekal anaknya. Ia mencium aroma tak biasa dari telur puyuh itu. Bau menyengat, seperti sesuatu seharusnya sudah lama dibuang. 

Tak lama kemudian tubuhnya menyerah. Diare hebat, mual, pusing, dan lemas menghantam tanpa ampun. Korban lain mengalami penderitaan serupa. 

Ambulans kembali meraung memecah siang. Puskesmas Sukorejo, Klinik Rowotamtu, hingga Puskesmas Paleran dipenuhi tubuh-tubuh kecil yang seharusnya sedang belajar mengeja huruf, bukan belajar menahan rasa sakit.

Pemandangan itu seperti mengiris hati. Anak-anak yang pagi tadi tertawa di halaman sekolah, sore harinya hanya mampu memeluk perut sambil menangis. 

Orang tua semula menunggu cerita tentang pelajaran pertama, justru menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah penuh kecemasan. Tidak ada lebih pilu dari melihat seorang ibu menggenggam tangan anaknya sambil berharap rasa sakit itu berpindah ke tubuhnya sendiri.

Bukankah ini sudah pernah terjadi?

Kaliwates pernah. Umbulsari pernah. Kini Karangsono menyusul. Seolah tragedi ini hanya berpindah alamat. Sementara akar masalahnya tetap dibiarkan hidup. Yang berubah hanyalah nama desa dan tanggal di kalender. Sisanya terasa seperti naskah lama yang terus diputar tanpa rasa malu.

SPPG Jember Bangsalsari Karangsono, RT 002 RW 007, Dusun Begelenan, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari kini dihentikan sementara. Kata sementara kembali menjadi obat penenang terdengar semakin hambar. 

Sebab masyarakat sudah terlalu sering mendengarnya. Setelah itu biasanya datang evaluasi, rapat, konferensi pers, lalu perlahan semuanya tenggelam hingga kabar keracunan berikutnya kembali muncul.

Inilah ironi yang paling menyakitkan. Program yang lahir dengan nama "Makan Bergizi Gratis" justru berkali-kali menghadirkan trauma bagi anak-anak yang paling membutuhkan perlindungan. Mereka datang ke sekolah membawa mimpi, tetapi pulang membawa infus. Mereka ingin belajar mengejar cita-cita, tetapi lebih dulu dipaksa melawan rasa mual dan sakit perut.

Semoga seluruh korban segera pulih. Namun lebih dari itu, semoga ini benar-benar menjadi tragedi terakhir. Sebab jika setelah pergantian pejabat, evaluasi total, dan segala janji perbaikan, kisah seperti ini masih terus terulang, maka yang sedang sakit bukan sekadar makanan di dalam omprengan. Yang sedang sakit adalah kepercayaan rakyat yang setiap hari semakin kehilangan tenaga untuk berharap.

"Bang, pemilik SPPG itu apa tak belajar dari keracunan sebelumnya. Mestinya sudah tak ada lagi."

"Mereka hanya incar untung. Bodo amat anak orang keracunan."

Rosadi Jamani
Wartawan senior

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya