Berita

Adhie M Massardi. (Foto: RMOL)

Publika

Kepolisian vs Kejaksaan

Ketika Republik Menjadi Rimba

MINGGU, 19 JULI 2026 | 02:15 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

MENYAKSIKAN perseteruan segitiga antara Polri (lewat Kortas Tipidkor), Kejaksaan Agung (dalam lingkaran perkara hukum), dan TNI (sebagai tameng proteksi fisik), semua instrumen penguasaan ilmu modern mendadak kehilangan relevansinya.

Itu sebabnya media massa -- dalam segala bentuknya -- dan media sosial dengan seluruh variannya -- termasuk podcast yang menghadirkan akademisi dan para ahli berbagai disiplin ilmu -- meskipun terdengar nyaring tetapi terasa garing. Menyedihkan.

Kenapa semua ulasan itu menjadi sangat membosankan?


Berikut adalah alasan mengapa ilmu politik, hukum, dan etika gagal menjelaskan peristiwa yang ganjil ini, dan mengapa konsep fabel -- kisah yang menggunakan hewan sebagai tokohnya -- adalah kejujuran radikal yang kita butuhkan:

Ilmu Hukum dan Politik Menjadi Impoten

- Ilmu Hukum Mengasumsikan Kepatuhan: Hukum dan juga hukum tata negara mengandaikan semua lembaga bergerak dalam koridor konstitusi dan checks and balances. Namun, ketika satu lembaga menguntit lembaga lain, dan tentara bersenjata dikerahkan untuk menjaga jaksa dari intaian polisi, pasal hukum tertulis berubah menjadi kertas kosong yang tidak berarti.
- Ilmu Politik Mengasumsikan Ideologi: Ilmu politik menganalisis konflik berdasarkan perbedaan visi, kebijakan, atau representasi rakyat. Perseteruan di internal aparat saat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ideologi kebangsaan, melainkan murni manifestasi dari gesekan instingtif pertahanan teritori kekuasaan.

- Etika Kekuasaan Mengasumsikan Rasa Malu: Etika menuntut adanya kesadaran moral atas dampak publik. Ketika konflik ini dipertontonkan secara vulgar tanpa memedulikan runtuhnya public trust, etika kekuasaan sudah mati.

Antropomorfisme: Menelanjangi "Bahasa Insting"

Ketika teori sosial gagal, pendekatan fabel dengan metode antropomorfisme bekerja dengan sangat akurat karena menangkap hakikat terdalam dari konflik ini: dorongan insting kehewanan.
Jika dituangkan ke dalam naskah fabel yang tajam, peta konflik tersebut dapat dipersonifikasikan sebagai berikut:

- Sang Buaya (Polri): Bergerak secara senyap dari bawah air dengan rahang Kortas Tipikor yang baru dibentuk, mengintai target-target besar di daratan demi menegaskan kembali dominasi teritorinya sebagai predator puncak hukum.

- Sang Harimau (Kejaksaan): Mengandalkan cakar taring penuntutan, mengaum keras menunjukkan tumpukan hasil buruannya, namun mendadak defensif ketika wilayah internalnya mulai diendus oleh pemangsa lain.

- Sang Gajah (TNI): Raksasa yang semula diam di batas hutan, tiba-tiba masuk ke tengah arena persaingan sipil. Ia tidak sedang berburu, melainkan memasang badan menghalangi terkaman sang buaya karena merasa ada kesepakatan-kesepakatan lama di dalam hutan yang mulai diganggu.

Absurditas yang Menjadi Sederhana

Fabel memotong semua retorika diplomatis berupa "sinergitas", "koordinasi", atau "kesalahpahaman oknum" yang sering diucapkan di depan kamera. Melalui pendekatan fabel, masyarakat langsung paham bahwa:
- Ini bukan tentang penegakan keadilan demi rakyat, melainkan tentang siapa yang berhak menguasai wilayah buruan.
- Hukum di tangan mereka tidak lagi berfungsi sebagai panduan moral transenden, melainkan alat gertak antar-predator.

Ketika Republik Menjadi Sahara

Di dalam rimba asli (seperti dalam kisah The Lion King), predator memang saling bersaing, tetapi persaingan mereka dikunci oleh insting batas kebutuhan perut. Harimau tidak akan menghabisi seluruh rusa di hutan hanya karena ia bisa melakukannya. Hukum transenden menjaga mereka tetap seimbang.

Namun, di dalam "Fabel Republik" ini, fungsi penyeimbang itu telah dihancurkan oleh keserakahan manusia. Akibatnya, kita mendapatkan sebuah anomali yang sangat mengerikan:
1. Kematian Fungsi Unsur Ekosistem
- Predator yang Menimbun Mangsa: Sang Buaya, Harimau, dan Gajah tidak lagi berburu untuk sekadar bertahan hidup, melainkan mengumpulkan bangkai (materi dan kuasa) tanpa batas.
- Padang Rumput yang Mati (Rakyat): Ketika para pemangsa puncak ini sibuk saling cakar, mereka menginjak-injak rumput dan merusak sumber air. Rakyat bukan lagi sekadar penonton, melainkan ekosistem yang perlahan-lahan mati kehabisan napas karena habitat hidupnya dihancurkan oleh ego para pelindungnya. Maka Rimba Republik akan berubah menjadi sahara?"gurun panas yang mematikan harapan rakyat.

2. Ketiadaan Penjaga Rimba (The Ultimate Warden)
- Dalam fabel klasik, selalu ada figur "Kakek Penjaga Hutan" atau "Singa Alpa" (seperti Mufasa) yang memiliki otoritas mutlak untuk melerai pertikaian dan mengembalikan ketertiban.
- Maka dalam fabel republik, harus ada yang lekas menyadarkan Simba bahwa ia sudah mendapat kepercayaan (trust) untuk menjadi real The Lion King yang dengan seluruh kekuatan moralnya meredam ambisi para predator itu dan untuk kembali menjaga ekosistem kehidupan di Negara Pancasila.

Ingat, jika di rimba sejati kebuasan hewan melahirkan keseimbangan kehidupan, di rimba kekuasaan kebuasan manusia justru melahirkan pembusukan peradaban. 

Kita tidak sedang menuju tatanan hukum yang maju, melainkan sedang menyaksikan kemunduran evolusi: di mana manusia-manusia berseragam melepaskan akal budinya, kembali ke insting purba, dan perlahan-lahan mengubah republik ini menjadi sepetak tanah tandus yang dikuasai oleh rasa takut.

*Perumus dan Peramu Peradaban

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Ketika Republik Menjadi Rimba

Minggu, 19 Juli 2026 | 02:15

Penerapan Controlled Landfill di Bantargebang Mulai 1 Agustus

Minggu, 19 Juli 2026 | 02:04

Spanduk dan Baliho PSI Lebih Banyak dari Jumlah Kadernya

Minggu, 19 Juli 2026 | 01:39

Warga Pulau Panggang Kekurangan Pasokan BBM

Minggu, 19 Juli 2026 | 01:17

MPLS Ramah Lebih Aman dan Memuliakan Siswa

Minggu, 19 Juli 2026 | 01:06

Jalan Buntu Reformasi

Minggu, 19 Juli 2026 | 01:03

Homer Setelah Tiga Ribu Tahun

Minggu, 19 Juli 2026 | 00:43

Ancaman PHK di Depan Mata, Segera Percepat Penempatan Pekerja Migran ke Luar Negeri

Minggu, 19 Juli 2026 | 00:12

Monumen Cinta Bernama Nurul Izzah

Sabtu, 18 Juli 2026 | 23:41

Pengusaha Didorong Berkontribusi Tingkatkan SDGs Kalbar

Sabtu, 18 Juli 2026 | 23:15

Selengkapnya